Olahraga

Jendela transfer bergulir: bagaimana klub Liga Premier menyiapkan perekrutan pemain baru?

×

Jendela transfer bergulir: bagaimana klub Liga Premier menyiapkan perekrutan pemain baru?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Transfer window: How do clubs prepare for signing new players?

jurnalistik.co.id – Premier League memulai musim panas dengan pengeluaran yang sudah melewati angka £1 miliar di bursa transfer, dan banyak klub memperkirakan ritme belanja itu akan semakin padat seiring mendekatnya fase krusial.

Di antara tim yang paling aktif, Chelsea, Manchester City, dan Tottenham sama-sama mendatangkan pemain dengan nilai lebih dari £100 juta, masing-masing lewat kesepakatan yang memecahkan rekor klub atau rekor baru untuk pemain Inggris.

Aktivitas itu terasa berantai: kepindahan Sandro Tonali ke Spurs senilai £100 juta disebut disusul dengan langkah yang lebih besar, termasuk Elliot Anderson yang pindah ke Manchester City dengan biaya £116 juta.

Tak kalah menonjol, Chelsea mengunci rekor untuk pemain asal Inggris melalui Morgan Rogers dari Aston Villa senilai £117 juta, dengan catatan ia baru bergabung setelah sebelumnya Aston Villa membayar £16 juta dari Middlesbrough.

Jika dibandingkan dengan putaran sebelumnya, belanja kali ini juga masih berada dalam bayang-bayang jendela musim dingin yang di seluruh dunia menyerap 2,2 miliar euro.

Meski besaran anggarannya besar, pertanyaan yang terus muncul justru bukan soal ada uang atau tidak, melainkan bagaimana klub menyusun kerja sampai detail terkunci agar transfer benar-benar berujung pada tanda tangan.

Diskusi bukan dimulai saat jendela terbuka

Gaya kerja modern klub membuat persiapan berlangsung jauh sebelum tanggal-tanggal penting itu tiba.

Pada Februari, sekitar 100 pejabat klub, pencari bakat, dan agen berkumpul di Villa Park untuk sebuah acara jejaring yang berlangsung santai, lengkap dengan kopi dan pastry, namun isinya sarat tujuan: mempersiapkan musim panas sekaligus menutup evaluasi jendela musim dingin.

Di ruang yang bersejarah, di William McGregor’s Trinity Road Stand, perwakilan klub seperti Liverpool, West Ham, Birmingham, Preston, Derby, Aston Villa, dan Manchester City hadir bersama agen untuk menyamakan arah langkah.

Sesi yang dipakai sebagai pembelajaran datang dari Adam Henshall, kepala emerging talent dan urusan pinjaman di Aston Villa, yang mempresentasikan bagaimana klub mengelola skema meminjamkan pemain.

Dalam presentasi itu, Henshall menyoroti data serta pertimbangan risiko dan imbal hasil yang dipakai sebelum anak asuh mereka dikirim keluar.

TransferRoom—platform daring yang menghubungkan klub dan agen—meminta pandangan tersebut, dan organisasi ini menyebut sekitar 800 klub telah mendaftar.

Di pekan yang sama, Villa, Chelsea, Crystal Palace, Manchester City dan United, Roma, serta Borussia Dortmund akan menjadi bagian dari lebih dari 200 pihak yang bertemu dengan 55 agensi dalam agenda bertajuk “deal day” di Madrid, sebagai momen di mana beberapa perpindahan bisa diselesaikan.

Acara tatap muka itu tidak berdiri sendiri; sejumlah pertemuan juga berlangsung secara daring, agar klub tetap punya jalur komunikasi tanpa menunggu satu tanggal.

Tujuannya jelas: membantu klub menghadapi jendela yang diperkirakan “erupsi” pada paruh kedua Agustus, setelah banyak kesepakatan belum bisa diselesaikan lebih awal karena dampak Piala Dunia.

