Internasional

Trump Disebut Disembunyikan di Truk Katering saat Pergantian Pesawat Diam-diam Usai Ancaman Iran

×

Trump Disebut Disembunyikan di Truk Katering saat Pergantian Pesawat Diam-diam Usai Ancaman Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trump hid in catering truck in secret plane swap over Iran threat, reports say

jurnalistik.co.id – Donald Trump disebut menjalani rencana pemindahan pesawat secara diam-diam saat berangkat dari KTT NATO di Turki. Langkah tersebut dilaporkan dilakukan sebagai respons terhadap ancaman kredibel dari Iran terhadap pesawat yang ditumpangi presiden.

Laporan tersebut mengemuka setelah Trump meninggalkan pertemuan di Ankara pada bulan lalu, dan prosesnya berlangsung tanpa sepengetahuan sebagian jurnalis serta staf Gedung Putih yang berada di dalam pesawat. Pihak berwenang menyampaikan kepada BBC melalui mitra AS-nya, CBS News, bahwa AS telah mendeteksi ancaman yang dinilai kredibel untuk menembakkan rudal ke pesawat.

Hingga kini, Gedung Putih belum mengonfirmasi laporan pergantian pesawat tersebut. Namun, selama KTT NATO, Trump sebelumnya menyatakan bahwa dirinya adalah sasaran utama Iran.

Operasi ruse di tengah perjalanan

Menurut Washington Post, Trump sempat menaiki Air Force One dengan posisi yang terlihat oleh kamera televisi. Setelah itu, dia dipindahkan ke pesawat militer melalui truk katering, sehingga orang-orang di dalam pesawat tidak mengetahui bahwa presiden telah dibawa keluar.

Jurnalis dan beberapa staf di dalam penerbangan tersebut tidak diberi tahu bahwa Trump tidak lagi berada di kabin. Dalam laporan yang sama, pejabat juga menyebutkan bahwa ancaman Iran yang terdeteksi diarahkan untuk menyerang pesawat yang membawa presiden.

Langkah yang dijalankan secara terselubung itu muncul sehari setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Pemutusan negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang disebut menjadi latar belakang dari tindakan tersebut.

Rangkaian pesawat dari Ankara hingga kembali ke AS

Trump tiba di Turki dengan Boeing 747-8 yang lebih baru dan didonasikan Qatar. Meski begitu, dia mengumumkan bahwa kepulangannya akan menggunakan Air Force One yang lebih lama, dengan alasan “for old time’s sake”.

Pada 8 Juli, rekaman memperlihatkan Trump menaiki pesawat kepresidenan di Bandara Ankara. Akan tetapi, laporan Washington Post menyebutkan bahwa setelah proses itu, Trump diam-diam dibawa ke C-32A, sebuah pesawat militer berukuran lebih kecil yang merupakan modifikasi Boeing 757 dan sering dipakai wakil presiden.

Proses pemindahan tersebut dilakukan menggunakan truk katering yang diarahkan naik hingga ketinggian level pesawat. Truk itu diposisikan di sisi berlawanan dari tempat Trump awalnya terlihat menaiki pesawat, sehingga perubahan kendaraan tampak berbeda dari sudut pandang kru dan penumpang.

Sekretaris Pertahanan Pete Hegseth juga disebut naik ke C-32A secara terpisah, menggunakan tangga luar. Sementara itu, para jurnalis yang telah lebih dulu berada di Air Force One dilaporkan diminta menutup pelapis jendela, dan mereka tidak menyadari bahwa Trump sudah berpindah.

Secara teknis, “Air Force One” adalah nama panggilan untuk pesawat mana pun yang membawa presiden AS. Pada insiden ini, C-32A menggunakan call sign “Reach 18”, sedangkan pesawat yang mengangkut jurnalis tetap menggunakan “AF1” agar rencana tersebut tidak mudah terdeteksi.

Setelah itu, Trump terbang menuju Inggris dalam perjalanan lanjutan ke AS. Di tahap berikutnya, dia kembali naik ke Air Force One yang lama, lalu terlihat turun dari pesawat setelah mendarat di RAF Mildenhall, meski rincian bagaimana Trump berpindah dari C-32A ke jet legasi tersebut tidak dijelaskan.

Selanjutnya, presiden dipindahkan ke pesawat Air Force One versi baru yang didonasikan Qatar untuk perjalanan pulang ke Washington. Dalam penerbangan tersebut, Trump berbicara kepada wartawan dan menyebut adanya ancaman dari Iran, tetapi tidak menyinggung rencana swap pesawat yang terjadi sebelumnya.

Jawaban Trump saat ditanya soal penutupan jendela

Ketika ditanya mengapa jurnalis diminta menurunkan pelapis jendela selama penerbangan dari Turki, Trump menjawab: “Because you’re probably on a dangerous flight because of the sleazebags we have to deal with.”

Ia juga mengatakan dirinya menghadapi ancaman “all the time” dan menyebut dirinya adalah “number one” dalam daftar Iran. Dalam percakapan itu, Trump menambahkan: “But if I go, you go, right?” lalu: “Perhaps someday you want to change professions.”

Sikap Gedung Putih dan konteks keamanan

Direktur komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, tidak secara langsung mengonfirmasi maupun membantah laporan tersebut. Ia menyatakan bahwa Air Force One yang baru adalah pesawat “state-of-the-art aircraft” yang dipasangi langkah-langkah keamanan untuk melindungi presiden dan stafnya.

Selain itu, pelaporan sebelumnya dari CBS News menyebut bahwa intelijen AS pernah memperingatkan adanya ancaman spesifik serangan terhadap Trump atau pesawatnya. Laporan lain dari New York Times juga mengangkat kekhawatiran keamanan terkait pesawat yang didonasikan Qatar, termasuk informasi bahwa Secret Service mendorong Trump untuk mengganti pesawat saat kembali dari KTT NATO.

Sejumlah jurnalis New York Times kemudian dipanggil untuk bersaksi di bawah sumpah. Setelah itu, Departemen Kehakiman menyampaikan kepada BBC bahwa pihaknya sedang menyelidiki dugaan kebocoran ilegal.

Menurut keterangan, AS telah menghabiskan berbulan-bulan untuk melakukan retrofitting pada Boeing 747-8 senilai $400m guna mempersiapkan pesawat tersebut bagi presiden. Sumber-sumber dari CBS News juga menyebutkan bahwa Air Force One yang lebih lama memiliki teknologi laser untuk membutakan rudal yang masuk, sementara belum jelas sistem apa yang dimiliki jet versi Qatar.

Dalam pernyataan kepada CBS News, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, “The new Air Force One is perfectly safe for the president’s travels, but will receive additional upgrades and enhancements in the fall which will take approximately one month to complete.”