jurnalistik.co.id – Kekhawatiran meningkat terkait kondisi di kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah berada di laut selama lebih dari 250 hari. Sejumlah laporan menyebut adanya kekurangan makanan, kerusakan plumbing, kelelahan, hingga gangguan kesehatan mental, yang kemudian mendorong para senator meminta penjelasan dari Pentagon.
Fakta bahwa awak kapal menjalani masa pelayaran panjang itu juga disebut menekan otoritas pemerintahan, termasuk dalam konteks perang Iran. Dalam pemberitaan media militer, ada pula laporan beberapa pelaut mempertimbangkan untuk terjun ke laut.
Secretary of Defense Pete Hegseth pada Kamis mengatakan laporan tentang kondisi buruk tersebut âcompletely misrepresentedâ. Ia menilai pemerintah telah memastikan tiap kapal memperoleh dukungan yang diperlukan sepanjang waktu.
Kapal tersebut berangkat dari California pada November untuk kawasan Laut Cina Selatan. Setelah itu, USS Abraham Lincoln dikirim ke Timur Tengah menjelang serangan terhadap Iran pada Februari.
Pengerahan yang semula dijadwalkan berakhir pada Mei dilaporkan berkali-kali diperpanjang. Hingga hari Kamis, tidak disebutkan tanggal kepulangan, tetapi beberapa outlet pada hari yang sama melaporkan Amerika Serikat menyiapkan penggantian kapal dengan USS George Washington dalam rencana rotasi yang telah dijadwalkan sebelumnya.
BBC menyatakan telah menghubungi Pentagon terkait pemberitaan mengenai rencana penggantian tersebut. Sementara itu, perdebatan di tingkat legislator justru semakin menguat setelah daftar keluhan dari dalam kapal dipaparkan.
Senator Richard Blumenthal dari Connecticut merinci berbagai kesulitan yang disebut dialami sekitar 5.000 orang di USS Abraham Lincoln dalam sebuah surat kepada Hegseth. Ia menuliskan, âShortages of basic supplies, water contamination, plumbing issues, deteriorating mental health, deck safety concerns, and disruptions in the mail system, which have caused many care packages in route to the ship to be lost in transit for months.â
Blumenthal menyatakan bahwa laporan tersebut layak ditangani segera. Ia menulis, âThese reports warrant immediate attention,â dan menambahkan bahwa âthey also raise a broader question: whether the Navy can sustain the operational tempo now being demanded of its carrier force.â
Senator Demokrat lainnya, Ruben Gallego, juga menyerukan adanya pengawasan langsung. Ia meminta militer mengizinkan delegasi kongres mengunjungi kapal untuk âconduct oversight investigation into this horrible situation,â dan menambahkan melalui unggahan di X, âThere is no reason to be denied access.â
Selain respons dari legislator, CBS Newsâmitra BBC di ASâmengutip dua pejabat yang tidak disebutkan namanya mengenai insiden bulan ini. Laporan tersebut menyebut seorang pelaut terjun ke laut dan kemudian diselamatkan helikopter, diberi perawatan oleh departemen medis, serta dipindahkan untuk perawatan lanjutan.
BBC menyebut kondisi insiden tersebut masih dalam penyelidikan. Di pemberitaan lain, Military Times dan Stars and Stripes melaporkan bahwa berdasarkan keterangan keluarga, beberapa anggota dinas sempat mempertimbangkan bunuh diri dengan cara terjun ke laut.
Berita Terkait
Media tersebut juga menyatakan bahwa paparan masa di laut yang berkepanjangan dan kondisi di kapal disebut berdampak pada kesehatan mental. Laporan lebih lanjut menyebut kondisi yang ikut memicu kesulitan antara lain tidak bisa membersihkan pakaian selama lebih dari seminggu dan tidak mendapatkan makanan segar karena kunjungan pelabuhan yang jarang, sementara prajurit tidak selalu diizinkan turun dari kapal.
Anggota DPR dari California, Mike Levin, merangkum isu-isu itu dalam unggahan di X. Ia menulis: âmoldy showers, broken toilets, laundry down for weeks, long stretches with no hot water, a meal that came down to half a cup of rice and two tortillas. No soap, deodorant, or toothpaste. â
Menanggapi rangkaian laporan tersebut, seorang pejabat Angkatan Laut yang diwawancarai BBC menyatakan pihaknya belum menemukan peningkatan âreported suicidal ideation or suicide attempts aboard the shipâ. Pejabat itu juga mengatakan âtraditional supply hubsâ mengalami gangguan akibat âcombat actionsâ.
Pejabat tersebut menekankan prioritas penyaluran kebutuhan. Ia mengatakan, âFirst food, then hygiene items, then mail,â serta menegaskan bahwa Angkatan Laut saat itu memprioritaskan distribusi âmission-critical suppliesâ ke kapal.
Menurut pernyataan pejabat itu, kondisi yang dilaporkan dari kapal tetap mencakup akses air bersih. Ia menyebut, âCurrent reports from the ship confirm continuous access to clean water, functional AC (air conditioning), and healthy meal options.â
Saat berbicara kepada wartawan di Panama pada Kamis, Hegseth juga menyinggung prinsip dukungan logistik. Ia menyatakan, âevery ship, every crew, every captain has everything we can provide them at every single momentâ.
Ia menambahkan, âSome deployments are longer than others, and I have more respect and gratitude for those sailors than anybody,â dan menutup dengan, âWhat they do in those high seas in those austere conditions with less port calls – itâs incredible.â
Ketika ditanya mengenai kondisi di kapal, juru bicara Trump, Olivia Wales, mengatakan pihaknya menyampaikan komitmen untuk memastikan kebutuhan militer. Ia menyatakan, baik Hegseth maupun Trump berkomitmen agar militer AS memiliki âequipped with the resources necessary to counter any threat to the United Statesâ.
Dalam konteks pelayaran panjang sebelumnya, disebut bahwa Angkatan Laut pernah mengambil langkah untuk menyediakan hiburan bagi prajurit. Publikasi Stars & Stripes melaporkan adanya aktivitas seperti bingo, sesi seni, dan lomba menyanyi.
Artikel tersebut juga menyinggung studi mengenai tekanan psikologis di lingkungan kapal perang. Studi yang dirilis Januari 2025 atas 956 pelaut menyebut bahwa pasukan di kapal Angkatan Laut AS memiliki tingkat tertinggi untuk âserious psychological distressâ dibandingkan cabang lain dalam militer AS.
Studi itu menyebut âunique stressors, such as poor habitability, noise, and demanding schedules that leave inadequate time for sleep and restâ. Di sisi lain, USNI News melaporkan bunuh diri tetap menjadi penyebab kematian utama di Angkatan Laut AS dan Marinir.
Analisis data militer oleh USNI News juga menyoroti bahwa para veteran memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibandingkan warga yang tidak pernah melayani. Dengan latar tersebut, desakan pengawasan terhadap kondisi di USS Abraham Lincoln memperoleh momentum baru di tengah protes legislator.












