jurnalistik.co.id – Sidang permohonan pembebasan bersyarat terbaru Jon Venables akan digelar secara tertutup. Parole Board memutuskan demikian meski ada permintaan dari ibu korban, Denise Fergus, agar prosesnya dibuka untuk publik.
Venables, yang kini berusia 44 tahun, meminta parole setelah menjadi salah satu terpidana dalam kasus pembunuhan James Bulger. Sebagai bagian dari prosedurnya, pihak yang menangani parole akan mendengarkan perkara ini dalam sidang lisan yang berlangsung lebih dari dua tahun sejak upaya terakhirnya.
Fergus sebelumnya menuntut agar sidang dapat diakses publik. Ia beralasan bahwa “misinformation” mengenai kasus tersebut berpotensi menimbulkan “retraumatising impact” baginya, sehingga keterbukaan dianggap perlu untuk menekan dampak dari informasi yang beredar.
Dalam praktiknya, sidang Parole Board umumnya dilakukan secara tertutup. Namun, panel menyebut sidang bisa dibuat publik jika “in the interests of justice”. Sejumlah organisasi media juga mengajukan permohonan agar dengar pendapat tersebut dibuka untuk khalayak.
Meski permintaan itu muncul, Parole Board tetap menolak. Dalam pertimbangannya, panel menyatakan bahwa sidang terbuka akan membuatnya “very difficult for Jon Venables to give evidence”. Alasan yang diberikan adalah kemungkinan Venables merasa ia “being listened to by people who are seeking to get information so that they can kill him”.
Keputusan ini beriringan dengan catatan bahwa pada 2023, Parole Board pernah menolak permohonan yang diajukan Venables. Saat itu, panel menyimpulkan bahwa ia masih dianggap menimbulkan bahaya bagi anak-anak dan berpotensi melakukan pelanggaran serupa di masa mendatang.
Riwayat kasus dan masa penahanan Venables
Venables dipenjarakan bersama Robert Thompson setelah keduanya, saat itu berusia 10 tahun, menculik James Bulger dari sebuah pusat perbelanjaan di Bootle, Merseyside, pada Februari 1993. Setelah peristiwa tersebut, kasus berujung pada hukuman penjara bagi Venables.
Berita Terkait
Venables kemudian mendapat pelepasan dengan syarat pada Juli 2001, setelah menjalani masa tahanan terkait pembunuhan tersebut. Namun, ia kembali dipanggil ke penjara pada Februari 2010 setelah ditemukan konten gambar tidak senonoh terkait anak di komputer miliknya.
Setelah itu, Venables dibebaskan lagi pada Agustus 2013. Akan tetapi, pada November 2017 ia dipanggil kembali untuk menghadapi proses terkait pelanggaran yang sama, sementara hakim parole mempertimbangkan perkaranya lagi pada September 2020.
Hak hadir korban dalam sidang tertutup
Selain mempertimbangkan permintaan publikasi sidang, proses parole juga berkaitan dengan akses pihak korban. Pada periode perubahan kebijakan yang diberlakukan secara nasional pada April, korban diberi kesempatan untuk menghadiri sidang parole yang diselenggarakan tertutup.
Denise Fergus sebelumnya menyatakan bahwa permohonannya agar bisa mengamati jalannya sidang telah dikabulkan. Dengan kerangka reformasi tersebut, perhatian diarahkan pada bagaimana kehadiran korban tetap dimungkinkan meski persidangan tidak dibuka untuk umum.
Keputusan Parole Board untuk menjaga sidang dalam kerangka tertutup pada akhirnya menutup kesempatan bagi publik untuk menyaksikan langsung proses sidang lisan yang menjadi bagian dari pertimbangan atas permohonan parole Venables. Di tengah polemik seputar informasi yang beredar, panel tetap menegaskan pertimbangannya pada keamanan dan kemungkinan tekanan terhadap pihak yang memberikan keterangan.
Sidang lisan tersebut menjadi tahap penting dalam proses pengambilan keputusan, karena panel parole harus menilai permohonan Venables setelah penilaian sebelumnya. Meski penolakan publikasi mendapat sorotan, mekanisme persidangan tertutup tetap diposisikan sebagai bagian dari prosedur yang dirancang untuk menjaga keamanan pihak terkait, termasuk saat Venables memberikan keterangannya.
Dalam penolakan yang disampaikan, Parole Board tidak hanya mengacu pada permohonan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan rekam penilaian pada tahun sebelumnya. Pada 2023, panel sempat menyimpulkan bahwa Venables masih dipandang membawa risiko terhadap anak-anak dan berpotensi mengulangi pelanggaran serupa, sehingga kehati-hatian atas dampak sidang ikut menjadi pertimbangan berkelanjutan.
Kepentingan korban juga tetap menjadi unsur yang muncul di tengah perdebatan keterbukaan. Sejak perubahan kebijakan pada April, korban diberi ruang untuk hadir dalam sidang parole yang tetap berlangsung tertutup, dan Denise Fergus menyatakan permohonannya untuk mengamati persidangan telah dikabulkan. Dengan demikian, panel berupaya mempertemukan akses pihak yang terdampak dengan pembatasan untuk publik, demi mengurangi risiko tekanan terhadap mereka yang akan memberikan keterangan.







