Bisnis & Ekonomi

Partai Buruh Diguncang Kudeta Senyap, Posisi Keir Starmer Makin Terancam

6
×

Partai Buruh Diguncang Kudeta Senyap, Posisi Keir Starmer Makin Terancam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kudeta Senyap Hantui PM Inggris, Nasib Keir Starmer di Ujung Tanduk

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Partai Buruh yang kini berkuasa di Inggris dilaporkan tengah diguncang aksi saling sikut dan plot politik internal untuk menggulingkan Perdana Menteri Keir Starmer. Gelombang desakan mundur terhadap sang kepala pemerintahan kian menguat setelah kepercayaan dari para anggota parlemen merosot tajam.

Mengutip laporan Al Jazeera pada Senin (18/5/2026), Starmer kini harus menghadapi kudeta senyap yang bergerak lambat dari dalam partainya sendiri. Situasi itu berpotensi menyeret Inggris ke dalam ketidakpastian kepemimpinan selama berminggu-minggu, sementara oposisi mulai terang-terangan menyerang kemampuan Starmer dalam mengendalikan pemerintahan di London.

“PM telah menunjukkan bahwa dia berada di kantor tetapi tidak memegang kekuasaan,” tegas pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch. Pernyataan itu sengaja menggemakan ucapan mantan kanselir Norman Lamont kepada PM Konservatif John Major pada tahun 1993, yang kerap dikaitkan dengan sejarah panjang perebutan kuasa di politik Inggris.

Namun, Partai Buruh memiliki mekanisme pertarungan internal yang jauh lebih rumit dibandingkan Konservatif. Sejarah mencatat belum pernah ada perdana menteri petahana dari Partai Buruh yang menghadapi tantangan kepemimpinan formal secara langsung karena aturan partai mengharuskan dukungan minimal 20% anggota parlemen untuk memicu pemilihan ulang.

Pembentukan kubu-kubu di dalam partai juga disebut kerap membuat upaya kudeta gagal karena tidak adanya figur yang berani menjadi eksekutor utama. Dalam buku The End of the Party yang mengulas kejatuhan Tony Blair dan Gordon Brown, kepala komentator politik surat kabar The Observer Andrew Rawnsley menulis bahwa Brown “terpecah antara hasratnya yang menggebu-gebu untuk menjatuhkan Blair dan ketakutannya akan konsekuensi jika dirinya terlihat memegang belati di tangannya.”

Rawnsley juga menambahkan bahwa kegagalan beruntun dalam mendepak pemimpin yang tidak populer sering kali dipicu keraguan para menteri senior di saat-saat krusial. “Satu penjelasan adalah ketidakmampuan mutlak dari para pembunuh raja. Ketiga upaya kudeta terhadap Brown – pada musim gugur 2008, musim semi 2009, dan Januari 2010 – semuanya kacau. Para menteri utama tidak mengorganisasi diri dengan kekejaman yang menentukan karena campuran rasa takut, kekhawatiran akan perpecahan yang berdarah, dan asumsi pesimistis bahwa kekalahan tidak dapat dihindari,” tulisnya.

Kekalahan pemilu lokal memicu kepanikan kabinet

Bayang-bayang kegagalan komunikasi politik itu kini kembali menghantui Partai Buruh setelah hasil pemilu lokal pada 7 Mei lalu berakhir sangat buruk. Partai itu kehilangan 1.498 kursi dewan di Inggris, hasil yang memicu kepanikan massal di kabinet karena Starmer dinilai tidak lagi memiliki peluang untuk menang melawan Partai Reformasi pada pemilu mendatang.

Turbulensi politik itu memuncak ketika sejumlah menteri strategis mundur dari kabinet pemerintah pada 14 Mei sebagai bentuk protes terbuka. Dalam surat pengunduran dirinya yang ditujukan langsung kepada Starmer, mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting menulis, “Sekarang sudah jelas bahwa Anda tidak akan memimpin Partai Buruh menuju pemilihan umum berikutnya, dan bahwa para anggota parlemen serta serikat pekerja Partai Buruh menginginkan perdebatan tentang apa yang terjadi selanjutnya menjadi pertarungan ide, san bukan pertarungan kepribadian atau faksionalisme picik.”

Streeting juga mengonfirmasi bahwa dirinya siap bertarung dalam bursa pencalonan pemimpin baru, meskipun belum meluncurkan tantangan formal secara resmi. Di tengah situasi itu, spekulasi soal pengganti Starmer justru mengarah ke figur luar kabinet yang dijuluki media sebagai King of the North, yakni Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham.

Berdasarkan jajak pendapat YouGov terbaru, Burnham menjadi figur paling populer dengan tingkat kesukaan bersih mencapai +4. Angka itu berbanding terbalik dengan Starmer yang merosot ke -46, menandakan jarak popularitas yang sangat lebar di tengah krisis yang melanda Partai Buruh.

Jalan Burnham untuk kembali ke parlemen Westminster pun terbuka setelah anggota parlemen Makerfield, Josh Simons, menyatakan rela mundur demi memberi kursinya kepada sang wali kota. Langkah itu memicu pemilu sela pada 18 Juni mendatang, dan jika Burnham berhasil memenangkan kursi tersebut, para menteri meyakini proses transisi kekuasaan di Downing Street akan berlangsung sangat cepat tanpa hambatan berarti.

“Jika Andy memenangkan Makerfield dia akan digotong tinggi-tinggi ke ruang minum Westminster di atas pundak para anggota parlemen Partai Buruh. Sama sekali tidak ada ruang di mana dia tidak memenangkan kepemimpinan sehingga ini harus menjadi sebuah penobatan – karena hal terakhir yang kita butuhkan adalah pertarungan keprimpinan yang merusak,” kata seorang menteri kabinet Partai Buruh yang tidak ingin disebutkan namanya.

Meski demikian, selama proses pemilu sela berjalan, posisi pemerintahan Inggris dipastikan tetap terombang-ambing tanpa arah akibat hilangnya legitimasi sang pemimpin. Editor politik ITV News Robert Peston menilai keadaan itu sudah membuat Starmer menjadi sosok yang tidak lagi memiliki pengaruh kuat di pemerintahan.

“Waktu dan cara keluarnya sekarang berada di bawah kendali peristiwa, yang membuatnya menjadi perdana menteri bebek lumpuh ( lame duck ) yang ucapannya tentang kebijakan nyaris tidak akan terdengar di tengah bisingnya spekulasi tentang bagaimana dan kapan dia akan pergi,” tulis Peston melalui platform Substack miliknya. Dengan tekanan internal yang terus membesar, masa depan Starmer kini benar-benar berada di ujung tanduk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *