Hukum & Kriminal

Keluarga Stacy Hunter melihat tanda kekerasan domestik, tetapi tak tahu cara melindunginya sebelum Jim Mair membunuh

×

Keluarga Stacy Hunter melihat tanda kekerasan domestik, tetapi tak tahu cara melindunginya sebelum Jim Mair membunuh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: We saw signs of domestic abuse, but we didn't know how to protect Stacy

jurnalistik.co.id – Keluarga Stacy Hunter mengatakan mereka sudah melihat tanda-tanda kekerasan domestik sejak lama, tetapi tidak tahu langkah yang tepat untuk melindungi Stacy sebelum tragedi berujung pembunuhan.

Menurut keterangan keluarga, Jim Mair—suami yang telah berpisah secara hubungan—mengendalikan jalannya kehidupan Stacy dengan cara yang membuatnya sulit melawan situasi tersebut.

Kakak Stacy, Sean Hunter, menyebut ia ingin ikut campur dan membantu, namun juga khawatir pendekatannya bisa terlalu “full on” dan justru menambah risiko bagi Stacy.

Ibu Stacy, Ann Hunter, mengaku ingin berada dekat untuk memberi dukungan serta membantu mengurus cucu-cucunya. Namun, Ann juga takut Mair akan menafsirkan kehadirannya sebagai upaya “interfer” atau mengganggu.

Ann menuturkan Mair pernah berkata: “He can take that away from you and make it harder to be in touch”.

Dalam pandangan keluarga, bentuk kendali Mair tidak selalu dilakukan dengan kontak fisik langsung terhadap Stacy, tetapi terwujud melalui tekanan psikologis dan tindakan lain di lingkungan rumah.

Mereka mengatakan Mair “dictated” apa yang terjadi dalam kehidupan Stacy, memakai tiga anak mereka sebagai leverage, mengancam bunuh diri, dan meluapkan tempernya lewat kerusakan barang di rumah tanpa menyerang Stacy secara langsung.

Ketika Stacy—yang berusia 35 tahun—berusaha meninggalkan pernikahan, keluarga melaporkan kekerasan Mair justru menjadi lebih nyata dan meningkat.

Last month, Mair membunuh Stacy di rumah mereka dekat Houston. Jenazah Mair ditemukan di samping jenazah Stacy.

Tiga minggu sebelumnya, ia pernah muncul di pengadilan dengan tuduhan melakukan pembunuhan dengan cara mencekik Stacy, lalu dibebaskan dengan jaminan (bail).

Keyakinan keluarga bahwa sistem tak cukup mencegah

Ann menyatakan sistem “absolutely” gagal melindungi Stacy, sosok yang menurut keluarganya merupakan “strong, independent woman” dan sangat berdedikasi kepada orang-orang yang ia sayangi.

Keluarga berharap ada langkah pencegahan yang lebih tegas, terutama ketika tanda-tanda kekerasan sudah terlihat jelas. Mereka merasa intervensi otoritas dapat mengurangi tekanan yang harus ditanggung Stacy saat memutuskan untuk memisahkan diri.

Sean dan Ann juga menggarisbawahi bahwa keluarga tidak selalu mengetahui apa yang benar-benar dialami Stacy dari hari ke hari.

Sean mengakui ia sendiri pernah berpikir “just leave”, tetapi ia menegaskan keputusan itu tidak sesederhana yang terlihat dari luar.

Ia menyebut Stacy menghadapi situasi yang saling bertentangan dan rumit, termasuk rasa takut bahwa pihak yang seharusnya melindunginya justru berbahaya, serta ketakutan karena penilaian dari orang-orang di luar relasi rumah tangga.

Sean berkata, “If somebody is controlling, when that creeps in, it’s probably going to be very difficult to get out of that situation,” sebelum menambahkan bahwa mereka menyaksikan pola itu dalam periode waktu yang panjang.

Ia melanjutkan, “I think that’s what we witnessed over a long period of time, but… it’s hard to know what you can do. Because you don’t want to get fully into other people’s business – their family, household and everything else.”

Ann menambahkan bahwa keputusan Stacy juga dipengaruhi kebutuhan menstabilkan kehidupan anak-anaknya. Menurut Ann, Stacy ingin menjaga anak-anak tetap tinggal di rumah mereka, mengikuti rutinitas, serta bersekolah di lingkungan yang sama bersama tetangga, teman, dan hewan peliharaan.

