Entertainment

Steve Cavanagh: “Tanda tangan buku pertama saya dilakukan di ruang tahanan polisi”

×

Steve Cavanagh: “Tanda tangan buku pertama saya dilakukan di ruang tahanan polisi”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Steve Cavanagh: 'I signed my first book in a police custody suite'

jurnalistik.co.id – Steve Cavanagh adalah penulis kriminal asal Irlandia Utara yang karyanya telah terjual lebih dari lima juta eksemplar di seluruh dunia dan diterjemahkan ke 40 bahasa. Ia juga tercatat pernah muncul di daftar bestseller Sunday Times.

Bagi Cavanagh, jarak antara ruang sidang dan ruang menulis tidaklah sejauh yang dibayangkan orang. Ia membahas bahwa mengamati persidangan—terutama saat berhadapan dengan juri—memiliki kemiripan dengan cara menyusun cerita agar pembaca tetap terpancing.

Dalam sebuah kilas balik, ia mengatakan, “I did my first book signing in a police custody suite”. Cerita itu berangkat dari masa awal kariernya sebagai pengacara, sebelum ia akhirnya dikenal lewat novel-novel bertema kejahatan dan strategi dalam ruang pengadilan.

Ide awal tulisannya, menurut Cavanagh, muncul ketika ia sedang melakukan pemeriksaan silang di pengadilan. Ia mengaku pernah “kind of conned them into revealing that they were lying and it hit me then that con artists and trial lawyers have all the same skills,”.

Pemahamannya kemudian mengerucut ke gagasan bahwa kemampuan yang dipakai penipu dan pengacara dalam proses persidangan memiliki irisan yang kuat. Ia menuturkan, “I thought con artists and trial lawyers all have skills which are perfectly allowed: misdirection, distraction, persuasion, manipulation,” lalu menambahkan bahwa ia melihat potensi karakter yang bisa memadukan semua keterampilan itu—dari penipu hingga menjadi pengacara.

Ia bahkan merumuskan pandangannya tentang pengaruh kata-kata di ruang sidang dengan kalimat, “every word is a weapon in a courtroom”. Dari sana, tokoh Eddie Flynn lahir sebagai pengacara yang memiliki latar pemahaman strategi yang tajam, sekaligus mampu membaca permainan di balik keterangan saksi dan alur pembuktian.

Eddie Flynn diceritakan berbasis di New York dan dibantu sejumlah rekan, yakni Harry Ford, Melissa Bloch, Gabriel Lake, serta seekor anjing yang diberi nama terinspirasi oleh Clarence Darrow. Darrow sendiri disebut sebagai salah satu rujukan yang memengaruhi cara Cavanagh membangun dunia karakter.

Pembentukan karier menulisnya tidak langsung mulus. Cavanagh menyebut dirinya ditolak oleh lebih dari 50 agen sebelum mendapat representasi untuk seri Eddie Flynn dan memperoleh kesepakatan penerbitan buku pertamanya.

Ia juga mengingat hari publikasi untuk buku awalnya, The Defence. Saat itu, ia tengah mewakili seorang klien di kantor polisi di County Down ketika salah satu petugas mengatakan bahwa ia sempat mendengar Cavanagh sudah menerbitkan sebuah buku.

Menurut ceritanya, ia lalu menemui situasinya langsung dan menyelesaikan wawancara. Namun, momen yang ia soroti terjadi setelah ia keluar: petugas senior penitipan tahanan yang lebih dulu pergi ke Eason’s dan membeli buku tersebut, sehingga Cavanagh dapat melakukan penandatanganan pertamanya di Bangor custody suite.

Ia menuturkan bahwa buku pertamanya memang meraih penghargaan, tetapi penjualannya tidak menonjol pada awalnya. Titik balik datang setelah Thirteen—novel yang digambarkannya sebagai sesuatu yang “changed his life”—dirilis dan membuat kariernya benar-benar melejit.

Dalam penjelasannya, Cavanagh mengaitkan lonjakan perhatian pembaca dengan kalimat pemikat pada materi promosi buku itu: “The serial killer isn’t on trial, he’s on the jury.” Menurutnya, tagline tersebut membuat orang tertarik, karena menawarkan sudut pandang yang membalik kebiasaan cara membaca cerita tentang penjahat.

Hasil dari momentum itu membuat Cavanagh akhirnya berhenti bekerja sebagai solicitor pada 2019 untuk fokus menulis. Sejak saat itu, ia telah menulis 10 buku Eddie Flynn, ditambah sejumlah thriller yang berdiri sendiri.

