Peristiwa

BMKG: Tsunami Akibat Gempa NTT Setinggi 14 cm hingga Nyaris 1 Meter

×

BMKG: Tsunami Akibat Gempa NTT Setinggi 14 cm hingga Nyaris 1 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Daftar Tsunami Akibat Gempa NTT: Ketinggian 14 Cm hingga Nyaris 1 Meter

jurnalistik.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gelombang tsunami teramati di 10 titik pesisir setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Menurut siaran pers BMKG, pengamatan gelombang pertama dimulai pada pagi hari dengan ketinggian yang bervariasi di beberapa wilayah pesisir.

Kronologi gelombang tsunami di beberapa pesisir

Di Sikka, gelombang tsunami pertama tercatat mencapai 0,20 meter atau 20 cm pada pukul 05.03 WIB.

Selang sekitar belasan menit, gelombang juga terukur di Pelabuhan Kewapante, Sikka, dengan ketinggian 0,38 meter pada pukul 05.16 WIB.

BMKG kemudian mencatat Flores Timur mengalami gelombang setinggi 0,25 meter pada pukul 05.24 WIB, dan Labuan Bajo terukur 0,36 meter pada pukul 05.26 WIB.

Titik dengan gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter atau nyaris 1 meter pada pukul 05.27 WIB.

Setelah itu, tsunami tercatat di Dompu dengan ketinggian 0,17 meter pada pukul 05.29 WIB.

BMKG juga melaporkan Bakalang, Alor, mengalami gelombang setinggi 0,14 meter pada pukul 05.41 WIB.

Di bagian lain pesisir, pengamatan menunjukkan Baubau dengan ketinggian 0,30 meter pada pukul 05.47 WIB, sementara Bulukumba tercatat 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB.

Pencatatan gelombang berlanjut hingga Kolaka dengan ketinggian 0,23 meter pada pukul 06.27 WIB.

Pemicu gempa dan pembaruan parameter

BMKG menyebut gempa tersebut dipicu aktivitas sesar lempeng bumi yang naik atau thrust fault, sehingga menyebabkan guncangan kuat dan memicu terjadinya tsunami.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly.

Gempa susulan yang terpantau hingga pagi

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan bahwa hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mencatat 37 gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,6 hingga 6,2.

Dari seluruh gempa susulan tersebut, BMKG melaporkan satu gempa dirasakan oleh masyarakat.

Potensi lanjutan menurut BMKG

Wijayanto juga menegaskan potensi guncangan maksimum yang dapat terjadi di kawasan tersebut berdasarkan catatan dan analisis BMKG.

“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M 7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” pungkas Wijayanto.

Pengamatan BMKG menunjukkan gelombang tsunami tidak muncul serentak pada seluruh titik pesisir, melainkan terukur pada jeda waktu yang berbeda-beda. Rentang ketinggian yang tercatat berada dari sekitar 0,14 meter di Bakalang, Alor, hingga hampir 1 meter di Maurole, Ende, sementara pencatatan berlanjut hingga Kolaka pada pukul 06.27 WIB.

Selain memaparkan urutan waktu kejadian, BMKG juga melakukan pembaruan hasil pemantauan. Dalam informasi yang disampaikan, BMKG menyebut tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan berpotensi membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak, sehingga fokus pengamatan bergeser pada perkembangan aktivitas gempa susulan.

Dari sisi parameter gempa, BMKG menjelaskan bahwa gempa berkaitan dengan aktivitas sesar lempeng yang mendorong (thrust fault) hingga memicu guncangan kuat dan gelombang tsunami. BMKG juga menyampaikan kedalaman sumber sekitar 15 kilometer serta lokasi episenter di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, atau kira-kira 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.

Untuk dinamika lanjutan, BMKG menyebut hingga pukul 07.07 WIB tercatat 37 gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,6 sampai 6,2, dan dari seluruh susulan tersebut dilaporkan hanya satu gempa yang dirasakan masyarakat. BMKG juga menegaskan adanya potensi guncangan maksimum di kawasan tersebut, dengan proyeksi magnitudo M7.8 hingga M7.9, serta mengaitkannya dengan kejadian historis pada tahun 1992 yang pernah memicu kerusakan dan tsunami.