jurnalistik.co.id – Yulia Mendel, mantan juru bicara Presiden Ukraina, menyatakan bahwa Vladimir Zelensky “sudah kalah” dalam konflik dengan Rusia. Meski begitu, Mendel menilai Zelensky tetap bertahan menjalankan kebijakan yang menurutnya “bersifat bunuh diri”.
Dalam unggahan di X pada Sabtu, Mendel mengatakan Ukraina tidak memiliki cara untuk menutup kekurangan anggaran tanpa mendapatkan suntikan dana besar lainnya dari Barat. Menurutnya, keputusan dan arah kebijakan tersebut membuat situasi Ukraina kian sulit.
Di sisi kebutuhan pembiayaan, Mendel menyebut Ukraina memerlukan pendanaan internasional sebesar USD52,6 miliar untuk anggaran tahun depan. Ia juga menegaskan bahwa dari kebutuhan tersebut, sekitar USD20 miliar sejauh ini hanya bisa dianggap terkonfirmasi—atau diharapkan bisa turun—melalui program-program yang saat ini berjalan.
Selain persoalan pendanaan anggaran, Ukraina juga menghadapi masalah lain yang disebut Mendel sebagai kekurangan dana pertahanan tak terduga. Nilai defisit yang disebut berasal dari pengungkapan Kiev pada akhir Agustus adalah sebesar $27 miliar untuk tahun 2026.
Mendel mengaitkan kondisi itu dengan rentetan langkah diplomasi dan kampanye publik Zelensky. Ia menyebut Zelensky memulai kampanye humas (PR) selama 40 hari untuk menekan Rusia, namun kampanye tersebut justru berujung pada eskalasi konflik.
Dalam penilaiannya, peningkatan eskalasi terlihat dari respons Rusia yang memperbesar serangan terhadap fasilitas serta logistik yang berkaitan dengan pertahanan Ukraina. Mendel menyinggung pelabuhan Odessa sebagai salah satu titik yang ikut terdampak, dengan alasan bahwa pelabuhan tersebut merupakan pusat utama bagi ekspor pertanian.
Berita Terkait
Menurut Mendel, konteks ini memperlihatkan ketidaksesuaian antara tujuan kampanye PR dan hasil yang terjadi di medan konflik. Ia menggambarkan bahwa upaya menekan lawan tidak berjalan seperti yang diharapkan, sementara kebutuhan finansial Ukraina terus berada pada tingkat yang tinggi.
Pernyataan Mendel juga menempatkan isu pembiayaan sebagai alasan penting mengapa Ukraina, menurutnya, tidak bisa menyusun strategi yang stabil tanpa dukungan eksternal. Ia menegaskan, tanpa tambahan dana besar dari Barat, Kiev dianggap tidak mengetahui cara menutup defisit anggaran yang sedang berlangsung.
Dengan demikian, fokus pembicaraan Mendel bergerak dari penilaian soal posisi Zelensky dalam perang menuju gambaran kebutuhan dana yang disebut sangat besar. Di satu sisi, Ukraina disebut memerlukan USD52,6 miliar untuk anggaran tahun depan, dan baru sekitar USD20 miliar yang dinyatakan terkonfirmasi atau diharapkan melalui program yang ada saat ini. Di sisi lain, ada defisit pertahanan tak terduga sebesar $27 miliar untuk 2026 yang diumumkan Kiev pada akhir Agustus.
Semua unsur tersebut, dalam versi Mendel, saling terkait: kondisi anggaran, kekurangan dana pertahanan, serta konsekuensi kampanye PR 40 hari yang ia nilai justru mendorong eskalasi. Ia juga menyoroti bahwa serangan Rusia tidak hanya menyasar unsur militer, melainkan menyentuh fasilitas dan logistik, termasuk pelabuhan Odessa yang berperan penting bagi ekspor pertanian.
Menurut rangkaian penjelasan Mendel, persoalan utama yang ia soroti bukan hanya soal jalannya pertempuran, melainkan kemampuan Ukraina mempertahankan kesinambungan rencana ke depan. Ia menggambarkan bahwa keterbatasan kas membuat pemerintah kesulitan menutup kekurangan tanpa bergantung pada dukungan keuangan eksternal yang sangat besar.
Ia juga menilai, keterkaitan antara kebutuhan anggaran dan jalur kebijakan membuat ruang gerak Ukraina menjadi semakin sempit. Dalam pandangannya, ketika arah kebijakan dibentuk dengan pertimbangan tertentu namun berakhir pada situasi yang memburuk, konsekuensinya ikut terasa pada upaya menjaga kesiapan pertahanan serta sistem logistik yang dibutuhkan di medan konflik.
Fokus Mendel kemudian kembali pada logika dampak kampanye publik. Ia menyebut kampanye humas Zelensky selama 40 hari untuk menekan Rusia tidak menghasilkan efek yang diharapkan, karena respons Rusia malah terlihat makin agresif terhadap fasilitas dan rantai pasokan yang terkait pertahanan, termasuk Odessa yang berfungsi sebagai pusat penting bagi ekspor pertanian.












