Bisnis & Ekonomi

RI Punya Potensi Harta Karun Langka, Sempat Dilirik Inggris-Kanada

11
×

RI Punya Potensi Harta Karun Langka, Sempat Dilirik Inggris-Kanada

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Punya Potensi Harta Karun Langka, RI Pernah Dilirik Inggris-Kanada

jurnalistik.co.id – Indonesian Mining Institute (IMI) mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan pertambangan global dari Inggris hingga Kanada sempat menunjukkan ketertarikan untuk menggarap potensi logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia. Minat itu muncul karena besarnya cadangan mineral kritis yang tersimpan sebagai mineral ikutan timah maupun mineral primer di Tanah Air.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menjelaskan, ketertarikan pihak asing tersebut telah dirintis melalui sejumlah penjajakan kerja sama teknologi pengolahan dengan PT Timah Tbk (TINS) sejak beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini rangkaian komitmen itu belum menghasilkan kesepakatan komersial.

“Saya ceritakan rintisan-rintisan kerja sama yang dilakukan oleh PT Timah itu dengan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia untuk mengolah monasit di sana untuk mendapatkan logam tanah jarang, uranium, sama torium itu ada enam kalau enggak salah tetapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang,” ungkapnya dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Menurut Irwandy, salah satu perusahaan yang pernah menjajaki potensi tersebut adalah Less Common Metals (LCM) asal Inggris. Upaya itu disebut sudah berjalan sejak 2018 dan sempat diarahkan untuk memproduksi logam dan alloy berbasis tanah jarang dengan mengambil sampel dari wilayah operasional PT Timah. Meski demikian, kelanjutan proyek itu masih belum jelas.

“Yang pertama itu dengan Less Common Metals dari Inggris, United Kingdom. Tapi ini juga kita belum tahu apakah berlanjut atau tidak, padahal periodenya itu sudah bicara sejak 2018,” paparnya.

Selain Inggris, minat juga datang dari Canada Rare Earth Corporation pada 2021, serta beberapa perusahaan asal Malaysia. Irwandy menambahkan, Indonesia juga pernah memfasilitasi komunikasi dengan Lynas Rare Earths asal Australia, perusahaan yang sebelumnya bernama Lynas Corporation dan telah memiliki pabrik pemurnian di Malaysia, tetapi pembicaraan itu juga belum berujung pada realisasi.

“Kemudian, ada Canada Rare Earth Corporation dari tahun 2021 juga belum ada realisasi apakah jadi. Ada Malaco Mining dari Malaysia ini juga masih penjajakan,” imbuhnya.

Belum adanya perkembangan berarti dalam kerja sama internasional tersebut terutama dipicu tantangan penguasaan teknologi pemrosesan yang sampai sekarang belum mencapai skala ekonomi di dalam negeri. Karena itu, pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) tengah berupaya mencari mitra baru untuk mengoptimalkan hilirisasi mineral strategis tersebut agar tidak berhenti sebagai komoditas ekspor bahan mentah.

“Pak Profesor Brian (Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto) mengatakan kepada saya bahwa akan ada pembicaraan pada waktu itu dengan pihak Jepang. Saya enggak tahu pihak Jepangnya dari mana untuk masalah kerja sama dengan Timah ini,” tutupnya.

Mengenal Logam Tanah Jarang

Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Mineral ini dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi elektron orbital. Kelompok berat cenderung lebih langka dan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok ringan.

“Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan lebih banyak sedangkan yang berat itu lebih langka dan bernilai tinggi serta kemudian berdasarkan sifat magnetik dan kimia yang berbeda,” papar Irwandy.

Di Indonesia, keberadaan LTJ umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Sejumlah mineral yang mengandung LTJ di tanah air antara lain monasit, xenotim, dan zirkon yang banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini juga mengidentifikasi keberadaan cadangan logam tanah jarang tipe primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan ini menjadi perhatian baru karena kadarnya jauh lebih tinggi dibandingkan mineral ikutan dan membuka peluang bagi Indonesia membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

“Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan,” jelas Irwandy.

Berdasarkan data penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ yang sangat tinggi, yakni mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm. Angka itu jauh melampaui kadar di Bangka Belitung yang berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, Sumatera Utara juga disebut memiliki potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm yang berasal dari pelapukan batuan granit.

“Tingkat pasokan yang terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi yang terbesar 31% itu serium. Yang kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen,” tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen disebut menjadi sektor paling strategis karena menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan terus meningkat dari porsi 29% pada 2023 menjadi 41% pada 2034 mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *