Internasional

Kanker Menyebar setelah Menunggu 128 Hari untuk Operasi: Biaya Kesenjangan Layanan Kanker Inggris

×

Kanker Menyebar setelah Menunggu 128 Hari untuk Operasi: Biaya Kesenjangan Layanan Kanker Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'My cancer spread while I waited 128 days for an op': The cost of England's care gap

jurnalistik.co.id – Analisis BBC menyoroti kesenjangan layanan kanker di Inggris, yang membuat waktu tunggu—dan dampaknya pada pasien—semakin sulit dikendalikan. Sejak pemerintah menargetkan percepatan waktu tunggu dan penyelamatan lebih banyak nyawa, kinerja justru disebut memburuk.

Kisah Alan menggambarkan bagaimana keterlambatan bisa mengubah perjalanan penyakit. Ia didiagnosis kanker paru setelah ditemukannya nodul pada Juni tahun lalu.

Alan seharusnya menjalani operasi dalam hitungan minggu. Namun ia justru menunggu hampir lima bulan, sampai kanker menyebar dan membuat prosedur menjadi lebih rumit.

“I was so frustrated and angry and couldn’t understand why they would leave me like that,” kata Alan. Ia menyebut rasa frustrasi itu muncul karena ia merasa tidak jelas kapan operasi urgennya akhirnya akan dilakukan.

Dalam proses penantian tersebut, jadwal pemeriksaan juga terganggu. Dua kali pemindaian dibatalkan karena mesin rusak, dan selama beberapa minggu ia hampir tidak mendapatkan informasi berarti dari rumah sakit.

Alan termasuk dalam ribuan pasien di Inggris yang tidak memulai pengobatan sesuai batas waktu target layanan. Ia mengaitkan dampak langsung dari keterlambatan itu dengan perubahan kondisi kesehatannya menjelang tindakan.

“My cancer spread while I waited 128 days for an op,” ungkap Alan, menggambarkan bahwa waktu tunggu yang lama berujung pada penyebaran penyakit.

Waktu tunggu yang panjang juga dipotret dari sisi kebijakan. Rencana National Cancer Plan pemerintah bersama panduan NHS Planning Guidance menetapkan bahwa 80% pasien di Inggris memulai pengobatan dalam 62 hari dari rujukan dokter umum (urgent GP referral) pada Maret 2027.

Target itu juga diarahkan untuk meningkat menjadi 85% pada Maret 2027. Namun menurut data NHS England, dalam beberapa bulan setelah pemerintah mengumumkan ambisi tersebut, performa justru memburuk.

BBC melaporkan bahwa kini 69,9% pasien memulai pengobatan kanker dalam kerangka 62 hari. Angka tersebut sebelumnya berada pada 71,9%.

Prof Pat Price, akademisi klinis onkologi terkemuka di Inggris, menilai target pemerintah “are now simply impossible to hit”. Ia juga menyebut situasinya sebagai “complete loss of momentum.”

Price mengaitkan kegagalan saat ini dengan “a complete lack of a plan or accountability”. Ia menilai ada kekosongan rencana yang konkret dan keterjelasan tanggung jawab.

Dalam rencana, pemerintah menyebut akan membentuk dewan kanker independen untuk mengawasi kemajuan. Namun hingga kini, siapa yang akan memimpin kelompok tersebut masih belum diketahui.

Analisis: perlunya lonjakan mulai terapi agar target tercapai

Radiotherapy UK, berdasarkan analisis yang dibagikan secara eksklusif kepada BBC, memperkirakan lebih dari 3.000 pasien tambahan perlu memulai pengobatan setiap bulan. Perkiraan itu setara dengan kenaikan hampir 15% dibanding jumlah saat ini untuk mencapai target Maret 2027.

Lonjakan kebutuhan tersebut dinilai berpotensi semakin besar seiring rujukan yang terus meningkat. Hal itu disebut terjadi di hampir setiap jenis kanker.

Price juga menegaskan konsekuensi manusia dari keterlambatan. Menurutnya, ribuan pasien “are going to die unnecessarily, just because the government can’t get their act together to treat people on time”.

Ia menambahkan mekanisme dampak keterlambatan: untuk setiap bulan pasien menunggu sebelum memulai terapi, peluang bertahan hidup turun sekitar 10%. Dalam konteks ini, penundaan bukan sekadar angka administrasi.

Ketika Alan akhirnya menjalani operasi, kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening. Dokter spesialis paru juga menyebut nodul “had grown at an alarming rate.”

Setelah operasi, Alan kemudian diberi kabar bahwa kankernya dinyatakan “cleared” sambil menunggu evaluasi satu tahun. Meski begitu, tindakan tersebut meninggalkannya dalam rasa sakit yang melemahkan.

“I used to play golf and get out and about. Now I can’t do any of the things I love,” ujar Alan. Ia menggambarkan perubahan yang signifikan dalam aktivitas sehari-hari setelah operasi.

