Teknologi

Roehampton Beri Beasiswa £2.000 per Tahun untuk Mahasiswa Esports

×

Roehampton Beri Beasiswa £2.000 per Tahun untuk Mahasiswa Esports

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why students are being paid £2,000 to play computer games

jurnalistik.co.id – Universitas Roehampton menyiapkan skema beasiswa esports sebesar £2.000 per tahun untuk mahasiswa, sebagai upaya membantu mereka tetap menekuni studi sambil berkompetisi di dunia permainan video.

Program ini hadir di tengah meningkatnya pembahasan soal biaya hidup dan pendanaan kuliah, ketika banyak calon mahasiswa berupaya menemukan sumber dukungan tambahan. Roehampton sendiri menegaskan bahwa inisiatif seperti ini bertujuan menutup celah pengetahuan—sebab setiap tahun, dana beasiswa dan bantuan akademik bernilai jutaan pound sering tidak dimanfaatkan mahasiswa.

Esports, atau electronic sports, merujuk pada kompetisi permainan video secara terorganisir. Berbeda dari bermain game biasa, esports juga memiliki penonton seperti cabang olahraga tradisional, dengan turnamen yang mempertaruhkan hadiah uang dan trofi.

Lewat beasiswa esports, Roehampton menawarkan dukungan kepada mahasiswa jenjang sarjana maupun pascasarjana yang dinilai mampu menyeimbangkan perkembangan akademik dan performa dalam video gaming. Kampus juga menyebut lebih dari 100 penerima beasiswa telah ditangani sejauh program berjalan.

Beasiswa ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan di bidang yang dinilai kian populer. “This scholarship is about recognising talent in a field that has a growing popularity both around the world and among our students,” ujar registrar Universitas Roehampton, Mark Ellul.

Para penerima diharapkan berkompetisi dalam turnamen mingguan di tingkat universitas. Mereka juga diharuskan mewakili kampus dalam acara tatap muka yang diselenggarakan secara langsung.

Untuk mendapat dukungan, Roehampton menerapkan persyaratan peringkat minimal pada gim-gim utama. Namun, kampus menyatakan tetap mempertimbangkan pelamar yang berada dekat ambang batas selama memenuhi kriteria lain, seperti memiliki basis pengikut besar di platform streaming, contohnya Twitch.

Pengalaman sebagai penerima beasiswa esports juga pernah dialami Cameron Dray. Ia mengetahui Roehampton lewat jalur beasiswa ini setelah melihat contoh serupa di universitas-universitas Amerika dan menelusuri apakah peluang sejenis ada di Inggris.

Awalnya, universitas menetapkan nominal beasiswa sebesar £1.500. Namun, jumlah tersebut naik menjadi £2.000 seiring performa tim dan meningkatnya popularitas program.

Dray menilai perubahan nominal menjadi penopang penting dalam rencananya kuliah. “This money was crucial to me as it gave me the opportunity to study in a very expensive city without the need for part-time work,” ujarnya, lalu menambahkan, “There were requirements that came alongside the scholarship, but none that were unexpected or not transparent when applying,”.

Dalam pandangannya, siswa perlu memanfaatkan semua kesempatan pendanaan yang tersedia, baik beasiswa maupun bantuan lainnya. “Many of these funds are available to more students than they realise, and everyone should be taking full advantage,” kata Dray.

Di Inggris, beban utang lulusan umumnya sangat besar. Disebutkan bahwa rata-rata lulusan meninggalkan universitas dengan utang lebih dari £47.500, sehingga beasiswa seperti yang ditawarkan Roehampton berpotensi mengurangi tekanan finansial sekaligus memberi dukungan tambahan.

Thomas Cole—pemain esports dengan julukan Pac—yang fokus pada game balap Trackmania, menilai beasiswa yang sifatnya unik mendorong mahasiswa dari sisi akademik. Ia mengatakan esports scholarship dapat menekan tingkat stres finansial yang mungkin dihadapi mahasiswa, lalu menambahkan, “Uni students being paid to play a game alongside doing their studies, it's definitely cracking. If I had gone to uni, I would have loved that,”.

Pac juga menekankan bahwa dorongan semacam itu dapat memacu kualitas tanpa mengorbankan sisi akademik. “If it doesn't let the academic side suffer, then I think being offered something like that really spurs on people to be better in gaming,” ucapnya.

Selain cerita dari penerima beasiswa, ada pula pandangan dari ahli keuangan mahasiswa. Tom Allingham, pakar uang mahasiswa dari situs Save the Student, secara rutin mendorong mahasiswa tahun pertama untuk mencari beasiswa dan mempelajari program yang ditawarkan kampusnya.

“Unfortunately, I don't think there is enough awareness on scholarships,” ujar Tom Allingham. Ia menambahkan, “There is a lot of funding that goes unclaimed because students don't know that they're eligible for it,”.

Save the Student, melalui berbagai materi yang disediakan, berupaya membantu mahasiswa memahami sumber dukungan yang mungkin mereka lewatkan. “What we try to get across is you can get extra funding for so many different reasons,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam konteks berbagi beasiswa dan bantuan.

Dengan desain yang menuntut keseimbangan antara kompetisi mingguan dan tanggung jawab akademik, beasiswa £2.000 per tahun ini mencoba menjawab pertanyaan yang sering muncul pada masa persiapan kuliah: apakah mahasiswa dapat tetap berkembang di kampus tanpa mengurangi fokus pada gim. Roehampton juga berharap model ini bisa semakin dikenal, sehingga lebih banyak calon mahasiswa mendapat kesempatan pendanaan yang selama ini belum banyak diketahui.