jurnalistik.co.id – Mauricio Pochettino meyakini gelar Premier League musim 2016-17 seharusnya jatuh ke Tottenham, menyusul keputusan yang menjerat Chelsea karena pelanggaran aturan kompetisi di masa lalu. Menurutnya, jika Chelsea telah mengakui pelanggaran, maka secara prinsip titel layak diberikan kepada tim peringkat kedua.
Pochettino berbicara setelah Tottenham finis sebagai runner-up di belakang Chelsea pada kampanye 2016-17. Waktu itu, skuad asuhan Antonio Conte menyelesaikan musim dengan keunggulan tujuh poin dari Spurs.
Ia mengangkat kembali keputusan sanksi yang diterima Chelsea pada Maret, ketika klub dijatuhi denda sebesar £10,75 juta. Denda tersebut muncul setelah Premier League mengenakan dakwaan terkait pelanggaran historis terhadap aturan kompetisi.
Di sisi lain, Pochettino menyoroti bahwa Chelsea juga sempat mendapatkan pemotongan enam poin, namun langkah itu “set aside” di tingkat banding. Meski pemotongan poin tidak jadi mengubah tabel, Pochettino menilai substansi pelanggarannya tetap harus berujung pada konsekuensi yang lebih besar bagi klasemen musim tersebut.
Dasar kritik: pengakuan pelanggaran dan rincian pembayaran
Pochettino, yang pernah menangani Spurs antara 2014 hingga 2019, menyampaikan bahwa Chelsea semestinya kehilangan gelar karena tim yang lebih baik dalam konteks sportif justru bukan yang finis pertama. Ia menilai, “We should win one title, one Premier League. We should have been awarded it.”
Ia kemudian memperjelas alur pikirnya dengan menegaskan hubungan langsung antara pengakuan pelanggaran dan siapa yang seharusnya menerima titel: “[ Chelsea ] were punished, they admitted, so that’s it? The title should be for the team that was second.”
Menurut Pochettino, argumentasi keadilan itu tidak berhenti pada status banding pemotongan poin. Ia menilai perbedaan aturan yang diterapkan sebelum musim berjalan membuat kompetisi tidak sepenuhnya setara bagi semua tim: “It’s true that we didn’t compete with the same rules. It’s completely fair to say that we didn’t compete before the start of the season with the same card.”
Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak sedang memprotes secara emosional, melainkan menyuarakan apa yang menurutnya merupakan konsekuensi logis dari pengakuan pelanggaran: “It’s not me complaining – it’s the truth. If they admitted they broke the rules, the Premier League title was for the second-best team.”
Pernyataan tersebut berangkat dari temuan yang disorot Premier League. Klub menilai pembayaran pihak ketiga yang terkait Chelsea dilakukan kepada pemain, agen yang tidak terdaftar, serta pihak lain, namun tidak diungkapkan kepada otoritas regulasi pada waktu yang seharusnya. Premier League kemudian menilai berbagai pemindahan pemain yang relevan dengan pembayaran tersebut.
Berita Terkait
Dalam laporan yang dirujuk, transfer yang dikaitkan dengan skema pembayaran antara 2011 dan 2018 meliputi Eden Hazard, Samuel Eto’o, Willian, Ramires, David Luiz, Andre Schurrle, dan Nemanja Matic. Premier League juga menegaskan bahwa tidak ada indikasi pelanggaran di pihak para pemain tersebut.
Bagi musim 2016-17 sendiri, nama-nama yang disebut itu adalah Eden Hazard, Willian, Nemanja Matic, dan David Luiz yang saat itu bermain untuk Chelsea. Karena itu, Pochettino memandang dampak pelanggaran yang dinyatakan memiliki hubungan langsung dengan periode ketika Chelsea mengunci posisi pertama klasemen.
Konteks proses regulasi: mengapa poin tidak dipotong
Dalam penilaian Premier League, dilakukan serangkaian perhitungan ulang atas laporan keuangan historis klub dengan memperhitungkan pembayaran yang sebelumnya tidak terdaftar. Dari proses tersebut, Premier League menyimpulkan bahwa Chelsea tidak akan melanggar aturan profitabilitas dan keberlanjutan jika pembayaran tersebut telah didaftarkan pada waktu semestinya.
Karena kesimpulan itu, Premier League menyatakan pemotongan poin bukanlah hukuman yang tepat. Namun pada saat yang sama, denda tetap dijatuhkan, termasuk skema yang dijelaskan terkait besaran sanksi.
Premier League menyebut bahwa denda sekitar £10 juta sebenarnya akan menjadi £20 juta, tetapi angka tersebut dipangkas 50% karena Chelsea melakukan pelaporan proaktif dan bekerja sama dengan proses regulasi. Selain itu, pada Maret juga ada denda tambahan sebesar £750.000 untuk pendaftaran pemain akademi pada rentang 2019 hingga 2022, yang dibarengi larangan transfer akademi selama sembilan bulan.
Pochettino menilai, dengan struktur konsekuensi seperti itu, keputusan akhir tetap menyisakan pertanyaan besar soal keadilan kompetisi. Ia menegaskan kembali sudut pandangnya bahwa jika aturan yang sama diterapkan secara konsisten, peluang klub untuk memperkuat skuad dan menghasilkan performa akan berbeda.
Ia mengatakan, “Maybe with the same rules, if we apply the same things, maybe we could’ve signed some players that would have made the team better or scored more goals,” sebelum menambahkan bahwa ia memahami reaksi dari pendukung Chelsea. Pernyataannya menyebut ketidaknyamanan fans karena ia menilai fakta yang ada seharusnya dibaca sebagai dasar perubahan dalam distribusi gelar.
“I’m not scared to say the truth. The Chelsea fans will be upset with me because I’m saying this, but if we were at Tottenham and broke the rules I’d admit the same.” Dengan nada itu, Pochettino menempatkan pengakuan dan sanksi sebagai titik kunci, sambil menekankan prinsip bahwa tim peringkat kedua seharusnya memperoleh pengakuan gelar.
Ia juga mengingat periode kepelatihan Spurs, sekaligus pencapaian paling menonjol di era itu, yakni membawa Tottenham mencapai final Liga Champions 2019. Namun, dalam lima tahun masa kepemimpinannya, tidak ada trofi besar yang berhasil diraih Spurs—dan ia menyebut hasil terbaiknya di Premier League tetap berupa runner-up di belakang Chelsea pada 2017.
Dengan latar tersebut, kritik Pochettino menjadi lebih tajam: ia percaya bahwa cerita 2016-17 tidak semata soal angka di tabel akhir, tetapi tentang kesetaraan aturan sejak awal musim, yang menurutnya tidak sepenuhnya terjadi. Baginya, jika Chelsea sudah “punished” dan mengakui pelanggaran, maka gelar harus kembali kepada tim yang finis kedua.












