Internasional

Banjir bandang kilat Nepal, korban jiwa dikhawatirkan membengkak

×

Banjir bandang kilat Nepal, korban jiwa dikhawatirkan membengkak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nepal flash floods: Heavy casualties feared

jurnalistik.co.id – Banjir bandang kilat melanda wilayah Rasuwa di utara Nepal pada Rabu dini hari, meluapkan desa-desa dan merusak berbagai infrastruktur, termasuk sebuah bendungan listrik tenaga air. Sejumlah pihak menyatakan korban jiwa dikhawatirkan terus bertambah seiring proses pencarian dan penanganan yang masih berlangsung.

Rasuwa berada di utara ibu kota Kathmandu dan berbatasan dengan kawasan Himalaya di Tibet. Wilayah ini juga terhubung dengan jalur perdagangan utama Nepal bersama China.

Pemerintah setempat meyakini banjir bandang tersebut berkaitan dengan mencairnya salju yang sebelumnya jatuh ke hulu Sungai Bhote Koshi, yang mengalir dari Tibet menuju Nepal. Hasil pencairan itu diduga meningkatkan debit aliran secara tiba-tiba hingga memicu banjir kilat.

Sejumlah distrik di hilir Rasuwa ditempatkan dalam kondisi siaga tinggi. Otoritas juga menyerukan warga yang tinggal di dekat bantaran sungai pada area rentan untuk tetap waspada dan mengambil langkah pencegahan.

Meski kerusakan dianggap berat, masih terlalu dini untuk menilai skala penuh bencana tersebut. Kepala petugas distrik Rasuwa, Narendra Pariyar, menyampaikan bahwa perkiraan rinci belum dapat dilakukan pada tahap awal ini.

Proses evakuasi dan pencarian terus dilakukan. Setakat ini, ada 12 orang yang berhasil diselamatkan, sementara tim berupaya menjangkau lokasi-lokasi yang terisolasi akibat derasnya arus.

Seorang warga negara China yang tinggal di Kathmandu, Yee Liang, juga melaporkan kendala komunikasi terkait keselamatan anggota tim di lokasi. Ia menyampaikan, “Our logistics company has seven container trucks there, all staffed by Nepali employees. We have lost contact with all of them. There is no signal, so we cannot reach anyone,”

Menurut Yee Liang, tidak ada peringatan sebelumnya terkait kejadian tersebut. Ia menambahkan, “As far as I know, there was no warning. There were occasional mudslides and landslides, especially in the rainy season, but this one seems much more serious.”

Perdana Menteri Balendra Shah menyatakan telah mengadakan rapat darurat untuk memantau situasi. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyampaikan bahwa pekerjaan penanganan telah dimulai dengan koordinasi bersama tim medis, pramuka, dan Palang Merah.

Di sisi lain, otoritas menyebut 13 petugas dari pasukan kepolisian bersenjata hilang dari dua pos di wilayah distrik Rasuwa. Mereka juga belum berhasil menghubungi puluhan petugas polisi lainnya yang bertugas di area yang terdampak.

Rasuwa sendiri pernah mengalami banjir mematikan tahun lalu. Saat itu, bencana dipicu oleh ledakan gletser di sisi China perbatasan yang menewaskan 18 orang.

Pejabat setempat mengatakan kepada BBC bahwa skala bencana yang terjadi pada Rabu lebih besar dibanding banjir tahun lalu. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa jumlah korban jiwa bisa meningkat seiring bertambahnya data dari lapangan.

Dengan berbagai infrastruktur yang rusak dan beberapa wilayah mengalami gangguan akses, pencarian korban menjadi prioritas utama. Otoritas terus memperbarui langkah koordinasi, sementara warga di zona rawan diminta tetap mengikuti arahan keselamatan.

Seiring peristiwa ini berkembang, penilaian terhadap luas kerusakan serta dampak terhadap layanan dasar dan komunitas terdampak akan dilakukan secara bertahap. Namun, pada fase awal ini, fokus utama tetap pada evakuasi, pertolongan medis, dan upaya mencari mereka yang belum ditemukan.

Hingga tahap awal ini, otoritas menekankan bahwa upaya penanganan masih berfokus pada respons cepat di lapangan. Koordinasi dilakukan lintas pihak termasuk tim medis, pramuka, dan Palang Merah untuk memastikan pertolongan dapat menjangkau area terdampak secepat mungkin.

Selain kesulitan akses akibat derasnya arus, komunikasi juga dilaporkan terganggu. Yee Liang menyatakan pihaknya kehilangan kontak dengan personel yang mengelola tujuh truk kontainer di lokasi, karena sinyal tidak tersedia sehingga proses penjangkauan tidak bisa dilakukan.

Warga dan pihak terkait juga diminta memahami bahwa penilaian rinci akan dilakukan belakangan. Namun, berdasarkan pengalaman banjir mematikan tahun lalu yang dipicu ledakan gletser di sisi China, kini perhatian diarahkan agar langkah siaga dan evakuasi berjalan lebih ketat di wilayah-wilayah berisiko.