jurnalistik.co.id – RNLI sedang meninjau ulang prosedur keamanan setelah relawan organisasi kemanusiaan itu menjadi sasaran serangan daring menyusul bantuan penyelamatan di Channel. Peninjauan ini dilakukan menyusul protes di Dover dan Portsmouth yang membuat beberapa anggota tim ikut ditargetkan.
Dalam langkah yang diumumkan kepada relawan, RNLI meminta para sukarelawan mempertimbangkan untuk tidak mengenakan pakaian berlogo RNLI pada situasi tertentu saat mewakili organisasi di ruang publik. Permintaan tersebut muncul setelah sejumlah foto dan nama relawan dibagikan di media sosial, termasuk dalam unggahan yang menuduh mereka melakukan pengkhianatan.
Direktur eksekutif RNLI, Peter Sparkes, menilai pelecehan itu “wholly unacceptable in a civilised society”. Ia juga menegaskan bahwa organisasi bergantung pada donasi publik untuk membiayai aktivitasnya, termasuk melalui banyak stasiun penyelamat yang memiliki toko tidak hanya untuk penggalangan dana tetapi juga untuk memperkenalkan organisasi kepada masyarakat.
RNLI menyampaikan bahwa relawan diberi ruang untuk mengambil keputusan demi keselamatan tim. Relawan juga diberi arahan untuk “empowered to make decisions to keep yourself, your team or crew safe” dan “go home or close for the day if you need to”. Menurut pesan tersebut, kemampuan untuk menutup toko atau bahkan stasiun penyelamat ketika relawan tidak merasa aman menunjukkan betapa seriusnya RNLI memandang risiko yang mungkin muncul.
Sementara itu, Sussex Police tengah menilai apakah ada pelanggaran pidana yang dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan terkait situasi protes yang disertai penargetan terhadap kru setelah peristiwa penyelamatan pada Minggu.
RNLI juga menjelaskan bahwa keterlibatan mereka pada insiden penyeberangan Channel itu diminta oleh HM Coastguard. Sparkes menyebut, “This was the first time we have been involved in a Channel crossing incident of this magnitude this far west,” merujuk pada skala kejadian yang terjadi lebih ke barat dari pengalaman sebelumnya.
Pada awalnya, kru dari stasiun Bembridge dan Yarmouth dikerahkan. Kemudian mereka bergabung dengan kru dari empat stasiun lain setelah “large numbers of protesters were in and near the water in Portsmouth,” sehingga operasi di area perairan memerlukan dukungan tambahan.
Menurut RNLI, organisasi membantu memastikan keselamatan tidak hanya bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi juga bagi pihak yang melakukan protes anti-migran di laut lepas Portsmouth. Dalam insiden tersebut, RNLI menyebut mereka terlibat dalam penanganan sekitar 120 migran yang diselamatkan dari area penangkapan di dekat Isle of Wight hingga ke Eastney, di Langstone Harbour, saat jalanan di sekitar lokasi diblokir oleh demonstran.
Dalam kesaksiannya kepada BBC, seorang relawan yang dipanggil “Neil” mengatakan ia pernah disebut “traitor” dan fotonya dibagikan secara daring. Ia menyatakan, “We were there, purely for the safety of the protesters in the water,” sambil menambahkan, “It would be nice for those people who called me a traitor to know that I’m not a traitor.”
Berita Terkait
RNLI vice-president Sir Robin Knox-Johnston juga menanggapi pelecehan terhadap kru. Dalam wawancaranya, ia mendorong agar pihak yang melakukan penyalahgunaan “have some sense about this,” lalu menyinggung sikap mengasah emosi: “The people who are abusing the volunteers – I wonder how abusive they’d be if they suddenly got a stitch when they’re out swimming? ” Ia melanjutkan, “They’d be screaming for the RNLI to rescue them and the RNLI would do it.”
Pada pesan untuk relawan, Sparkes menuturkan bahwa pada kondisi aktivitas media yang meningkat, wajar apabila anggota masyarakat, pendukung, keluarga, dan teman memiliki pertanyaan mengenai pekerjaan penyelamatan di Channel. Ia mengatakan tugas kru dilakukan ketika diminta oleh HM Coastguard, dan “we will go to the aid of those who need our assistance, including those crossing one of the world’s busiest shipping lanes in small, overcrowded and unseaworthy boats.”
RNLI menegaskan bahwa ketika dipanggil, mereka menolong “men, women, and children – in distress.” Setelah itu, tanggung jawab penanganan bagi orang yang diselamatkan akan dialihkan kepada layanan ambulans, HM Coastguard, kepolisian, atau Border Force.
Organisasi juga memaparkan data internal yang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil peluncuran kapal mereka terkait dengan situasi “in distress in the Channel”, sementara sebagian besar perahu kecil yang dicegat ditangani oleh Border Force. Sparkes lalu mendorong kru untuk mengambil langkah yang membuat mereka merasa aman menjalankan peran.
Dalam arahan tersebut, relawan bisa memilih untuk “choosing not to wear RNLI branded clothing when representing our charity in public places”. Ia juga menyarankan agar relawan dapat menjauh dari interaksi bila merasa tidak nyaman, termasuk “removing yourself from a conversation with a member of public if you feel uncomfortable”.
Selain itu, RNLI mendorong relawan untuk menampilkan identitas melalui ID saat berada di lokasi. Arahan lain yang disebutkan adalah bersikap tegas terhadap siapa pun yang tidak mengenakan ID, terutama bila mereka bertindak mencurigakan atau mencoba mengakses bangunan.
Menanggapi penargetan yang terjadi, perwakilan dari Home Office menyampaikan bahwa tindakan mengarahkan pelecehan kepada orang-orang yang mempertaruhkan nyawa dalam pelayanan bagi orang lain adalah hal yang tidak dapat diterima. Dalam pernyataannya, mereka menyebut: “Directing abuse at people who risk their lives in the service of others is appalling.”
Home Office juga menekankan bahwa platform harus menjalankan ketentuan layanannya sendiri serta “take swift action against discriminatory content”. Mereka menambahkan bahwa ketika konten dibagikan untuk mengintimidasi, melecehkan, atau menghasut kekerasan terhadap seseorang, hal tersebut dapat masuk ke wilayah pidana, dan Home Office akan bekerja “with platforms and law enforcement to ensure appropriate action is taken”.
Di tengah peninjauan keamanan RNLI, fokus utama tetap pada perlindungan relawan dan anggota kru saat bertugas di area yang berpotensi memanas. Langkah-langkah seperti penilaian keselamatan, pertimbangan soal pakaian berlogo, hingga penggunaan ID bertujuan memastikan bahwa bantuan penyelamatan tetap bisa dijalankan tanpa membuat relawan berada dalam risiko tambahan.












