Bisnis & Ekonomi

Trump Tolak Usulan Iran, Imbal Hasil US Treasury Tanjak Tajam – Market

×

Trump Tolak Usulan Iran, Imbal Hasil US Treasury Tanjak Tajam – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Yield US Treasury Melonjak Usai Trump Tolak Tawaran Terbaru Iran - Market

jurnalistik.co.id – Aksi jual di pasar obligasi Amerika Serikat makin menguat pada Senin (28/9/2026) setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan itu dinilai memperpanjang risiko guncangan energi, dan pada akhirnya mendorong imbal hasil US Treasury naik di banyak tenor.

Tekanan jual tercermin dari turunnya harga surat utang, yang kemudian membuat imbal hasil bergerak berlawanan arah. Di tengah pergeseran ekspektasi pasar, investor juga makin menakar kemungkinan suku bunga acuan tetap berada pada jalur pengetatan untuk membendung laju inflasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 9 basis poin menjadi 5,25%. Angka tersebut menjadi level tertinggi baru dalam 19 tahun, menandai berkurangnya toleransi pasar terhadap aset berisiko rendah imbal hasil di periode terakhir.

Lonjakan juga terjadi pada segmen tenor yang lebih pendek. Para trader bersiap menghadapi skenario Federal Reserve terus menaikkan suku bunga demi menekan inflasi, sehingga arus keluar dari obligasi makin intens di sepanjang kurva imbal hasil.

Tenor panjang ikut terdorong ke level tertinggi

Di bagian yang lebih panjang, imbal hasil surat utang 30 tahun melonjak hingga 5,57%. Level ini merupakan titik tertinggi sejak 2004, memperlihatkan bahwa pelemahan obligasi tidak hanya terjadi di tenor menengah, melainkan merambah instrumen jangka panjang yang biasanya lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan dan premi risiko.

Aksi jual juga dipengaruhi transmisi dari kenaikan harga minyak ke perekonomian global. Ketika biaya energi menguat, pasar obligasi di sejumlah negara ikut mengalami tekanan, karena prospek biaya produksi dan inflasi yang lebih tinggi ikut membentuk ulang penilaian risiko.

Di AS sendiri, pasar turut mempertimbangkan kombinasi faktor makro. Aktivitas bisnis yang menguat dan kekhawatiran mengenai tingkat utang pemerintah menjadi pendorong tambahan bagi aksi jual US Treasury pada hari tersebut.

Selain itu, dinamika pasar obligasi disebut menjadi yang terbesar sejak kebijakan tarif Trump diterapkan pada April 2025. Tarukannya terhadap ketidakpastian ekonomi dan jalur inflasi membuat investor lebih agresif menggeser portofolio, sehingga volatilitas di pasar obligasi meningkat.

“Meski ada periode ketika kebijakan moneter dan/atau data ekonomi mengalahkan fluktuasi harga minyak, jelas bahwa potensi dampak perang dengan Iran terhadap ekonomi global tetap menjadi pendorong utama narasi makro,” kata Ian Lyngen, kepala strategi suku bunga AS di BMO Capital Markets.

Dalam kerangka itulah, penolakan Trump atas usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz ditempatkan sebagai katalis utama. Pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal bahwa ketidakpastian terkait rantai pasokan energi berpeluang berlanjut, sehingga imbal hasil terdorong naik dan harga obligasi tertekan.

Dari sisi ekspektasi kebijakan, perubahan harga obligasi memperlihatkan bahwa investor tidak hanya menilai dampak geopolitik, tetapi juga tetap mengutamakan jalur Federal Reserve ke depan. Dengan berbagai tenor menunjukkan kenaikan, kombinasi kekhawatiran inflasi dan faktor utang pemerintah ikut mengubah peta risiko di pasar pendapatan tetap.

Hasilnya, kurva imbal hasil bergerak lebih tinggi secara menyeluruh pada hari Senin. Ketika imbal hasil 10 tahun dan 30 tahun sama-sama mencapai level puncak historisnya masing-masing, pelaku pasar cenderung semakin menuntut kompensasi yang lebih besar untuk menahan posisi obligasi, terutama di tengah ketidakpastian energi dan arah kebijakan moneter.

Lonjakan imbal hasil yang meluas ke beberapa segmen menegaskan bahwa pasar sedang melakukan penilaian ulang secara menyeluruh. Perubahan ini membuat durasi kepemilikan obligasi lebih sering dipertimbangkan ulang, terutama ketika ekspektasi inflasi tetap menjadi sorotan.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian investor juga tetap terarah pada arah kebijakan moneter. Dengan kurva imbal hasil bergerak naik secara menyeluruh, pelaku pasar cenderung menuntut kompensasi yang lebih memadai, sejalan dengan persepsi risiko energi dan beban ketidakpastian ekonomi yang masih terasa.