jurnalistik.co.id – Baroness Brown, ketua Climate Change Committee (CCC), memperingatkan bahwa nyawa dapat melayang jika Inggris tidak melakukan langkah yang lebih kuat untuk menekan risiko kebakaran hutan yang terus meningkat. Ia menilai pemerintah belum mengambil tindakan yang memadai, terutama di tengah musim panas yang makin panjang dan kering akibat pemanasan global.
Dalam wawancara yang dikutip dari investigasi BBC File on 4 Investigates, Baroness Brown menyampaikan bahwa prediksi ancaman kebakaran hutan telah lama diketahui, tetapi respons yang ada dinilainya belum cukup. Ia menegaskan kondisi tersebut membuat situasi semakin berbahaya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko.
Ia menyebutkan bahwa CCC sejak 2012 sudah memperingatkan adanya potensi lebih seringnya kebakaran hutan akibat kondisi yang lebih hangat dan kering. “The warnings have been there and not enough action has been taken,” kata Baroness Brown, lalu menambahkan kekhawatirannya terhadap dampak yang bisa terjadi.
Baroness Brown berkata, “I fear that lives will be lost. We need to be doing much more education and preparation.” Menurutnya, peningkatan tidak hanya berhenti pada kesiapan petugas, melainkan juga mencakup pendidikan kepada publik dan persiapan yang lebih serius.
Ia menilai persiapan harus mencakup investasi pada tim spesialis beserta peralatan, namun juga perencanaan di tingkat lanskap, termasuk penataan hutan dan rencana pemutus api (fire breaks). Ia turut menyinggung pentingnya sistem peringatan dini untuk memberi waktu respons yang lebih cepat.
Baroness Brown juga menyoroti bahwa risiko kebakaran hutan dapat menjadi dua kali lipat pada banyak wilayah Inggris hingga tahun 2050. Pernyataan tersebut disampaikan dengan merujuk pada arah tren cuaca dan dampak pemanasan global.
Data yang ditunjukkan BBC mengacu pada angka National Fire Chiefs Council, yang menyebut 2026 menjadi rekor kebakaran hutan tertinggi sepanjang masa di Inggris dan Wales. Tercatat 1.350 kebakaran hutan, naik lebih dari 300 dibanding tahun sebelumnya dan naik lebih dari 1.000 dibanding 2024. Rekor serupa juga terjadi pada 2022 dan 2025, menandakan lonjakan yang berulang dan sulit ditekan.
Pemerintah, dalam penjelasannya, menyebut tengah menginvestasikan hampir ÂŁ100 juta untuk memperkuat kemampuan ketahanan nasional. Investasi itu, menurut pemerintah, termasuk upaya uji coba tim pemadam yang telah mendapat pelatihan khusus.
Namun, contoh nyata dampak kebakaran hutan disebutkan dalam laporan tersebut. Seorang pria meninggal dunia akibat kebakaran hutan di Gloucestershire, sementara 19 rumah hancur di Stourbridge, dekat Birmingham. Di wilayah lain, warga bahkan dievakuasi dari Cairngorms.
Berita Terkait
Kisah yang dibawa BBC juga menampilkan keluarga Uttam dan Sandy Shiralkar di Stourbridge. Rumah mereka termasuk salah satu dari 19 rumah yang terdampak pada Agustus. Sandy, yang berprofesi sebagai dokter bedah (surgeon), mengatakan, “We saw the complete destruction of the house. There was no roof, no floorboards. Nothing. No-one should have this experience.”
Uttam menjelaskan bahwa kerugian yang dialami tidak hanya bersifat materi, tetapi juga mengubah kehidupan sehari-hari. Ia menyatakan, “Every loss is painful, but losing a house has got a different dimension. Coming back to normality is going to take a long time.”
Laporan itu menyebut kebakaran bermula secara tidak disengaja di ladang sekitar Stourbridge, saat mesin pertanian digunakan pada hari terpanas dalam setahun. Kini pasangan tersebut tinggal di akomodasi sementara, menunggu proses pemulihan yang diperkirakan panjang.
Di saat risiko kebakaran makin tinggi, jumlah petugas pemadam juga disebut mengalami penurunan. Steve Wright, sekretaris jenderal Fire Brigades Union yang mewakili pemadam kebakaran, mengatakan lebih dari seperlima pos pemadam dan ruang kontrol di seluruh Inggris telah dipangkas sejak 2010—sekitar 12.000 pekerjaan—sehingga kru dinilai berada dalam kondisi yang berisiko overstretched selama musim panas.
Wright menggambarkan perubahan mobilisasi ketika beberapa wilayah menghadapi kebakaran secara bersamaan. “We had firefighters from London being mobilised to Yorkshire, firefighters from Merseyside being mobilised to Dorset,” ujarnya, lalu menekankan efek utamanya: “The effect, when you have wildfires happening at the same time across the UK, is there’s just not enough firefighters on the ground to be able to deal with them.”
Sementara itu, Phil Garrigan, ketua National Fire Chiefs Council yang mewakili manajer senior layanan pemadam dan penyelamatan, menyambut investasi ÂŁ97 juta untuk menyediakan enam tim pemadaman spesialis yang bekerja di seluruh Inggris. Namun, ia menilai tambahan dukungan tetap diperlukan.
Garrigan menekankan perlunya peningkatan kemampuan pemadaman dari udara serta perbaikan peralatan spesialis bagi petugas. Ia menegaskan, “The money has to be there, otherwise we’ll be going into 2027 and 2028 with a likely occurrence that we’ll see what we’ve seen in 2026, which is 50 plus homes lost and families devastated by the impacts of wildfire. We’ve got to get ahead of that.”
Menurut pemerintah, investasi itu juga akan menjadi peningkatan terbesar untuk ketahanan nasional selama 20 tahun. Peralatan berteknologi lebih mutakhir, termasuk kendaraan off-road khusus, disebut akan dibeli sebagai bagian dari paket ÂŁ97 juta tersebut.
Di tengah tren rekornya kebakaran hutan, Baroness Brown kembali menekankan bahwa edukasi, persiapan, perencanaan wilayah, serta peringatan dini harus berjalan bersamaan. Ia menilai langkah-langkah tersebut menjadi kunci agar risiko tidak terus melebar dan korban jiwa dapat dicegah.












