Pendidikan

Suntikan insulin mingguan untuk diabetes tipe 2 berpotensi menggantikan suntikan harian

×

Suntikan insulin mingguan untuk diabetes tipe 2 berpotensi menggantikan suntikan harian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Weekly type 2 diabetes jab could replace daily injections

jurnalistik.co.id – Terapi insulin bagi penderita diabetes tipe 2 berpotensi mengalami perubahan besar: suntikan yang biasanya diberikan setiap hari dapat digantikan dengan penyuntikan sekali seminggu. Jika disetujui, jumlah suntikan yang dibutuhkan setiap tahun disebut bisa turun hingga 86%.

Menurut laporan tersebut, pasien tetap perlu menunggu keputusan dari otoritas regulator obat sebelum terapi ini tersedia. Uji dan rekomendasi yang dibahas menyatakan terapi tersebut bekerja sama baiknya dengan suntikan insulin harian, namun hanya memerlukan injeksi satu kali dalam seminggu.

Di balik wacana peralihan jadwal ini, Diabetes UK menilai pendekatan mingguan dapat membantu pengelolaan kondisi pasien, khususnya bagi kelompok yang membutuhkan dukungan lebih intens. Fokusnya mencakup mereka yang selama ini memerlukan bantuan untuk melakukan suntikan harian.

Dari sisi gambaran penyakit, data yang disebutkan menunjukkan bahwa sekitar 4,7 juta orang di Inggris hidup dengan diabetes pada periode 2024–2025. Dari jumlah itu, kira-kira 90% di antaranya merupakan diabetes tipe 2.

Kondisi diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup, atau insulin yang diproduksi tidak bekerja secara efektif. Kondisi ini juga dikenal sebagai resistensi insulin.

Di konteks penggunaan insulin, Diabetes UK menyebut sekitar 1 dari 4 orang dengan diabetes tipe 2 menggunakan insulin. Artinya, perubahan metode penyuntikan berpotensi berdampak langsung pada rutinitas perawatan yang selama ini banyak dilakukan secara harian.

Keleluasaan jadwal dan siapa yang paling diuntungkan

Perpindahan dari suntikan harian ke suntikan mingguan dinilai paling mungkin memberi manfaat bagi pasien yang selama ini bergantung pada bantuan untuk menyuntik. Kelompok tersebut bisa mencakup orang yang lebih rapuh secara fisik, memiliki gangguan penglihatan, mengalami keterbatasan gerak tangan, hingga mereka yang memiliki disabilitas intelektual.

Bukan hanya soal kondisi fisik. Mereka yang kesulitan mengikuti langkah-langkah dalam proses penyuntikan harian, atau yang menghadapi tantangan untuk konsisten menjalani regimen perawatan, juga disebut berpotensi lebih terbantu oleh obat baru ini.

Douglas Twenefour, kepala bagian klinis di Diabetes UK, menyampaikan: “For some, especially those with additional care needs, moving from daily insulin injections to a once-weekly option could help manage their diabetes more easily, improving their quality of life. “It’s essential that everyone who could benefit is supported by their healthcare team to make informed decisions, and that this treatment helps reduce inequities in diabetes care.”

Dalam pandangannya, dukungan dari tim layanan kesehatan menjadi kunci agar keputusan yang diambil selaras dengan kebutuhan masing-masing pasien.

Rekomendasi lembaga penilaian dan tahap persetujuan berikutnya

Di sisi lain, Helen Knight selaku direktur penilaian obat di NICE, menilai rekomendasi untuk terapi suntikan mingguan dapat memberi dampak nyata pada kehidupan sehari-hari penderita diabetes tipe 2. Ia menekankan terapi ini khususnya relevan bagi mereka yang bergantung pada karer, anggota keluarga, atau profesional kesehatan untuk membantu proses penyuntikan.

Helen Knight mengatakan: “This recommendation is the result of rigorous, evidence-based decision making, striking a balance between the benefits to patients and the best use of limited NHS funding.”

Ia juga menyatakan bahwa terapi ini dapat membuat “real difference to the day-to-day lives of people with type 2 diabetes, especially those who rely on a carer, family member or healthcare professional to help them inject”.

Lebih lanjut, persetujuan awal untuk terapi ini datang dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE). NICE adalah badan yang menentukan obat dan perawatan apa yang dapat tersedia di NHS.

Namun sebelum pasien dapat mengakses terapi ini melalui layanan kesehatan nasional, terapi tersebut masih perlu memperoleh izin lisensi dari regulator obat. Dalam pemberitaan itu, disebutkan bahwa otoritas yang dimaksud adalah Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA).

Pihak kesehatan menyatakan pihaknya menunggu keputusan MHRA untuk memahami apakah terapi ini bisa diterapkan secara luas di layanan NHS.

Secara cakupan wilayah, panduan NICE digunakan oleh NHS di Inggris, dan NHS di Wales juga kerap mengikuti rekomendasi tersebut. Akan tetapi, aturan yang sama tidak diterapkan otomatis di Irlandia Utara, karena prosesnya ditinjau oleh Department of Health. Sementara itu, di Skotlandia proses penilaiannya dikelola oleh Scottish Medicines Consortium.

Dengan demikian, perubahan jadwal suntikan—dari harian menjadi mingguan—masih berada pada tahap transisi kebijakan. Walau rekomendasi awal sudah ada, ketersediaan bagi pasien masih bergantung pada persetujuan akhir regulator obat.

Jika pada akhirnya disetujui, terapi sekali seminggu yang mampu memangkas kebutuhan suntikan hingga 86% ini diharapkan tidak hanya mengubah beban administrasi perawatan, tetapi juga memperbaiki pengalaman hidup pasien yang selama ini menghadapi keterbatasan fisik maupun dukungan terbatas untuk menjalani suntikan harian.