Hukum & Kriminal

Pengadilan Lisburn: Perempuan Diduga Disetrum, Diperkosa, dan Dianiaya Eks Pasangan

×

Pengadilan Lisburn: Perempuan Diduga Disetrum, Diperkosa, dan Dianiaya Eks Pasangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lisburn Magistrates' Court: Woman allegedly tasered, raped and beaten by ex-partner

jurnalistik.co.id – Lisburn Magistrates’ Court menggelar persidangan khusus yang membahas dugaan kekerasan seksual dan penganiayaan terhadap seorang perempuan oleh mantan pasangannya. Dalam sidang tersebut, seorang pria yang berada di usia 40-an didakwa melakukan sejumlah tindak pidana, sementara identitas perempuan dijaga kerahasiaannya.

Pria itu didakwa dengan dua dakwaan pemerkosaan, tiga dakwaan tindakan pelecehan seksual, serta ancaman untuk membunuh. Ia juga menghadapi dakwaan strangulasi yang tidak berakibat fatal (non-fatal strangulation), masuk tanpa izin sebagai pelaku trespass untuk melakukan pemerkosaan, dan dakwaan penyerangan yang menyebabkan cedera fisik nyata (actual bodily harm).

Pengadilan mendengar bahwa terdakwa pernah mendatangi rumah perempuan tersebut pada dua kesempatan sebelumnya. Pada salah satu kesempatan itu, ia datang membawa pemukul bisbol, namun laporan menyebut kedatangannya “ditandai sebagai perkara domestik”.

Pada 14 Agustus, seorang detektif constable menyampaikan bahwa staf di Ulster Hospital menghubungi polisi. Mereka melaporkan bahwa perempuan tersebut datang dengan luka yang signifikan, lalu perempuan itu menyatakan cederanya disebabkan oleh mantan pasangannya yang juga berada di rumah sakit.

Petugas kemudian mendatangi lokasi dan mendengar keterangan dari perempuan tersebut. Perempuan itu mengatakan ia sedang tidur ketika kemudian terbangun dan mendapati terdakwa sudah berada di dalam kamar, setelah diduga membobol masuk ke rumah.

Menurut keterangan korban di persidangan, terdakwa membawa sebuah taser. Ia diduga melakukan kekerasan fisik dan menyerang korban menggunakan taser tersebut.

Perempuan itu juga menyatakan bahwa terdakwa mengancam untuk membunuhnya. Korban mendeskripsikan terdakwa menutup mulutnya dengan tangan sebelum kemudian memperkosanya sebanyak dua kali.

Pengadilan juga mendengar bahwa ketika terdakwa menyetujui untuk mengantar korban ke rumah sakit, kejadian berhenti sejenak di sebuah ruas jalan. Korban mengaku terdakwa kemudian membuang taser di lokasi tersebut, dan taser itu selanjutnya berhasil dipulihkan oleh pihak kepolisian.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami hidung patah serta memar pada wajah dan lehernya. Tanda-tanda luka inilah yang kemudian dilaporkan ke polisi melalui rumah sakit.

Di hadapan pengadilan, pihak penuntut menjelaskan bahwa terdakwa ditangkap di rumah sakit. Ia juga memberikan pernyataan yang telah dipersiapkan sebelumnya, yang pada intinya menerima bahwa ia masuk ke rumah.

Namun, terdakwa menolak dakwaan-dakwaan tersebut. Ia bersikeras bahwa semua tindakan yang dituduhkan terjadi atas dasar persetujuan (consensual), meskipun pengadilan mencatat bahwa terdakwa tidak dapat menjelaskan secara memadai asal-usul cedera yang dialami korban.

Keberatan soal jaminan dan penilaian risiko

Ketika membahas permohonan jaminan (bail), detektif mengajukan keberatan dengan menekankan adanya eskalasi yang signifikan. Ia menyebut bahwa terdakwa melakukan pelanggaran trespass di properti perempuan tersebut dengan menggunakan taser, sekaligus melakukan pemerkosaan dan penyerangan.

Detektif juga menyinggung laporan sebelumnya. Ia mengatakan korban pernah melaporkan bahwa terdakwa masuk ke area propertinya pada dini hari 19 Juli sambil membawa pemukul bisbol. Tiga hari setelahnya, korban kembali melaporkan terdakwa datang lagi.

Dalam pemeriksaan lanjutan, hakim Natasha Fitzsimmons menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan atas laporan tersebut kepada polisi. Detektif menjawab bahwa terdakwa telah diajak berbicara oleh petugas, dan menurut detektif terdakwa tidak mengindahkan arahan yang disampaikan.

Hakim kemudian menegaskan pertanyaan lebih spesifik mengenai apakah terdakwa pernah dikenai dakwaan setelah percakapan tersebut. Detektif menyatakan tidak ada dakwaan yang diajukan, karena kasus itu pada waktu itu “ditandai sebagai perkara domestik”.

Hakim juga mengaitkan keterangan tersebut dengan dugaan rangkaian peristiwa. Ia menyatakan bahwa ketika terdakwa masuk dengan pemukul bisbol, pihak kepolisian hanya berbicara kepada terdakwa. Detektif mengonfirmasi pandangan tersebut.

Pihak pembela kemudian menyampaikan bahwa terdakwa adalah “calon yang masuk akal untuk memperoleh jaminan”, dengan alasan tidak ada catatan kekerasan atau kekerasan dalam rumah tangga. Namun, hakim menolak permohonan tersebut.

Dalam penolakan itu, hakim Fitzsimmons menekankan bahwa terdakwa sebelumnya sudah pernah dibicarakan oleh polisi setelah korban mengaku terdakwa datang ke rumahnya tanpa diundang, tidak hanya sekali tetapi dua kali. Hakim menyebut bahwa pada salah satu kesempatan itu, terdakwa datang dengan pemukul bisbol.

Hakim menyatakan bahwa meskipun terdakwa telah menerima peringatan dan pembicaraan tersebut, ia diduga kembali masuk ke rumah korban serta menyebabkan cedera yang signifikan. Hakim juga menilai dakwaan pemerkosaan yang digambarkan sebagai tindakan yang sangat kejam turut menjadi faktor penolakan jaminan.

Hakim menyimpulkan bahwa tidak ada syarat jaminan yang memadai untuk mengelola risiko yang dinilai berhubungan dengan dakwaan-dakwaan tersebut. Keputusan ini membuat terdakwa tetap harus menjalani proses hukum tanpa jaminan pada tahap yang sedang berjalan.

Terdakwa dijadwalkan untuk kembali menghadap pengadilan melalui konferensi video pada 7 September.