Perbedaan cara berpikir antara level teratas dan bawah

Bagi klub di English Football League, prosesnya sering terasa lebih lambat karena mereka harus menunggu keputusan klub-klub di divisi atas untuk menghidupkan pasar.

Meski rencana sudah dibuat, eksekusi dapat tertunda hanya karena bola bergerak di tempat lain terlebih dahulu.

Sejatinya, banyak klub berupaya bekerja minimal satu jendela lebih awal, dan seorang eksekutif rekrutmen senior di Premier League menegaskan bahwa pilihan selain itu bersifat “reactionary”.

Di level teratas, klub biasanya lebih bisa memetakan siapa yang paling mungkin berpindah sehingga perencanaan dilakukan lebih sistematis.

Situasinya berbeda ketika menukik ke divisi bawah, di mana penerimaan bahwa “setiap pemain bisa diperdagangkan” membuat direktur olahraga dan manajer harus lebih sering berperan sebagai petugas pemadam kebakaran.

Banyak klub EFL bawah juga mengatur waktunya demi efisiensi gaji, dengan pertimbangan bahwa menandatangani pemain belakangan di jendela dapat menghemat pembayaran selama beberapa minggu.

Dari sisi data, kesenjangan antar liga juga terasa. Ada platform yang menganalisis pemain, tetapi biaya aksesnya berarti sebagian klub bawah tidak mampu membenarkan pengeluaran itu.

Namun, benang merahnya sama: pekerjaan untuk jendela musim panas biasanya dimulai hampir segera setelah jendela musim dingin selesai.

Michael Appleton menjelaskan ritme yang lazim terjadi dari waktu ke waktu: “It’ll be a couple of weeks after the January window shuts,”.

Menurutnya, ketika jarak ke pembukaan makin dekat, pertemuan menjadi semakin sering: “At the start of March, I’m sitting down with the recruitment team once a week but once you get closer to the window that becomes every few days and then leading into the window, possibly every day.”

Appleton juga mengingatkan bahwa jadwal rapat sangat bergantung pada jaringan klub masing-masing.

Dalam beberapa kasus, kontak dengan agen bisa dimulai 12 bulan sebelum transfer untuk membahas kontrak atau estimasi biaya, sementara dalam kasus lain, proses dari kontak awal sampai penyelesaian bisa terjadi hanya dalam hitungan hari.

Di satu klub liga bawah, pencarian agen bahkan pernah dilakukan lewat Instagram.

Terlepas dari metode yang berbeda-beda itu, tujuan akhirnya tetap: mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari daftar target, bahkan ketika realitanya tidak semua nama bisa didatangkan.

Lewandowski: contoh rencana panjang yang matang

Salah satu kisah paling besar musim panas ini—meski berstatus free transfer—datang dari Robert Lewandowski.

Polandia, kapten tim nasional tersebut, bergabung dengan klub MLS Chicago Fire setelah kontraknya bersama Barcelona berakhir.

Chicago Fire sudah mengincarnya selama satu dekade, dengan keyakinan bahwa mereka bisa meyakinkan Lewandowski untuk pindah ke Amerika, terutama mengingat komunitas Polandia yang besar di Chicago.

Gregg Broughton, sporting director Fire, menegaskan maksud strategi jangka panjang itu lewat kalimat yang menekankan perencanaan: “That sounds ridiculous because at that stage he was in the prime of his career and scoring goals for Bayern and then Barcelona, but it shows the long-term planning,”.

Rencana itu menjadi kenyataan pada Januari 2025, saat Fire sedang melakukan negosiasi untuk Neymar—yang memiliki agen sama, Pini Zahavi, dengan Lewandowski.

Neymar akhirnya memilih kembali ke Brasil bersama Santos, tetapi saat itu juga ditekankan bahwa peluang mendatangkan pencetak gol terbanyak rekor Polandia tetap terbuka.

Lewandowski masuk ke “discovery list” Fire, yang membuat tidak ada klub MLS lain yang bisa langsung mengambilnya, meski Fire tetap harus menunggu keputusan Barcelona soal masa depan pemain berusia 37 tahun tersebut.

