jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris sedang berdiskusi dengan mitra-mitra di Uni Eropa untuk menyiapkan pelepasan cadangan bahan bakar strategis, termasuk diesel, bila diperlukan. Langkah ini diambil menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk membatasi ekspor diesel dari Amerika Serikat.
Di tengah kekhawatiran pasar energi, harga diesel di Inggris juga tercatat mencapai rekor dan kini berada sedikit di bawah 200 pence per liter, menurut data terbaru RAC. Kondisi tersebut membuat diskusi lintas negara menjadi semakin mendesak agar pasokan tetap terjaga.
Menurut laporan BBC, AS merupakan pemasok diesel yang penting bagi pasar global. Negeri tersebut mengekspor sekitar 1,2 hingga 1,5 juta barel per hari, sehingga setiap kebijakan yang mengubah arus pengiriman berpotensi menambah tekanan pada harga di negara lain.
Trump menyatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor itu. Ia mengatakan, “We’re thinking about it very seriously,” dalam komentar terkait kemungkinan larangan ekspor pada akhir pekan lalu.
Peran Menteri Energi dan respons bersama
Menteri Energi Martin McCluskey melakukan panggilan telepon dengan rekan-rekan di Eropa pada Kamis untuk membahas potensi larangan tersebut. Seorang sumber yang mengetahui jalannya diskusi mengatakan bahwa Inggris memandang penting adanya respons yang terkoordinasi bersama negara-negara lain, termasuk yang berada di wilayah Uni Eropa.
Sumber itu juga menambahkan bahwa masih ada cadangan Eropa yang tersisa setelah pelepasan terkoordinasi stok bahan bakar strategis pada awal tahun ini. Artinya, kesiapan tidak sepenuhnya dimulai dari nol ketika menghadapi kemungkinan gangguan pasokan baru.
Sementara itu, juru bicara pemerintah menekankan tidak ada alasan untuk terlalu khawatir soal kekurangan diesel. Pemerintah menyatakan, “We have a diverse and resilient supply. We continue to engage with our international partners and the UK fuel industry,”.
Walau begitu, otoritas tetap mengingatkan bahwa harga diperkirakan akan terus meningkat. Dalam narasi kebijakan, fokusnya lebih pada pengendalian dampak dan mitigasi volatilitas dibandingkan mengantisipasi kekosongan pasokan.
Koordinasi di tingkat Uni Eropa dan IEA
Dari sisi Uni Eropa, seorang juru bicara Komisi Eropa menyebut proses yang sedang berlangsung. Ia mengatakan ada “lots of calls, lots of meetings” mengenai situasi diesel, termasuk melalui “high level contacts” dengan administrasi pemerintahan AS.
Selain koordinasi tersebut, sebuah pertemuan Dewan International Energy Agency (IEA) dijadwalkan berlangsung besok. Pertemuan itu menjadi ruang tambahan untuk menyelaraskan pandangan terkait tekanan harga energi yang tengah terjadi.
Berita Terkait
Lonjakan harga global dan pemicu rantai pasokan
Harga bensin dan diesel secara global disebut melonjak tajam sejak pecahnya perang AS–Israel yang terjadi di Iran pada Februari. Gangguan pada distribusi energi dinilai mempercepat kenaikan harga produk berbasis minyak.
Penutupan Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia, ikut mendorong harga produk turunan yang berasal dari minyak. Gangguan di jalur ini menjadi salah satu alasan mengapa biaya energi merembet ke berbagai wilayah.
Larangan ekspor dari Rusia—yang juga merupakan pemasok diesel besar—turut menambah tekanan pada harga. Kombinasi beberapa sumber gangguan membuat pasar menghadapi ketidakpastian yang lebih sulit diprediksi.
Trump berpendapat bahwa mempertahankan kelebihan stok barel diesel di AS dapat menurunkan harga pompa di dalam negeri. Klaim itu diarahkan untuk memberikan bantuan segera bagi pengemudi, truk, dan pelaku usaha, khususnya menjelang pemilihan paruh waktu.
Namun, David Fyfe, kepala ekonom di Argus Media, menilai pemutusan suplai dari AS justru cenderung membuat harga internasional semakin melonjak. Ia menekankan bahwa pembatasan yang menghentikan ekspor akan berdampak langsung pada pasar global.
Diesel Inggris: rekor harga dan keterbatasan produksi
Di Inggris sendiri, harga diesel disebut mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. RAC melaporkan rata-rata harga pompa berada pada 199,79 pence per liter, naik dari 142,38 pence.
Diesel juga dinilai lebih sulit diolah dibandingkan bensin. Selain itu, karena diesel digunakan oleh industri pengangkutan dan pertanian, permintaan sulit ditekan dengan cepat ketika harga sudah naik.
Inggris sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi. Kendati empat kilang di Inggris mampu memproduksi bensin lebih dari cukup guna memenuhi permintaan, mereka tidak menghasilkan diesel dalam jumlah yang memadai untuk kebutuhan domestik.
Di sisi penggunaan kendaraan, data Departemen Perhubungan menunjukkan terdapat 15,1 juta kendaraan berbahan bakar diesel di jalan Inggris pada akhir Juni. Angka tersebut turun dari 15,7 juta pada tahun sebelumnya.
Untuk kendaraan penumpang, terdapat 9,8 juta mobil diesel. Jumlah ini juga turun dari 10,4 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan latar tersebut, pembicaraan Inggris dengan mitra Eropa menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan pasokan dan meredam gejolak harga. Pelepasan cadangan strategis—jika benar-benar diperlukan—diposisikan sebagai langkah mitigasi, bukan sinyal bahwa kekurangan diesel pasti terjadi.
