Internasional

Keluarga Raja Oyo Tolak Presenter UBC Edward Rukidi Kijanangoma Jadi Raja Tooro

×

Keluarga Raja Oyo Tolak Presenter UBC Edward Rukidi Kijanangoma Jadi Raja Tooro

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Uganda's King Oyo death: Royal family rejects UBC presenter Edward Rukidi Kijanangoma as the new monarch

jurnalistik.co.id – Sengketa suksesi pecah di Kerajaan Tooro, Uganda, beberapa hari sebelum pemakaman Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV. Pertikaian ini muncul setelah keluarga dekat raja menolak keputusan dewan klan kerajaan yang telah menunjuk seorang presenter televisi sebagai pengganti.

Raja Oyo memerintah lebih dari tiga dekade dan wafat pada bulan lalu di usia 34 tahun. Ia tengah menjalani perawatan kanker di Amerika Serikat saat meninggal.

Sejumlah tetua klan menyebut Prince Edward Rukidi Kijanangoma sebagai raja berikutnya, namun penetapan itu ditolak oleh pihak keluarga kerajaan. Penolakan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar menyusul pengumuman pada Rabu malam.

Pernyataan keluarga: ada ahli waris dalam wasiat 2022

Putri Ruth Komuntale, saudara perempuan Raja Oyo, menyatakan bahwa sang almarhum telah meninggalkan surat wasiat yang ditulis pada 2022. Menurutnya, wasiat tersebut menunjuk putra muda raja sebagai ahli waris Kerajaan Tooro, meski identitas putra itu belum pernah dipublikasikan.

Komuntale mengatakan, “My brother did leave behind an heir to the throne, and that was very clearly stated,” sambil menuduh pihak yang mengumumkan calon raja baru telah menciptakan “confusion and turmoil” ketika keluarga masih berduka. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai gangguan atas proses berkabung.

Di saat yang sama, Queen Best Kemigisa—ibu dari Raja Oyo—mengatakan bahwa penjaga kerajaan telah ditarik dari istana. Ia menambahkan pasukan dikerahkan sehingga pergerakan keluarga kerajaan dibatasi dan mereka sulit menerima tamu, yang ia sebut sebagai “house arrest”.

Best Kemigisa kemudian menyerukan agar keluarga diberi kesempatan untuk memanjatkan duka sekaligus menjalani pemakaman pada Sabtu. Ia menyampaikan, “I appeal to those fighting over the throne: please, there will be time for all of that,” serta, “Let us grieve and bury my son King Oyo.”

Ribuan pelayat diperkirakan hadir

Pemakaman direncanakan di lokasi makam kerajaan yang berada dekat istana di Fort Portal, wilayah barat Uganda. Diperkirakan ribuan pelayat akan datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Jenazah Raja Oyo dilaporkan telah dikembalikan ke Uganda dari Amerika Serikat pada hari Jumat, dan persiapan upacara pemakaman sedang berjalan.

Tooro sendiri merupakan salah satu kerajaan tradisional di Uganda. Monarki di kerajaan ini tidak memiliki otoritas politik formal, tetapi tetap menjadi figur budaya penting di kawasan barat negara tersebut.

Uganda sempat menghapus kerajaan tradisional pada 1967, namun kerajaan tersebut dipulihkan pada era 1990-an di bawah Presiden Yoweri Museveni. Karena itu, raja tradisional diakui sebagai pemimpin budaya, bukan penguasa politik.

Pengumuman calon raja dan dasar pemilihan klan

Menurut laporan, keberadaan putra Raja Oyo pertama kali dibuka ke publik beberapa hari setelah kematiannya. Presiden Museveni mengatakan ia telah diberi informasi mengenai anak laki-laki tersebut oleh queen mother, meski rincian lain tidak pernah diumumkan secara resmi.

Putra itu juga tidak pernah diperkenalkan sebelumnya sebagai calon ahli waris. Di tengah kondisi tersebut, perselisihan menyingkap kerumitan mekanisme suksesi di Tooro.

Dibandingkan sistem monarki di Inggris yang mengikuti garis suksesi yang telah mapan, Tooro memilih monark dari Babiito, yaitu klan dinasti kerajaan. Pemilihan dilakukan melalui proses internal klan, bukan pembulatan otomatis berdasarkan urutan waris.

Dalam konferensi pers di ibu kota kerajaan Fort Portal, komite suksesi menyatakan Kijanangoma—sepupu Raja Oyo—sebagai monark berikutnya. Ia disebut sebagai presenter berita di UBC, stasiun penyiaran milik pemerintah.

Dewan klan menyatakan pihaknya memiliki kewenangan adat untuk menentukan pangeran yang layak agar menjadi “the Omukama”, gelar lokal untuk raja Tooro. Komite suksesi juga menyebut bahwa mereka melakukan “due diligence, consultation and adequate consideration” sebelum memilih Kijanangoma, dengan 19 anggota menandatangani resolusi.

Kijanangoma, menurut pengumuman tersebut, adalah anak dari Prince Christopher Paul Kijanangoma dan cucu dari mantan raja Tooro, George David Rukidi III. Dalam proses awal, satu tokoh lain juga sempat dipertimbangkan, yaitu Prince George Desmond Kamurasi yang berbasis di Inggris, namun ia menolak dengan alasan memiliki tanggung jawab lain.

Komite juga menyatakan belum jelas kapan penobatan akan dilakukan. Namun mereka menegaskan upacara akan berjalan selaras dengan tradisi dan tata cara Kerajaan Tooro.

Alasan penolakan: anak belum diperkenalkan sesuai tradisi

Keluarga Raja Oyo kemudian menanggapi pengumuman itu dengan konferensi pers untuk menolak penetapan Kijanangoma. Mereka menegaskan bahwa kehendak tertulis raja harus dihormati.

Komuntale menyebut Raja Oyo meninggalkan “very strict instructions” mengenai suksesi. Ia mengatakan wasiat itu menempatkan putra raja sebagai prioritas pertama serta menyertakan alternatif bila anak tersebut tidak dapat naik tahta, dan keterangan itu didukung oleh bibi dari pihak kerajaan, Princess Elizabeth Bagaaya.

Namun perwakilan klan menyatakan bahwa laporan mengenai adanya putra Raja Oyo belum cukup. Alasannya, anak tersebut belum diperkenalkan secara formal kepada para tetua klan sesuai ketentuan tradisi Tooro.

Salah satu anggota komite menjelaskan kepada stasiun NTV Uganda bahwa seorang anak kerajaan harus diperkenalkan secara resmi kepada para tetua. Setelah itu, anak tersebut perlu menjalani rangkaian upacara serta persiapan lain agar dapat dipertimbangkan untuk kepemimpinan di masa depan.