jurnalistik.co.id – Growing up di Manchester, Mia Tanswell mengaku tidak terlalu memikirkan aksennya sampai masa transisi ke dunia kampus. Di minggu pertama kuliah, ia mulai merasa orang-orang akan menyorot logatnya.
Mahasiswi berusia 22 tahun itu kuliah di Loughborough, dan ia mengatakan dirinya sudah menyiapkan kemungkinan komentar terhadap asal daerah. “I knew people were going to notice that I was northern and that I didn’t speak the ‘Queen’s English’,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa situasi terasa lebih menekan saat kegiatan akademik berlangsung. “Definitely in seminars I would sometimes feel like my accent would sound a bit less intellectual than other people, especially if I was the only northern student in the classroom.”
Kisah Tanswell bukan kasus tunggal. Survei yang dilihat BBC menunjukkan masih ada kekhawatiran mengenai apa yang disebut “accent bias” di banyak tempat kerja.
Riset ini melibatkan lebih dari 3.300 orang dewasa yang tersebar di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Temuan utamanya menyebut sekitar satu dari 10 responden merasa cemas atau tidak percaya diri terhadap aksen mereka saat berada dalam situasi profesional yang berisiko tinggi, misalnya ketika berbicara dalam rapat bisnis.
Lebih jauh, penelitian menemukan kelompok dengan kecemasan tertinggi berasal dari Geordies—wilayah sekitar Newcastle—serta mereka yang memakai aksen east London atau Cockney. Angkanya mencapai 19%, sementara responden dengan aksen Welsh berada di 18%.
Dari sisi dampak langsung, sekitar 5% responden mengatakan aksen mereka pernah merugikan kesempatan karier, seperti kehilangan peluang promosi, kenaikan gaji, atau posisi senior. Untuk “Brummies”—orang dari Birmingham—tingkat kekhawatian tercatat paling tinggi di angka 13%.
Survei juga menyoroti pengalaman mendapat komentar negatif di lingkungan kerja. Responden dengan aksen West Country melaporkan tingkat aksennya diejek atau dikritik rekan kerja paling tinggi, yakni 15%, sedangkan dari Geordie tercatat 13%.
Penelitian ini diprakarsai oleh Common Ground, sebuah organisasi yang bertujuan mendorong kohesi sosial. Lara Newman, pendirinya, telah bekerja di bidang konstruksi, properti, dan lingkungan binaan selama lebih dari 30 tahun.
Newman menilai perubahan aksen bisa menjadi strategi agar tidak tersingkir sejak awal karier. Ia mengatakan, “I am incredibly realistic about what would have happened had I gone to university or gone into the workplace with a strong west country accent,” dan menambahkan, “I felt like that was going to be an issue for me.”
Berita Terkait
Common Ground berupaya membantu orang dari latar belakang yang kurang beruntung untuk masuk ke dunia kerja. Menurut Newman, salah satu lapisan yang menciptakan hambatan adalah aksen, karena ia melihat orang kerap menyimpulkan tingkat pendidikan atau bahkan kelas sosial hanya dari cara seseorang berbicara.
Di cerita lain, Martha Powell menempatkan aksennya sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Perempuan berusia 24 tahun dari Newport, Wales selatan, menyatakan, “I love my accent, if anything I wish it was more Welsh.”
Namun, ia tetap khawatir orang lain “make assumptions” berdasarkan aksennya. Karena itu, saat acara jejaring profesional, ia cenderung mendekati orang-orang yang juga memiliki aksen Welsh, sambil menyesuaikan gaya bicaranya dengan konteks tempat ia berada. Ia menyebut dirinya, “I think I adapt my accent depending on where I am in the country.”
Penelitian juga menggambarkan bahwa melunakkan aksen bukan hal yang asing. Sekitar 13% Briton mengaku mengubah cara berbicara agar terdengar lebih profesional, dan responden dengan aksen Cockney serta Scots disebut lebih cenderung melakukan penyesuaian tersebut.
Pengalaman berbeda datang dari Benjaimin Aidomoan, yang datang ke Inggris empat tahun lalu dari Republik Ceko saat berusia 16 tahun. Ia mengatakan dulu tidak mengucapkan satu kata pun bahasa Inggris, tetapi setelah belajar, ia menilai aksennya tetap membuat pencarian kerja lebih sulit.
Dalam kesaksiannya, Aidomoan menggambarkan perubahan ekspresi ketika berinteraksi dengan calon pemberi kerja. “You can just see on many people’s faces, that the expression and the way they are looking at you and the way they are talking to you kind of changes,” ujarnya.
Kini Aidomoan bekerja di sebuah restoran. Ia percaya mayoritas pemberi kerja tetap melihat lebih jauh daripada aksen semata, karena baginya yang dinilai adalah siapa seseorang dan bagaimana cara ia membawa diri. Ia menegaskan, “It’s about who you are, how you present yourself, what is your attitude and how hard you’re willing to work.”
Meski demikian, banyak perusahaan mengklaim niat mereka adalah memperlakukan pelamar dan karyawan secara setara tanpa memandang aksen. Charlotte Davies, pakar karier dari LinkedIn, mengatakan arah perubahan masih menggembirakan.
Ia menyatakan, “Hiring is increasingly about skills, not background or polish.” Davies juga menekankan bahwa aksen adalah bagian dari cerita seseorang dan seharusnya diperlakukan sebagai kekuatan, bukan sesuatu yang harus “dihaluskan” hingga hilang. Ia menambahkan, “Your accent is part of your story, and the workplaces getting this right, treat that as a strength, not something to smooth out.”
Sementara itu, Sian Jackson, partner di firma hukum Mills & Reeve, mengatakan perusahaannya baru-baru ini mengubah pendekatan untuk mendorong perekrutan yang lebih lokal sekaligus merangkul keragaman aksen. “We don’t judge, we scrutinise based on capability beyond somebody’s accent, or appearance. Like any other prejudice or bias it’s about being conscious of it so you can then set it aside,” ujarnya.
Jackson menilai perbaikan sudah terjadi, namun prosesnya masih perlu dipercepat. Ia menyebut, “We feel we’ve come a long way as a firm, but we are behind nationally compared to things like gender, so there is more progress to be made on accents.”












