jurnalistik.co.id – Glasgow dipuji sebagai kota yang “menyelamatkan sekaligus memetakan ulang” Commonwealth Games ketika estafet perlombaan beralih ke Amdavad. Pernyataan itu disampaikan Phil Batty, CEO Glasgow 2026, menjelang upacara penutupan Minggu yang dimeriahkan kembang api di atas Sungai Clyde.
Batty mengingat saat masa depan ajang mulai meragukan tiga tahun lalu, dan bagaimana Glasgow bergerak ketika tuan rumah awal mundur. Menurutnya, keputusan kota itu untuk menggelar kembali Commonwealth Games—sekali lagi dalam 12 tahun—membawa dampak yang tidak akan mudah dilupakan oleh seluruh komunitas olahraga di dalam Commonwealth.
Menurut Batty, warisan penyelenggaraan yang lebih berkelanjutan dan berskala lebih ramping akan ikut menentukan arah ajang multikegiatan di masa mendatang. Ia menilai perubahan itu bukan sekadar “penyelamatan” untuk mempertahankan sesuatu apa adanya, melainkan upaya merancang ulang agar kompetisi tetap relevan dan punya visi yang mampu bertahan.
“Kami menciptakan Games yang akan menginspirasi lebih banyak negara untuk menjadi tuan rumah,” kata Batty kepada BBC Scotland News. “Tapi mungkin yang lebih penting, setiap negara merasa bisa menjadi tuan rumah suatu saat dalam 100 tahun ke depan.”
Bendera Commonwealth diserahkan secara seremonial kepada Amdavad, yang akan menjadi penyelenggara edisi keseratus pada 2030. Batty menekankan bahwa cara Glasgow menjalankan Games terbaru turut menjawab pertanyaan tentang apakah Commonwealth Games masih layak terus ada.
Ia menilai masa depan ajang sempat berada dalam kondisi genting. Batty menyebut Glasgow berhasil mengatasi risiko tersebut sekaligus “merekonfigurasi ulang” Commonwealth Games, termasuk melakukan penataan ulang nomor-nomor olahraga agar cocok untuk kebutuhan di masa depan.
Dalam pandangannya, “bukan soal menyelamatkan sesuatu agar tetap bertahan,” melainkan memberi format dan tujuan yang dibutuhkan supaya ajang itu terus hidup. Ia menambahkan bahwa Games yang lebih tepat sasaran juga harus mampu menguatkan rasa memiliki dari seluruh negara anggota, bukan hanya memberi ruang bagi segelintir pihak.
Batty juga menyoroti cara Commonwealth Games selayaknya berkembang menjadi kompetisi olahraga global yang benar-benar berskala Commonwealth-wide. Ia menyebut Glasgow dan Skotlandia pantas berbangga bukan hanya pada apa yang terjadi selama perhelatan, melainkan juga pada makna yang dibawa untuk seluruh Commonwealth dalam beberapa dekade ke depan.
Di bagian lain, ia menjelaskan bentuk Games di masa berikutnya bisa berubah menyesuaikan wilayah tuan rumah. Menurutnya, edisi mendatang mungkin dihelat sebagai tuan rumah “dua negara” di Asia, atau menggunakan model kepulauan di Pasifik, bahkan bisa sangat ringkas dengan banyak venue di Afrika.
Batty memaparkan bahwa Commonwealth Games 2026 disiapkan dengan pendanaan privat dan rampung dalam 18 bulan, lebih cepat “tiga kali” dibanding pola persiapan yang biasanya membutuhkan enam tahun. Ia menyebut estimasi biaya mencapai £162,6 juta, jauh lebih rendah dibanding Glasgow 2014 yang £543 juta dan Birmingham 2022 yang £680 juta.
Efisiensi biaya itu, menurut Batty, didukung oleh “jejak warisan” dari Commonwealth Games sebelumnya di Glasgow serta penggunaan sarana dan infrastruktur yang sudah ada. Penyelenggaraan juga memanfaatkan venue dalam radius delapan mil, sehingga kebutuhan pembangunan baru dapat ditekan.
Commonwealth Games edisi ke-23 yang lebih kompak menampilkan 215 nomor medali, berbeda dengan 261 nomor saat Glasgow menjadi tuan rumah pada 2014. Ajang ini juga mencatat rekor 47 nomor cabang para-sport, termasuk medali emas simbolik pertama yang dimenangi Mark Swan, lifter ringan asal Inggris.
Besoknya, penyelenggara mendapat kabar berat ketika Eilish McColgan—juara 10.000 meter edisi sebelumnya—menarik diri akibat patah tulang pada kaki. Namun, atlet-atlet tuan rumah tetap menemukan tokoh baru yang menonjol sepanjang kompetisi.
Angharad Evans dari tuan rumah meraih dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu. Ia juga didukung kisah inspiratif dari Archie Goodburn yang sedang menghadapi kanker otak, menghadirkan dorongan semangat bagi atlet lain di kolam renang.
Di cabang T54, Melanie Woods asal Skotlandia meraih emas nomor 1500 meter untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 40 jam setelah final diulang. Keberhasilannya diakui pada upacara penutupan ketika ia dianugerahi gelar outstanding athlete of the Games dan fair play.
