Hukum & Kriminal

Peringatan darurat ponsel soal kebakaran hutan dinilai bikin korban kekerasan domestik berisiko

×

Peringatan darurat ponsel soal kebakaran hutan dinilai bikin korban kekerasan domestik berisiko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Emergency alert put domestic abuse victims at risk, campaigners say

jurnalistik.co.id – Peringatan darurat yang dikirim pada Jumat malam di Inggris dan Wales menuai sorotan setelah dinilai berpotensi menempatkan korban kekerasan domestik dalam situasi berisiko. Kampanye dan penyintas menilai, cara penyampaian yang mendadak membuat sebagian orang sulit melindungi ponsel cadangan yang selama ini dipakai untuk mencari pertolongan.

Notifikasi tersebut, yang menyala dan berbunyi pada jutaan perangkat, menyertakan label “severe alert” serta menyampaikan adanya “very high risk of wildfires nationally” terkait kebakaran hutan. Peringatan itu muncul sekitar pukul 19:00 BST pada Jumat, dan menjadi yang terbesar dalam penggunaan sistem peringatan darurat pemerintah sejauh ini.

Isi peringatannya juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan pemanggang barbekyu sekali pakai, menahan diri dari api terbuka, serta menghindari penggunaan kembang api. Perdana Menteri Andy Burnham kemudian meminta publik untuk menanggapi peringatan tersebut dengan serius.

Alarm yang mengejutkan, tanpa jeda persiapan

Kritik utama datang dari anggapan bahwa sebagian besar warga menerima peringatan tanpa informasi pendahuluan yang memadai. Sejumlah pihak menilai, ketika belum ada pemberitahuan sebelumnya, tidak banyak ruang untuk melakukan langkah pengamanan, terutama bagi mereka yang harus menyembunyikan perangkat komunikasi di situasi kekerasan domestik.

Di sisi lain, juru bicara pemerintah menyatakan peringatan dikirim “after a direct request from fire and rescue services”. Pemerintah juga menyebut sedang bekerja bersama organisasi bantuan kekerasan domestik untuk kebutuhan pengujian sistem.

Sebaliknya, acara siaran dan rilis resmi yang sempat dimuat oleh Kantor Kabinet (Cabinet Office) sekitar pukul 18:45 pada Jumat dikatakan tidak sempat dijangkau banyak pihak, sehingga persiapan publik dinilai terlalu singkat. Ini kemudian dipandang berpotensi mengganggu upaya korban yang berusaha mencari jalan keluar atau menghubungi layanan dukungan tanpa diketahui pelaku.

“Second phone” dan kekhawatiran keselamatan korban

Women’s Aid, organisasi nasional yang berupaya mengakhiri kekerasan domestik, menyerukan agar pemerintah memberi peringatan lebih awal bila memungkinkan. Veronica Oakeshott, kepala urusan eksternal organisasi tersebut, mengatakan penyintas sering menggunakan ponsel kedua untuk mengakses dukungan penyelamatan atau melarikan diri dari kekerasan.

Oakeshott menegaskan pentingnya perangkat itu tetap tersembunyi. Ia lantas mengimbau pemerintah untuk memberi peringatan kepada publik bahwa alert mungkin akan dikeluarkan, ketika situasi memungkinkan.

Seorang penyintas, Padua Eaton (29), menyampaikan reaksi yang berawal dari rasa cemas ketika notifikasi muncul di perangkatnya. Ia menyatakan di banyak relasi kekerasan domestik, ponsel kedua bersifat rahasia agar tetap bisa berkomunikasi dengan teman atau profesional, dan peringatan seperti ini berpotensi langsung memberi tahu pelaku.

Eaton juga menilai pemerintah seharusnya lebih terbuka, serta menegaskan bahwa persiapan kepada pers hanya 15 menit sebelum peringatan berbunyi dinilainya sebagai perencanaan yang buruk. Ia menyebut seharusnya ada langkah lain untuk memberi tahu masyarakat tanpa harus bergantung pada alarm dalam tenggat sedemikian singkat.

Menurutnya, perlu dipertimbangkan pemberitahuan yang lebih senyap. Eaton menambahkan kekhawatiran bahwa jika peringatan menjadi sering terjadi, korban bisa merasa tidak lagi aman menyimpan ponsel cadangan yang sebelumnya membantu mereka mencari pertolongan.

Keprihatinan serupa disampaikan Maggie Evans, direktur layanan lini depan pada organisasi pencegahan kekerasan Hourglass. Evans mengatakan tidak ada peringatan yang bermakna sebelumnya bagi organisasi bantuan domestik di lini depan, dan tidak ada panduan keselamatan yang ditargetkan untuk para korban. Ia menekankan bahwa keselamatan publik yang efektif harus selalu dibangun di atas perlindungan yang tepat (safeguarding).

Evans juga meminta pemerintah berkonsultasi terlebih dahulu dengan organisasi yang mendampingi kelompok paling rentan sebelum peringatan darurat berikutnya dikeluarkan.

Perdebatan soal ambang risiko dan respons pemerintah

Selain soal keselamatan korban, sebagian pihak juga mempertanyakan kebutuhan peringatan tersebut. Julian Jessop, fellow Institute of Economic Affairs, menyampaikan bahwa ambang “very high” untuk mengirim notifikasi dinilai tidak tercapai, dan ia tidak yakin bahwa risiko terhadap nyawa adalah hal yang segera terjadi di setiap wilayah.

Di sisi lain, Frazer Rhodes, salah satu perancang sistem peringatan darurat, mengatakan peringatan terbaru “really has divided opinion”. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan kriteria kapan peringatan akan digunakan dan kapan tidak.

Pemerintah juga memberi konteks operasional. Juru bicara menambahkan bahwa pada hari Jumat saja, tim penanganan menangani 43 kebakaran hutan, dengan 11 insiden besar yang dinyatakan, hingga sumber daya berada pada batas kemampuan dan memerlukan dukungan militer. Pemerintah kemudian mengimbau masyarakat mengikuti saran keselamatan kebakaran untuk melindungi orang dan properti.

Peringatan tersebut muncul setelah rangkaian kebakaran hutan, termasuk kebakaran yang menghancurkan 19 rumah di Stourbridge, West Midlands, pada Kamis. Dalam laporan, disebutkan pula bahwa pejabat senior sempat membahas apakah peringatan akan dikirim beberapa jam lebih awal pada Jumat pagi.

Adapun terkait biaya, menteri sebelumnya menyebut sistem peringatan darurat akan menelan biaya hingga £25,3 juta dalam tiga tahun pertama. Pemerintah juga menegaskan bahwa peringatan darurat disarankan tetap dinyalakan karena berisi informasi yang berpotensi menyelamatkan nyawa, dan notifikasi ini dapat mengesampingkan pengaturan diam atau “do not disturb” pada ponsel.

Bagi pengguna yang perlu melakukan penyesuaian seperti untuk menyembunyikan ponsel cadangan, pemerintah menyebut terdapat panduan untuk perangkat iPhone, Android, dan perangkat lain di situs resmi mereka. Namun, bagi penyintas dan lembaga pendamping, inti perdebatan tetap sama: bagaimana menjaga keamanan tanpa mengorbankan kerentanan orang-orang yang harus hidup dalam situasi teror.