jurnalistik.co.id – Bagi sejumlah mahasiswa Indonesia di Brisbane, Victoria Park bukan sekadar taman kota. Penutupan sebagian area untuk pembangunan stadion Olimpiade baru membuat mereka khawatir jarak dan kesepian yang sempat reda bisa kembali terasa lebih berat.
Kekhawatiran itu muncul seiring keputusan menutup akses ke sebagian besar wilayah taman yang berada di sisi utara pusat kota Brisbane (CBD). Sejak Mei, pembatasan diberlakukan karena proyek stadion senilai 3,6 miliar dollar Australia atau sekitar Rp 44 triliun.
Victoria Park selama ini menjadi tempat singgah ketika pikiran mulai buntu. Di ruang hijau itu, para mahasiswa dapat menata diri, sekaligus menemukan perlindungan sosial untuk bertemu komunitas Indonesia saat rindu kampung halaman datang tanpa aba-aba.
Ruang bernafas yang ikut menutup
Mahasiswa PhD asal Indonesia, Yesika Maya Ocktarani, menyebut Victoria Park terasa berbeda dibanding tempat lain. “Tidak ada bandingannya,” katanya, menggambarkan bagaimana suasana taman menjadi semacam sandaran ketika ia merasa sendirian.
Menurut Yesika, taman tersebut membantu proses pemulihan diri secara nyata. “Menurut saya, tempat itu adalah tempat yang baik bagi kami untuk benar-benar memulihkan diri.”
Yesika, mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) yang tinggal dekat taman, biasanya berkunjung untuk relaksasi pribadi maupun kegiatan komunitas. Ia menceritakan, ketika pertama kali tiba di Brisbane pada Februari 2023 untuk studi PhD, ia justru lebih mudah merasa terisolasi.
Namun, situasi itu berubah setelah ia menemukan dukungan dari kelompok mahasiswa Indonesia yang sering berkumpul di Victoria Park. “Untuk mengisi kekosongan dan rasa kesepian saat menjadi mahasiswa PhD,” ujarnya, lalu menambahkan bahwa momen bertemu dan berdiskusi membawa dampak bagi kondisi mental.
Ia menjelaskan pengaruhnya lewat pengalaman langsung: “Ketika kami bertemu mahasiswa Indonesia lainnya, lalu membicarakan tantangan hidup sebagai mahasiswa PhD, rasanya (…) baik untuk kesehatan mental kami.” Bagi Yesika, percakapan semacam itu berfungsi seperti penguat yang sulit ditemukan saat menjalani hari-hari sendirian di kota baru.
Yesika juga merupakan anggota komunitas mahasiswa Higher Degree Research (HDR). Dalam lingkungan seperti ini, kehadiran ruang kumpul yang konsisten menjadi penting karena dukungan tidak selalu datang dalam bentuk akademik, tetapi juga perasaan “tidak berjalan sendiri”.
Penolakan tak searah: makna budaya ikut dipertimbangkan
Di tengah rencana pembangunan stadion berkapasitas 63.000 kursi yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Brisbane 2032, perbedaan pendapat juga terlihat di kalangan warga. Salah satu yang menonjol berasal dari kelompok masyarakat adat Aborigin yang menilai lokasi tersebut memiliki makna budaya yang mendalam.
Berita Terkait
Penutupan akses membuat perdebatan semakin luas, karena taman yang selama ini dipakai untuk aktivitas komunitas dan relaksasi juga dipandang sebagai ruang bernilai. Bagi Yesika, Victoria Park pada akhirnya tetap berfungsi sebagai tempat healing, sekaligus titik temu ketika kebutuhan emosional tak bisa ditunda.
Tidak sekadar hijau: kualitas ruang dan fasilitas
Dosen perencanaan kota QUT, Dr Mark Limb, menekankan bahwa kota-kota perlu berinvestasi pada ruang hijau dan taman berkualitas tinggi. Pernyataan itu menempatkan kualitas lingkungan bukan sebagai pelengkap, melainkan bagian dari cara kota merawat warganya.
Dalam penilaian Yesika, Victoria Park memiliki banyak area yang memungkinkan orang berkumpul dengan lebih leluasa. Ia juga mengatakan, memindahkan kegiatan ke taman lain di sekitar lokasi bukanlah pilihan yang mudah karena taman-taman lain terlalu kecil dan tidak punya fasilitas yang sama, seperti area barbekyu dan taman bermain.
Dengan demikian, dampak penutupan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya tempat berjalan-jalan. Bagi komunitas mahasiswa, perubahan akses berarti hilangnya ruang interaksi yang selama ini mendukung kebiasaan berkumpul, membangun kedekatan, dan mempertahankan rasa keterhubungan.
Kenangan mahasiswa internasional ikut dipertaruhkan
Pengaruh Victoria Park juga dirasakan mahasiswa master QUT asal Vietnam, Micky Mai. Ia menyampaikan bahwa taman tersebut sebelumnya membantu mahasiswa internasional membangun pertemanan dan merasa terhubung dengan komunitas.
“Bagi saya, Victoria Park lebih dari sekadar taman umum,” kata Micky. “Tempat itu melambangkan persahabatan, rasa memiliki, dan beberapa kenangan paling bahagia saya sebagai mahasiswa internasional.”
Menurut Micky, salah satu kenangan favoritnya adalah menghadiri Festival Pertengahan Musim Gugur bersama teman-temannya di taman tersebut. Ia menceritakan, komunitasnya membuat festival lentera tradisional Vietnam dan berbagi tradisi budaya, sehingga perasaan “lebih dekat dengan rumah” terasa lebih nyata.
Ketika taman menjadi lokasi perayaan, identitas budaya tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang jauh atau hanya dibaca dari buku. Tradisi yang dibawa ke ruang publik membantu orang saling mengenal, mempererat persahabatan, sekaligus menghadirkan rasa aman di tengah rutinitas sebagai mahasiswa internasional.
Di balik perhitungan teknis proyek stadion dan perdebatan lokasi, kisah mahasiswa menggambarkan dampak yang lebih personal. Penutupan sejak Mei membuat Victoria Park kehilangan fungsi sosialnya untuk sebagian orang—dan pada saat yang sama, mendorong pertanyaan tentang bagaimana kota memastikan ruang hijau tetap bekerja sebagai tempat pemulihan dan koneksi.
Walau pembangunan menuju Olimpiade Brisbane 2032 menandai ambisi besar, pengalaman para mahasiswa menunjukkan bahwa ukuran “kemajuan” juga perlu diukur dari dampaknya terhadap kesehatan mental, rasa memiliki, serta peluang untuk bertemu komunitas ketika rindu kampung halaman datang.