Berita Terkait
Kompetisi para-sport turut diwarnai keputusan besar dari Neil Fachie, legenda para-sikling yang mengakhiri kariernya setelah meraih emas ketujuh dalam cabang tersebut. Di sisi lain, Australia kembali menampilkan kekuatan saat Kurtis Marschall meraih emas pole vault putra untuk ketiga Games secara beruntun.
Australia mendominasi klasemen medali dengan 171 medali, disusul Inggris dengan 110. Tuan rumah menyelesaikan turnamen di peringkat kelima dengan 39 medali, berada di belakang Kanada dan India; pencapaian itu disebut John Swinney sebagai “truly historic”.
Rekor juga tumbang di velodrome, arena karpet sintetis, serta kolam renang. Emma Finucane dari Wales menjadi pencetak sejarah dengan menjadi pesepeda lintasan sprinter pertama yang meraih empat emas trek pada Games yang sama.
Louise Hoskins mencatat pencapaian sebagai peraih medali emas Commonwealth Games tertua ketika meraih gelar para-bowls putri nomor pairs untuk Australia pada usia 76 tahun dan 173 hari. Sementara itu, Chad le Clos dari Afrika Selatan menjadi atlet paling banyak meraih medali dalam 96 tahun sejarah ajang, dengan total 21 medali.
Panggung penonton juga ramai. Penyelenggara menyatakan mereka berhasil melampaui target meski sejumlah kursi kosong terlihat di beberapa pertandingan, dengan penjualan tiket lebih dari 430.000 lembar.
Kegiatan berlangsung di empat venue yang masing-masing ditenagai energi terbarukan, dengan keramaian paling terasa di SEC Campus. Pertandingan netball di Hydro menjadi magnet utama karena terjual 100.000 tiket, mengukuhkan posisi cabang tersebut sebagai salah satu daya tarik terkuat selama program Games.
Pada Sabtu, Prince William dan Princess Kate hadir bersama anak-anak mereka untuk menyaksikan sejumlah pertandingan. Di tempat lain, Tollcross International Swimming Centre menjadi “lautan suara” saat nomor-nomor medali berlangsung, sementara Scotstoun Stadium menyaksikan suasana hujan lebat.
Suasana perayaan juga ditopang humor khas Glasgow yang muncul berulang sepanjang Games. Pada upacara pembukaan di Hydro, penampilan King dan Queen keluar dari Tardis membuat penonton terkejut, sebelum akhirnya Callum Beattie membawakan anthem sepak bola Skotlandia “Yes Sir, I Can Boogie” dengan unsur silver unicorn serta bintang-bintang yang menari ala gaya Barrowland.
Di bagian akhir, sebuah roket raksasa Tunnock’s Teacake lepas landas di panggung sebagai penghormatan pada versi tarian yang tampil di pembukaan 2014 di Celtic Park. Setelah itu, roket tersebut dikabarkan berakhir di lokasi Games Live di Kelvingrove Park, sekaligus menjadi kesempatan foto yang banyak diburu pengunjung.
Lebih dari 200.000 orang mengunjungi area west end park dan lokasi live di kota selama periode Games. Di Sir Chris Hoy velodrome, setiap balapan diawali kemunculan legenda bersepeda yang melontarkan “Hoi you lot! Shhhh,” sebelum perenang Duncan Scott menambahkan “Haud your wheesht” sebagai pengingat tradisional Skotlandia agar tetap hening.
Pada hari Minggu, tim Skotlandia tampil menonjol pada upacara penutupan dengan topi berbentuk tanduk kerucut lalu lintas sebagai rujukan pada patung Duke of Wellington yang ikonik. Selain itu, maskot Finnie disebut menjadi pusat perhatian di urusan suvenir: boneka unicorn kecil ludes terjual di toko dan daring sebelum akhir pekan.
Tradisi lain yang berlanjut adalah pengumpulan pin lambang tim. Sepanjang penyelenggaraan, lebih dari 4.000 relawan usia 16 hingga 96 tahun menjaga agar berbagai acara berjalan lancar; George Black, ketua Glasgow 2026, menyebut mereka “heartbeat of the Games”.
Upacara penutupan juga menampilkan rangkaian pertunjukan tari dan kolaborasi seniman besar. Amdavad sebagai tuan rumah 2030 diresmikan dengan penampilan penuh warna, termasuk penampilan Manushi Chhillar bersama Shiamak Davar Dance Troupe, serta penampilan dari Sandi Thom, Shereen Cutkelvin, dan Diversity.
Batty mengatakan perkembangan tersebut membuka “jalur” dan “pipeline” menuju masa depan. Ia juga menyebut Malta akan menjadi tuan rumah Commonwealth Youth Games pada 29 Oktober hingga 4 November tahun depan.
Ketika ditanya bagaimana Glasgow akan diingat, Batty menekankan bahwa Commonwealth tidak akan melupakan peran Glasgow bagi 74 negara. Ia menggambarkan Glasgow sebagai “sahabat yang hadir” saat 73 negara lain membutuhkan bantuan, dan ia berharap sikap kebaikan serta kemurahan hati itu akan terus dikenang oleh seluruh Commonwealth.