Pandangan pembaca juga datang dari apresiasi sesama penulis. Freida McFadden, penulis The Housemaid, baru-baru ini menulis di Facebook mengenai thriller Cavanagh berjudul Kill for Me, Kill for You. Ia menyebut karya itu “one of the best thrillers I’ve ever read”.

McFadden menambahkan, “It’s not often that I read a book where all the twists and turns are perfectly executed, but this is one of them. It’s kind of a masterpiece, in my humble opinion,”. Pujian tersebut menjadi dorongan penting sekaligus penanda bahwa cerita-cerita Cavanagh mampu memenuhi harapan pembaca thriller yang menuntut kejutan tanpa celah.

Dalam kesehariannya, Cavanagh juga menggambarkan suasana rumah yang selalu bergerak. Ia sempat menyinggung kehadiran Muffin, anjingnya, yang menurutnya “insists that a ball is thrown regularly during the creative process”, sekaligus membuktikan bahwa rutinitas menulisnya punya ritme tersendiri.

Ia mengatakan bahwa ia baru saja kembali dari tur promosi di Amerika Serikat untuk buku terbarunya, dan pada hari berikutnya ia akan berangkat lagi untuk tur buku di Inggris. Saat putrinya menyempatkan diri berkunjung, ia menangkap momen-momen sederhana yang justru ikut membentuk suasana ketika ide-ide cerita sedang disusun.

Cavanagh sendiri tumbuh di Belfast bagian selatan dan menempuh pendidikan di Ballynahinch, lalu melanjutkan studi sebelum kuliah di Dublin. Ia juga menyebut awal ketertarikannya menulis baru benar-benar muncul ketika ia memasuki usia pertengahan tiga puluhan, setelah ibunya meninggal.

Ia mengungkapkan bahwa ibunya adalah pihak yang paling mendorongnya untuk menulis. Karena itu, ia menulis buku pertama sebagai bentuk penghormatan. Nama keluarga yang ia pakai memang Mearns, tetapi ia memilih menggunakan Cavanagh sebagai nama pena, dengan merujuk pada nama marga ibu kandungnya—sekalian agar pemisahan antara dirinya sebagai pengacara dan sebagai penulis terasa lebih jelas.

Dari sisi tema, Cavanagh membidik hubungan kuasa, manipulasi, dan kerentanan yang sering terjadi saat seseorang merasa aman. Dalam Two Kinds of Stranger, ia menyoroti sosok kreator TikTok yang telah membagikan terlalu banyak kehidupan pribadinya hingga berubah menjadi target yang mudah bagi “criminal mastermind”.

Untuk karya yang lebih baru, One Of Us is Guilty, ia membawa pembaca masuk ke dunia keluarga Vanderpool yang berlapis kekayaan ekstrem. Cerita berpusat pada Patrick Vanderpool yang sedang bersaing menjadi gubernur, serta Vanessa, dengan Julian—ayah Patrick—dikisahkan mengendalikan setengah dari New York, sehingga pertanyaan besar mengemuka: apakah seseorang benar-benar harus membayar untuk kejahatan yang terjadi.

Cavanagh mengatakan ia ingin mengeksplorasi “extreme power and wealth in America” serta pengaruh multi miliarder. Ia menekankan bahwa ia menulis tentang hukum dan seorang pengacara, tetapi dalam praktiknya, ia melihat “increasingly these days, laws don’t matter to some people”.

Ia juga mengkritik perusahaan-perusahaan teknologi kecerdasan buatan. Dalam penilaiannya, teknologi itu “almost based entirely on piracy. They have scraped millions of books and the government’s doing nothing.” Ia menutup dengan pandangan yang tajam: “It’s almost the more powerful you are, the more you can get away with.”

Baginya, pengalaman tersebut terasa jauh berbeda dari masa kecilnya yang berasal dari kelompok pekerja di Belfast. Dari situ, ia memandang bagaimana akses dan kekuatan dapat mengubah cara aturan diberlakukan—atau bahkan diabaikan.

Untuk periode ke depan, Cavanagh berencana memberi jeda dari Eddie Flynn. Ia mengatakan ada sebuah buku mandiri yang sedang ia pikirkan, sekaligus ia telah diminta oleh Conan Doyle estate untuk menulis cerita pendek Sherlock Holmes bagi sebuah kumpulan yang rencananya terbit pada musim gugur.

Meski demikian, ia ingin memastikan para penggemar bahwa Eddie Flynn tidak hilang begitu saja. Ia menegaskan bahwa rencananya bukan untuk menyerah pada karakter tersebut, melainkan memberi ruang agar kisah-kisah baru bisa datang lagi dengan tenaga yang segar.