Secara lebih luas, target layanan disebut masih jauh dari tercapai. Sekitar 54.000 pasien tambahan diperkirakan perlu memulai pengobatan dalam 62 hari sebelum 2029 agar tujuan pemerintah bisa terpenuhi.

Fokus pada dasar layanan: contoh dari Salisbury

Di antara rumah sakit yang disebut mulai menunjukkan kemajuan, Salisbury terlihat memperoleh daya tarik dalam angka daftar tunggu. Meski demikian, lembaga itu tetap belum mencapai target.

Staf menyampaikan bahwa tidak ada satu solusi tunggal. Mereka menekankan fokus yang berkelanjutan pada hal-hal dasar: memastikan pasien tahu jadwalnya dan hadir, menjaga sistem TI tetap berjalan, merekrut orang yang tepat, memastikan daftar operasi penuh, serta memperluas kapasitas.

BBC mencatat sebagian kemajuan yang terlihat banyak berasal dari kanker kulit dan prostat—dua jenis kanker yang paling umum di negara itu.

Di Salisbury, pendekatan “joined-up care” juga ditunjukkan melalui pengalaman Diane. Beberapa minggu lalu, ia menjalani pengangkatan benjolan kanker dari wajahnya dengan prosedur inovatif yang memeriksa margin tumor saat pasien masih berada di ruang operasi.

Menurut penjelasan, prosedur itu membantu menghindari operasi lanjutan. Diane juga mendapatkan rekonstruksi kompleks yang meninggalkan jejak yang “hardly a trace.”

“It’s amazing, you literally can’t see I had a large cancerous lesion removed from my cheek,” kata Diane kepada BBC di ruang tunggu. Ia menceritakan bahwa dampak tindakan tersebut jauh lebih ringan secara visual daripada yang ia bayangkan.

Dalam prosesnya, ahli bedah plastik konsultan Neil Wickham memeriksa wajah Diane, lalu memastikan bahwa benjolan di lengan yang diambil biopsinya bersifat jinak. Ia kemudian merujuk Diane ke layanan THT (ENT) untuk benjolan lain di leher.

Namun tekanan juga muncul di bagian lain layanan. Di bidang patologi Salisbury, kepala departemen Lee Phillips menghadapi masalah volume spesimen.

“The sheer volume of specimens we have coming in is our problem,” ujarnya. Ia menambahkan kebutuhan untuk menambah staf dan peralatan agar tetap mampu memenuhi permintaan.

Radioterapi juga disebut menjadi hambatan lain. Seperti banyak kepercayaan rumah sakit, Salisbury tidak memiliki mesin di lokasi, sehingga pasien yang membutuhkan sesi harian selama satu sampai tiga minggu harus bepergian hingga satu jam ke Southampton, dan kadang ke Bath.

Kekurangan tenaga, hambatan diagnostik, dan pasien yang terlewat jadwal

Staf di Salisbury juga menyoroti bahwa pasien yang melewatkan janji menjadi beban tetap. Penyebabnya bisa beragam, termasuk surat yang terlambat, sakit, masalah transportasi, atau kecemasan.

Emilia Scutt, manajer kanker di Salisbury, mengatakan upaya mengurangi ketidakhadiran pasien membantu memperbaiki angka mereka. “We know cancer can be terrifying so we are a bit like a dog with the bone, backing up patients and supporting them wherever we can,” katanya.

BBC juga mencatat rumah sakit dengan penurunan kinerja yang paling tajam, termasuk Buckinghamshire Healthcare, University Hospitals Dorset, Milton Keynes University Hospital, East Cheshire, serta Torbay and South Devon. Mereka menyatakan tekanan datang dari berbagai aspek.

Di sejumlah tempat, faktor yang disebut mencakup lonjakan permintaan, kekurangan tenaga kerja, dan hambatan diagnostik. Ada pula yang menyinggung aksi industri dan sakitnya staf, serta ketergantungan pada penyedia diagnostik eksternal atau perubahan besar pada cara kerja sistem.

Semua pihak tersebut mengatakan sedang berinvestasi pada kapasitas tambahan, bekerja melalui tumpukan backlog, dan merancang ulang jalur layanan. Mereka juga menyebut sudah melihat tanda-tanda awal perbaikan.

Steve Haines dari Macmillan Cancer Support menilai pemerintah perlu menyandingkan target dengan kecepatan pelaksanaan. Ia mengatakan, “If government is serious about delivering on the ambitions of the National Cancer Plan for England, it must match ambition with urgency.”

Ia juga menekankan perlunya “visible progress” terkait janji pembentukan National Cancer Board untuk mengawasi perbaikan waktu tunggu dan terapi.

Sementara itu, juru bicara Department of Health and Social Care menyatakan National Cancer Plan “will help more people get diagnosed earlier and begin treatment sooner”. Mereka juga mengakui bahwa masih ada “more to do”, namun menyatakan pihaknya bertekad mengembalikan standar kinerja yang layak diharapkan masyarakat.