Ann menuturkan, “She wanted to keep them in their own home, in their own routine, with their own school, neighbours, friends, the animals around them,” dan menyebut Stacy merasa “why should she run?”.

Meski tetap takut, Ann mengatakan Stacy merasa ada bentuk perlindungan ketika anak-anak berada di sisinya.

Mengoreksi miskonsepsi kekerasan domestik

Dalam penjelasannya, Women’s Aid menyinggung berbagai miskonsepsi tentang kekerasan domestik yang menurut mereka dapat membuat orang salah paham. Salah satu gagasan yang dikritik adalah anggapan bahwa kekerasan hanya dilakukan oleh “bad people”, padahal persoalan tersebut juga terkait sikap seksisme yang lebih luas dalam masyarakat.

Mereka juga menyebut mitos seperti “it always involves physical violence” dan keyakinan bahwa “if it was that bad, she’d leave” tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang dihadapi korban.

Kampanye “Stacy’s law” dan usulan pemantauan GPS

Kasus Stacy disebut memberi dampak pada komunitasnya. Seorang penyintas kekerasan domestik, Lynne McKenzie, yang tinggal beberapa mil dari cottage yang terpencil tempat Stacy dibunuh, memulai kampanye untuk “Stacy’s law”.

Petisi yang didukung keluarga Stacy meminta agar pelaku kekerasan domestik berisiko tinggi—atau tersangka—yang dilepas dengan bail, menjalani pemantauan lokasi menggunakan peralatan GPS.

Langkah itu, menurut petisi, dapat mencakup penetapan zona pengecualian di sekitar rumah atau tempat kerja korban yang dinilai secara individual, serta peringatan otomatis yang memicu respons kepolisian ketika syarat dilanggar.

Sejumlah kritik sebelumnya diarahkan kepada menteri Skotlandia terkait lambatnya penerapan sistem GPS. Disebutkan penggunaan peralatan ini jauh lebih terbatas di Skotlandia dibanding beberapa negara lain.

Mike Nellis, profesor emeritus kejahatan dan keadilan komunitas di University of Strathclyde serta pakar terkemuka terkait pemantauan elektronik di Inggris, menilai sistem seperti itu “perfectly feasible” untuk diperkenalkan.

Namun, ia juga memberi peringatan bahwa tak ada sistem yang sepenuhnya bebas dari kegagalan. Ia menegaskan pernah ada pelaku yang tetap berhasil melakukan kekerasan, meski pemantauan elektronik dijalankan.

Nellis berkata, “I think probably every jurisdiction that has used it has at one point in time had an offender who still managed to assault, injure or kill the victim.”

Pemerintah Skotlandia menyatakan sedang mendengarkan korban serta organisasi pendukung, dan akan mempertimbangkan petisi secara saksama.

Penekanan pada tanda dan perlindungan nyata

Sean dan Ann kini menganggap kematian Stacy sebagai konfirmasi bahwa “signs [of abuse] are real and need to be addressed”.

Pengadilan sebelumnya memerintahkan Mair untuk tidak mendekati Stacy. Akan tetapi, Ann menilai peringatan apa pun yang diterima Mair tidak akan mengubah sikapnya.

Ann mengatakan, “There was nothing in place to deter him or make him think about it, of consequences, no fear,” serta menambahkan, “It was only a piece of paper in the end to him and someone telling him not to do it. With his coercive and controlling behaviour, he wouldn’t listen to it.”

Ann dan Sean dijadwalkan bertemu First Minister pada hari Kamis untuk membahas apa yang bisa dilakukan agar perempuan dalam situasi serupa mendapat dukungan yang lebih baik.

Kirsten Oswald, menteri korban di Skotlandia, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Stacy. Ia juga menekankan peran pemerintah dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, sekaligus menyebut perubahan jangka panjang menuntut keterlibatan semua pihak.

Oswald berkata, “As the first minister has made clear, government has a vital role to play in tackling violence against women and girls, but lasting change requires all of us to play our part.” Ia menambahkan, “Men, in particular, must challenge sexism, confront abusive behaviour and help create a culture where every woman and girl can live free from violence, abuse and fear.”

Ia juga menyatakan, “While decisions on bail and remand are always a matter for the independent court, bail can be electronically monitored.”

Di tengah upaya perubahan itu, keluarga Stacy kini lebih memilih agar ia diingat dengan nama keluarga sebelum menikah, Hunter, ketimbang nama suaminya, Mair.