jurnalistik.co.id – Perundingan damai antara Rusia dan Ukraina berlangsung dengan nuansa simbolik, namun perbedaan mendasar di antara kedua pihak masih tetap terlihat jelas. Utusan Amerika Serikat sudah bertemu Vladimir Putin dan Volodymyr Zelensky, tetapi ekspektasi di Kyiv justru mengarah pada kelanjutan pertempuran.
Dalam pertemuan di Kyiv, sejumlah momen ditampilkan sebagai isyarat politik yang disengaja. Donald Trump mengutus envoys yang untuk pertama kalinya menginjak tanah Ukraina sejak invasi penuh Rusia dimulai.
Utusan tersebut tiba dengan perjalanan darat, bukan pesawat. Mereka menggunakan kereta karena tidak ingin mengambil risiko terbang dan menghadapi “gauntlet” serangan drone Rusia.
Trump envoys duduk di meja Kremlin hanya beberapa jam sebelum kemudian berada di Kyiv, sesuai rangkaian pertemuan mereka. Kontras waktu itu—dari Moskow ke Kyiv dalam jarak pendek—menjadi bagian dari pertunjukan simbolik perundingan.
Simbol berikutnya muncul saat Zelensky menyambut Steve Witkoff dan Jared Kushner di Katedral Saint Sophia, Kyiv. Tempat tersebut tidak hanya dikenal sebagai ikon sejarah kuno Ukraina, tetapi juga berjarak beberapa meter dari lokasi drone Rusia menyerang kantor pusat layanan keamanan Ukraina pada Jumat lalu.
Itulah cara Zelensky menyampaikan pesan tanpa perlu penjelasan panjang, dengan menghadapkan simbol pertemuan damai pada realitas serangan yang masih terjadi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan selama beberapa jam di Kyiv.
Sesudah itu, sejumlah penasihat keamanan nasional Eropa turut bergabung. Di antaranya adalah National Security Adviser Inggris Jonathan Powell.
Setelah seluruh rangkaian berlangsung, semua pihak berbicara hangat mengenai diskusi yang disebut substantif. Mereka juga menyatakan harapan untuk menghidupkan kembali “trilateral talks” yang melibatkan Amerika Serikat dan Eropa.
Perbedaan narasi di balik pertemuan
Meski nada perbincangan terdengar positif, isi perbedaan yang diperdebatkan tidak menyatu. Utusan AS datang dari Moskow setelah Putin menyampaikan klaim bahwa Rusia tengah membuat “tangible advances” di medan tempur.
Cerita yang disampaikan Ukraina justru berlawanan. Pejabat Ukraina mengklaim bahwa pada bulan Agustus mereka memperoleh lebih banyak wilayah daripada yang hilang, serta menyebut Rusia mengalami 42.000 korban, baik tewas maupun luka-luka.
Berita Terkait
Di pembicaraan dengan utusan Amerika, Putin juga menekankan bahwa akar persoalan konflik harus ditangani. Pernyataan itu dipahami sebagai ringkasan dari tuntutan strategis yang sudah lama ia gaungkan: Ukraina menyerahkan wilayah, melepaskan harapan bergabung dengan NATO, dan mengurangi ukuran angkatan militernya.
Setelah pertemuan berakhir, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan jaminan keamanan yang “strong and clear”. Ia juga menekankan perlunya angkatan bersenjata yang kuat sebagai bagian dari jaminan tersebut.
Zelensky tidak menunjukkan sinyal kesediaan untuk menyerahkan wilayah di kawasan Donbas bagian timur. Ia menyebut isu itu “difficult” secara singkat dan datar.
Kemungkinan kompromi dan proyeksi musim dingin
Steve Witkoff menyatakan bahwa ada kemajuan dan bahwa unsur-unsur penyelesaian sudah tersedia. Namun ia mengakui bahwa kedua pihak tetap harus membuat kompromi untuk mempersempit jarak perbedaan.
Di Kyiv, penilaian terhadap kelanjutan langkah kompromi tidak optimistis. Sulit untuk melihat salah satu pihak benar-benar bersedia melakukan perubahan besar yang diperlukan.
Karena itu, ekspektasi di Kyiv saat ini adalah pertempuran akan berlanjut. Warga setempat juga bersiap menghadapi musim dingin yang dinilai berat.
Sejumlah diplomat menyebut kemungkinan adanya “window of opportunity” untuk perjanjian pada musim semi berikutnya. Tetapi ada pula pihak yang kurang yakin dan menilai peluang itu tidak mudah diwujudkan.
Zelensky menyampaikan terima kasih kepada envoys AS. Ia mengaitkan apresiasi tersebut dengan jeda jangka pendek dalam serangan udara yang disepakati kedua pihak, yang memberi warga Kyiv waktu singkat untuk bernapas.
Meski demikian, tidak banyak yang memperkirakan jeda itu akan bertahan lama. Dengan kata lain, perundingan yang sarat simbol belum cukup untuk menghapus perbedaan substansial antara Rusia dan Ukraina.
Laporan koresponden diplomatik BBC, James Landale, menggambarkan bahwa momen-momen simbolik yang dirancang dalam kunjungan envoys justru menegaskan jarak nyata pandangan kedua belah pihak. Hingga kini, yang tersisa bukan hanya pertanyaan tentang format perundingan, tetapi juga tentang syarat keamanan dan ruang tawar yang masing-masing pihak anggap tidak bisa ditinggalkan.