Selama fase itu, Fire juga tidak bisa berbicara langsung dengan Lewandowski sampai 1 Januari.

Ketika keputusan akhirnya datang, kontak dilakukan cepat setelahnya, dan Gregg Berhalter terbang ke Spanyol untuk bertemu Lewandowski.

Broughton menjelaskan bahwa kedatangan pemain berprofil besar tidak bisa diproses sebagai kontrak biasa: “The rest of the club is building the structure around it with his representatives because when you’ve got a player of Robert’s stature, it’s not just a straightforward contract,”.

Ia menambahkan bahwa ada negosiasi komersial yang ikut dihitung, termasuk pertanyaan tentang masa depan karier Lewandowski di luar lapangan, serta bagaimana pertimbangan keluarga—termasuk bisnis kebugaran sang istri—menjadi bagian dari keputusan.

Termasuk juga rencana pendidikan anak-anaknya: “Where are his children going to go to school? What kind of school is it going to in Barcelona?”

Lewandowski pertama kali mengunjungi kota itu pada Juni dan disambut dengan papan iklan “welcome to Chicago” sepanjang perjalanan dari bandara.

Broughton bahkan melontarkan candaan: “I’m not sure you’d do that between Heathrow and Chelsea,”.

Prosesnya juga sempat diuji dari sisi kerahasiaan, karena Broughton menggambarkan kekhawatiran para pengelola klub: “My concern as the sporting director was: ‘how are we going to keep this under wraps?’ I was looking purely through a European lens and the Americans are: ‘we’re not going to, because that’s not how we treat free agents in American sport. We’re going to go big on it.’”

Semua berjalan sesuai rencana ketika Lewandowski menandatangani kontrak dua tahun, sementara Fire menahan diri dari tawaran Eropa maupun Arab Saudi.

“The signing is evidence the plan is working,” tambah Broughton.

Padatnya pekerjaan menjelang deadline

Selain soal perencanaan, ada faktor lain yang membuat jendela tampak makin kompleks: meningkatnya pengaruh agen.

Beberapa pandangan menyebut bahwa agen ingin mendapatkan kontrol lebih besar dalam kesepakatan antar-klub, sehingga menambah lapisan administratif dan berujung pada rasa frustasi.

Proses kertas yang semakin banyak juga mendorong agen untuk memastikan dokumen ditelaah dan diproses melalui AF1—perjanjian agensi yang menjelaskan kesepakatan, agen yang terlibat, serta rincian pembayaran dan “how and”.

Bagi klub, semua itu bisa dipandang sebagai lapisan tambahan yang memperpanjang kerumitan.

Namun, karena tenggat semakin dekat—“deadline day just a month away”—agenda agen cenderung makin padat.

Di sisi lain, ada sentimen dari beberapa pihak di puncak Premier League bahwa jika klub mencoba merampungkan kesepakatan di hari terakhir, transfer itu berpotensi menjadi keputusan yang terburu-buru.

Tim rekrutmen di kasta tertinggi merasa idealnya klub sudah berada dalam posisi untuk membuat langkah setidaknya 72 jam sebelum deadline.

Mayoritas kesepakatan besar biasanya diselesaikan berminggu-minggu sebelumnya, dan jika harus bergulir di jam-jam terakhir, umumnya hanya karena sejumlah angka masih perlu diselesaikan.

Appleton menegaskan pendekatan kerjanya: “I like to get my work done before then, so you’re not panicking and rushing about,”.

Ia juga menambahkan bahwa banyak pekerjaan pada deadline day sebenarnya terkait persiapan untuk pemain yang mungkin hilang, atau setidaknya kemungkinan besar akan pindah, sehingga klub harus bereaksi cepat.

Lalu, di antara periode sekarang dan 1 September, apa yang bisa terjadi?

“When you are in the job nothing is strange,” begitu komentar seorang petinggi rekrutmen, seakan merangkum kenyataan bahwa dinamika transfer memang jarang berjalan sepenuhnya sesuai skenario rapi.