jurnalistik.co.id – Kapten Smit Machchhar menjadi pusat perhatian setelah ditikam di kokpit oleh pilot lain saat penerbangan Flydubai menuju Tel Aviv. Pesawat Boeing 737 Max kemudian dialihkan ke Tabuk di Arab Saudi bagian barat laut, sementara kondisi Machchhar disebut stabil menurut pihak kedutaan India.
BBC melaporkan, insiden itu terjadi pada hari Rabu ketika Machchhar bertugas sebagai kapten dalam penerbangan dari Dubai ke Tel Aviv. Di dalam kokpit, seorang pilot lain menyerang dan menembakkan tikaman pada Machchhar selama pesawat berada dalam perjalanan.
Setelah penyerangan, Boeing 737 Max dialihkan ke Tabuk. Machchhar lalu dibawa ke rumah sakit setempat, dan Indian embassy di Riyadh menyampaikan bahwa kondisinya tetap stabil.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Machchhar sebagai “true hero”. Dalam pernyataannya, Netanyahu mengatakan Machchhar menyelamatkan nyawa 174 orang penumpang dan mencegah terjadinya “catastrophic mid-air disaster”.
Pemerintah India juga memberikan pujian kepada Machchhar atas keberaniannya, dengan menyebut ia menunjukkan “immense courage”.
Kenangan sahabat dan panggilan “Smit Mac”
Dharav Gosalia, rekan lama Machchhar, mengaku reaksi pertamanya begitu mengetahui kabar tersebut. “I had goosebumps.” Dua orang ini berteman sejak usia sekitar 20 tahun, ketika mereka menjadi tetangga di Ghatkopar, sebuah kawasan di Mumbai.
Mereka kemudian memulai pelatihan penerbangan bersama di Selandia Baru. Machchhar lebih senior di antara keduanya, dan perjalanan karier mereka sempat beririsan kembali saat bekerja sebagai kolega.
Gosalia menuturkan mereka menghabiskan enam tahun sebagai rekan di SpiceJet, terbang menggunakan Boeing 737. Setelah itu, karier keduanya mengambil arah yang berbeda: Machchhar pindah ke Dubai dan bergabung dengan Flydubai pada 2022, sedangkan Gosalia melanjutkan tugas sebagai penerbang Boeing 777 untuk Air India.
Dalam keseharian, Gosalia menyampaikan mereka tetap berkomunikasi. “We have been in touch with messages. If there are some routes we have to fly, we discuss destinations and family on WhatsApp and phone.”
Gosalia juga mengingat momen pertemuan singkat di udara. Pada 2024, ketika ia terbang menuju London melalui ruang udara Dubai, ia mengenali suara Machchhar di radio. “We greeted each other,” ujarnya.
Namun pada hari Rabu, Gosalia mendengar bahwa Machchhar berada dalam situasi yang sama sekali berbeda. Ia menyebut inti kejadian itu masih menjadi bagian yang akan dipahami lebih jelas setelah data teknis ditelusuri.
Pengalaman terbang dan latihan menghadapi keadaan darurat
Dari cerita Gosalia, Machchhar dikenal sebagai sosok yang menyenangkan sekaligus berdedikasi. Ia menyebut Machchhar “fun guy, gentleman – very brilliant person,” serta menggambarkan karakter yang “Outgoing person, jovial. Very jovial.”
Berita Terkait
- “Overcrowded” dan “set up to fail”: Narapidana yang Dibebaskan Dini Angkat Bicara soal Skema Pelepasan Awal
- Bayi Baru Lahir Ditemukan di Dekat Bangor, Polisi: Diduga Terendam Berminggu-minggu
- Eksekusi gagal Christa Pike di Tennessee: selamat setelah dua suntikan mematikan—apa langkah berikutnya?
Gosalia mengatakan mereka biasa bertemu saat transit di kota-kota seperti Milan dan Bangkok. Saat kembali ke Mumbai, mereka juga meluangkan waktu bermain “tennis-ball cricket”.
Di sisi profesional, Machchhar dikenal membantu penerbang yang lebih muda. Ia mengajar rekrutan dan meneruskan pelajaran yang pernah ia dapatkan. Gosalia menekankan kedisiplinan Machchhar sebagai bagian dari pembentukan cara bertugas.
“He was a very disciplined flier,” kata Gosalia. Ia menuturkan kedisiplinan tersebut dibentuk melalui pelatihan bertahun-tahun, termasuk dari mantan pilot Angkatan Udara India yang kemudian beralih ke penerbangan komersial.
Pelatihan itu, menurut Gosalia, memberi fokus serta menanamkan disiplin. “That training gives you more focus, more discipline, and more focus on motor skills,” ujarnya.
Gosalia juga menjelaskan salah satu bagian latihan yang ia sebut dikenal di kalangan pilot sebagai “chair flying”. Latihan ini dilakukan dengan berlatih prosedur darurat ketika duduk, sambil secara mental menjalankan urutan tindakan dan menggerakkan tangan ke posisi sakelar serta kontrol yang relevan di kokpit.
Tujuannya, menurut penjelasan Gosalia, membuat gerakan menjadi naluriah ketika situasi berjalan buruk dan waktu untuk berpikir sangat terbatas. “The idea is to make those movements instinctive when something goes wrong and there is little time to think.”
Mengacu pada profil LinkedIn Machchhar, Gosalia menyebut kapten itu memiliki lebih dari 9,750 jam pengalaman terbang, termasuk lebih dari 6,400 jam sebagai pilot-in-command. Pengalaman seperti itu menjadi modal ketika harus mengambil keputusan di bawah tekanan yang tidak biasa.
Gosalia mengatakan urutan peristiwa pada hari Rabu akan makin jelas setelah analisis data penerbangan dan rekaman kokpit dilakukan. Tetapi apa pun yang terjadi di dalam kokpit, ia menilai Machchhar harus mengelola situasi tersebut sebagai pemimpin penerbangan.
“What happened to him, what he did – he was the commander on the flight,” kata Gosalia. Ia mengaitkan kemampuan mengambil keputusan itu dengan prosedur standar yang sudah dikenal pilot.
Menurut Gosalia, untuk situasi seperti kegagalan mesin, kebakaran, atau hilangnya tekanan kabin, terdapat prosedur yang lazim. Namun, tidak ada checklist konvensional yang dirancang untuk menghadapi kondisi ketika seseorang berusaha melumpuhkan kapten dari dalam kokpit.
Di bagian ini, Gosalia menegaskan peran keberanian. “How much courage plays a role? A lot,” ujarnya. “This was a threat to life.”
Pelajaran keberanian yang ingin diteruskan
Lebih dari sekadar kejadian yang mengejutkan, Gosalia mengatakan dampak insiden itu begitu dalam karena menunjukkan bahwa keberanian bisa menjadi penentu. Ia menyampaikan bahwa Machchhar telah meninggalkan pelajaran yang akan mereka bawa dalam profesi mereka.
“Smit has taught us courage. Now we will do the same thing if something like this happens.”
