jurnalistik.co.id – Perempuan penderita kanker payudara metastatik dengan tipe tertentu kini memperoleh akses ke terapi yang dapat memperpanjang hidup melalui NHS di Inggris, setelah penilaian biaya dinilai terlalu tinggi selama sekitar dua tahun.
Obat Enhertu dapat memberikan waktu hidup tambahan rata-rata hampir tujuh bulan. Pada sebagian pasien, manfaatnya bahkan bisa mencapai hingga tiga tahun lebih lama dibanding kondisi tanpa terapi tersebut.
Di Inggris, perubahan ini mulai berlaku pada hari Kamis, ketika dokter bisa meresepkan Enhertu untuk pasien yang memenuhi kriteria klinis. Di Wales, panduan disebut akan segera menyusul, sementara panduan tersebut tidak otomatis berlaku untuk Irlandia Utara.
Dalam konteks yang lebih luas, perempuan di Skotlandia sudah dapat menerima obat ini sejak 2023, dan Enhertu juga tersedia di 26 negara lain di Eropa. Namun, akses yang lebih luas di Inggris tertahan, terutama setelah National Institute for Health and Care Excellence (NICE) pada 2024 menyatakan Enhertu tidak menawarkan nilai yang sepadan dengan biaya (not good value for money).
Keputusan NICE untuk membalik penilaiannya kini membuat rekomendasi dapat diterapkan di NHS. Health Secretary Yvette Cooper menyebut langkah tersebut sebagai hasil dari dorongan yang panjang, mengatakan: “Enhertu can be life-changing, and this recommendation means NHS patients will finally be able to benefit from it.” Ia menambahkan, “It is a tribute to the campaigners and charities who never stopped pressing for this.”
Menurut informasi yang disampaikan, keputusan ini akan berdampak pada sekitar 1.000 perempuan setiap tahun yang memiliki jenis kanker payudara dengan karakter HER2-low. Dukungan pasien dan organisasi advokasi telah berlangsung bertahun-tahun agar obat ini tak hanya tersedia di beberapa wilayah, tetapi juga bisa diakses lebih luas di layanan kesehatan nasional.
Breast Cancer Now menyatakan, meski perjuangan mereka membuahkan hasil, penundaan akses membawa konsekuensi nyata. Chief executive Claire Rowney mengatakan: “Today we can finally say we did it.” Namun ia juga menekankan sisi lain dari keputusan ini, dengan menambahkan bahwa “we can’t celebrate this momentous decision without remembering the devastating cost of this delay”.
Pengalaman Kate Wills menggambarkan campuran harapan dan kehilangan waktu yang tertinggal. Perempuan berusia 51 tahun itu memiliki kanker payudara metastatik HER2-low yang telah menyebar ke tulang dan paru-paru.
Kate tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kondisinya berada pada fase terminal, dengan pekerjaan berintensitas tinggi serta menjalani peran sebagai istri dan ibu. Dalam keterangan yang ia sampaikan, dunia digitalnya juga menampilkan keseharian yang penuh, sekaligus menjadi tempat sesekali muncul janji pemeriksaan yang menandai bahwa semuanya tidak berjalan sepenuhnya normal.
Ketika mendengar bahwa Enhertu akan tersedia melalui NHS, Kate mengatakan ia langsung menangis. Ia menyatakan, “I really can’t believe it. I’m so relieved, I’m overjoyed,” dan menambahkan: “It’s so hard keeping hope when you have stage four cancer. This gives me enormous hope.”
Berita Terkait
Kate juga menggambarkan tujuan pribadinya selama menjalani terapi tanpa akses pada periode sebelumnya. Ia menuturkan bahwa ia berupaya bertahan agar bisa menemani anak bungsunya menyelesaikan sekolah.
Bagi Kate, kabar ini terasa seperti peluang baru, meski tetap menyimpan rasa getir. Dengan senyum di sela air mata, ia berkata: “Now I’ve just dared to dream that I might be around to see them fall in love, to get married.” Ia juga menegaskan bahwa pikirannya pertama kali tertuju kepada “those women, my friends, who didn’t get this in time”.
Salah satu sahabat Kate adalah Jeannie Ambrose, yang saat diwawancarai BBC News dua tahun lalu berusia 53 tahun dan terlihat penuh semangat untuk terus berjuang. Jeannie saat itu menyampaikan: “I’m not ready to die yet. I want to stay alive, I want to keep living. I should be concentrating on enjoying time with my family and friends. I should not be campaigning, using the time I’ve got left to fight.” Jeannie kemudian meninggal pada Januari tahun ini.
Kate mengatakan sahabatnya kelak tentu akan merasa gembira, tetapi juga—di waktu yang sudah terlanjur lewat—muncul kemarahan akibat lamanya proses. Ia menggambarkan perasaan tersebut sebagai bagian dari frustrasi yang dirasakan banyak pasien, termasuk rasa penolakan yang mereka terima selama bertahun-tahun.
Di balik perubahan rekomendasi NICE, BBC melaporkan bahwa perusahaan pembuat obat, Daiichi Sankyo dan AstraZeneca, tidak secara substansial menurunkan harga sejak obat tersebut pertama kali ditolak. Alasan pembalikan penilaian diperkirakan terutama terkait kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, ketika pemerintah Inggris setuju untuk meningkatkan belanja obat sebesar 25%.
Dalam kerangka itu, NICE menaikkan ambang batas pembayaran NHS untuk setiap tambahan tahun kualitas hidup yang baik yang dapat diberikan suatu terapi. Sistem tersebut dikenal sebagai QALY (Quality-Adjusted Life Year), dengan ambang atas meningkat dari £30.000 menjadi £35.000.
Selain penyesuaian ambang QALY tersebut, NICE juga memperkenalkan cara yang lebih bernuansa untuk menilai kualitas hidup pasien pada akhir Agustus. Kombinasi dua perubahan tersebut disebut cukup untuk mengubah hasil perhitungan nilai manfaat-biaya.
Terlepas dari hasil tersebut, perusahaan pembuat obat menanggapi secara positif. Daiichi Sankyo dan AstraZeneca menyambut keputusan NICE, sementara AstraZeneca menyerukan: “strong collaboration” agar akses pasien ke terapi di masa depan bisa berjalan lebih cepat dan lebih adil di seluruh sistem layanan kesehatan.
NICE juga memandang keputusan ini sebagai langkah yang menyeimbangkan manfaat dan pengeluaran layanan kesehatan. Helen Knight, director of medicines evaluation di NICE, menyatakan ia senang bahwa solusi komersial membuat terapi dapat tersedia di NHS Inggris. Namun ia juga mengingatkan bahwa keputusan tersebut “comes too late for many families”, seraya menegaskan peran institusinya melalui kutipan: “Our role is important in ensuring NHS spending on new medicines reflects the benefits they deliver while protecting valuable health resources for other essential patient services,”.
Bagi Kate, yang paling menyakitkan justru adalah jarak antara kebutuhan dan akses. Ia menggambarkan rasa sakit ketika harus menerima kenyataan bahwa obat itu bisa “hampir” diraih tetapi tidak dapat digunakan, dengan menyebut: “when there was a drug that I just could almost reach but couldn’t get”, adalah “so incredibly painful”. Ia kemudian menutup dengan kalimat yang menandai betapa besar artinya bagi keluarga: “To know that I can get it now is absolutely everything.”












