Internasional

Meraih Dukungan di Tengah Krisis Identitas Jerman ala Friedrich Merz

×

Meraih Dukungan di Tengah Krisis Identitas Jerman ala Friedrich Merz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: As Merz scrambles for support, Germany's identity crisis is laid bare

jurnalistik.co.id – Rangkaian pemilihan lokal yang “ramai” belakangan ini menggeser keseimbangan politik Jerman, sekaligus membuat pemerintahan berada dalam situasi genting. Di tengah gelombang hasil yang tidak biasa, kanselir Friedrich Merz kini dipandang semakin rentan.

Perubahan yang terjadi tidak muncul tiba-tiba. Di berbagai kalangan, proses melemahnya “rutinitas normal” pemerintahan sudah berlangsung selama bertahun-tahun, sementara negara menghadapi realitas baru yang terasa tidak nyaman dan belum terselesaikan.

Di mata sejumlah warga yang saya temui, identitas Jerman seperti menjauh dari hal-hal yang dulu menjadi jangkar. Ketidakpastian tentang arah berikutnya kini justru paling terasa pada diri Merz, yang digoyang oleh hasil pemilu regional yang membuatnya semakin lemah.

Dalam dua pekan terakhir, partai Merz mengalami pukulan beruntun. Di Berlin, partainya kalah hingga tidak menjadi yang pertama. Di Saxony-Anhalt, partainya “dibabat” dalam jajak pendapat, dan di Mecklenburg-Western Pomerania, partai tersebut bahkan tersingkir dari parlemen.

Namun, Merz tetap memiliki satu bantalan politik: belum ada tokoh di dalam CDU—partai utama di kubu kanan-tengahnya—yang bersedia menantang kanselir itu secara terbuka. Meski begitu, rumor soal adanya Kanzlertausch (chancellor swap) terus beredar dan mempertebal ketidaknyamanan.

Secara dukungan publik, Merz berada pada posisi rapuh. Tingkat persetujuan pemilih terhadapnya disebut mencapai level terendah dalam catatan, pada saat banyak pemilih menggambarkannya sebagai sosok yang sombong dan tidak peka terhadap keadaan sekitar.

Di ruang-ruang pemerintahan, problem tersebut kadang disebut dengan istilah yang lebih “halus”, yaitu masalah “communication”. Para pendukung Merz meyakini perlunya dorongan ganda pada reformasi yang sangat dibutuhkan bersama mitra koalisi dari SPD.

Menurut mereka, yang paling mendesak adalah menemukan cara berbicara yang lebih tepat dengan masyarakat. Mereka menilai perubahan figur kanselir bukan solusi, karena siapa pun yang menggantikan Merz akan menghadapi tantangan yang sama.

Penilaian itu disampaikan JĂĽrgen Hardt, juru bicara kebijakan luar negeri parlemen untuk CDU Merz dan partai saudara, CSU. Hardt juga menyinggung bahwa CDU/CSU justru tampil lebih baik pada pemilihan regional lainnya yang berlangsung lebih awal tahun ini.

Hardt menambahkan, “I think Friedrich Merz knows about his deficits,” kata Hardt. “He will work on him and we will work on us as (a) party. And hopefully we will convince the people in the next months that we are on the right way.”

Friedrich Merz naik ke kekuasaan pada 2025 dengan janji untuk bersikap tegas soal imigrasi serta mendorong ekonomi Jerman yang sedang kesulitan. Ia juga dipandang menawarkan dinamika yang diyakini bisa menjadi penawar dari irama politik kubu kiri-tengah yang sebelumnya cenderung diwarnai gesekan, terutama di era koalisi tiga arah Olaf Scholz yang kemudian tersingkir pada 2025.

Para pendukung Merz mengklaim ada capaian yang patut dicatat. Pekan ini, sejumlah lembaga ekonomi besar menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk 2026 dan 2027 di atas 1%.

Di sisi lain, angka masuk ilegal ke Jerman—juga ke Eropa—dikabarkan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, catatan yang dirayakan itu tidak sepenuhnya menghapus kegelisahan publik.

Bagi rumah tangga dan pelaku usaha, biaya energi yang tinggi masih menjadi beban yang terus dirasakan. Di saat yang sama, kekhawatiran juga bertahan bahwa China “menggerogoti” industri Jerman, termasuk sektor mobil yang selama ini menjadi simbol kuat negara.

Fenomena tersebut disebut berlawanan dengan resep lama Jerman yang dulu identik dengan kejayaan: pasokan gas Rusia yang murah pernah membantu ekonomi ekspor tumbuh. Kini, ketika kondisi berubah, cara lama tidak lagi otomatis bekerja.

Untuk isu imigrasi, fokusnya pun bergeser. Perdebatan kini tidak hanya menyoroti pendatang baru, tetapi juga kekhawatiran menyangkut keamanan publik, beban kesejahteraan, dan proses integrasi.

Di tengah pergeseran itu, pemilih terlihat makin kehilangan kepercayaan pada dua partai penguasa utama: CDU dan SPD. Dari situ, kekuatan politik yang meningkat semakin menonjol.

Kekuatan yang dimaksud adalah Alternative fĂĽr Deutschland (AfD). Partai ini disebut membuat aparat keamanan waswas karena sikapnya yang ramah Rusia, sekaligus memiliki cabang-cabang regional yang oleh intelijen dalam negeri dikategorikan sebagai ekstrem kanan.

AfD menolak kritik dan menyebut serangan berupa tuduhan serta misrepresentasi. Partai itu juga mengeklaim kemenangan ketiga dalam sejarah pemilu di sebuah pemilihan negara bagian pada Minggu lalu di Mecklenburg-Western Pomerania, kawasan yang berada di bagian timur laut Jerman.

Dalam penuturan pekan ini, Alice Weidel mengatakan kepada saya bahwa hari-hari Friedrich Merz sudah terhitung. Pernyataan tersebut mempertegas cara AfD membingkai arah politik ke depan.

Di tingkat nasional, AfD disebut sudah bertahan melewati banyak skandal dalam beberapa tahun terakhir dan kini berada di puncak jajak pendapat, dengan dukungan sekitar 28%. Ia juga digambarkan membawa “kepercayaan diri” layaknya partai yang membaca cuaca politik.

AfD disebut memanfaatkan nostalgia terhadap masa lalu sekaligus ketegangan pada masa kini, terutama saat memperkuat basisnya di wilayah bekas Jerman timur yang dulu komunis. Sebuah spanduk yang terlihat di Berlin berbunyi “Berlin braucht Ordnung” (Berlin membutuhkan ketertiban).

Namun, janji soal stabilitas itu masih belum diuji dalam praktik yang lebih luas. Di ibu kota Jerman, justru Die Linke yang disebut menjadi pemenang pada Minggu lalu, sebuah pukulan tambahan bagi partai-partai yang selama ini berusaha bertindak sebagai “big tent”.

Kemenangan Die Linke kemudian membawa sorotan baru, karena partai tersebut menghadapi tuduhan antisemitisme. Pimpinan partai menegaskan mereka berkomitmen melindungi kehidupan Yahudi.

Putaran pemilihan regional kali ini, pada akhirnya, merangkum garis retak Jerman: melemahnya dukungan untuk pusat politik, serta perdebatan yang semakin memecah belah seputar AfD. Di Jerman pasca-perang, jarang sekali rangkaian jajak pendapat lokal memunculkan keguncangan sebesar ini di dalam negeri sekaligus menarik perhatian dari luar.