Internasional

Bagaimana Hamas Melucuti Persenjataan di Gaza, dan Apa Langkah Berikutnya?

×

Bagaimana Hamas Melucuti Persenjataan di Gaza, dan Apa Langkah Berikutnya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bagaimana Hamas Lucuti Senjata di Gaza, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

jurnalistik.co.id – Hamas menyetujui rencana “pelucutan senjata total” di Gaza setelah mencapai kesepakatan dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Donald Trump. Dalam pengumuman dewan itu, pelucutan senjata disebut sebagai terobosan bersejarah, yang diikuti rencana penarikan Israel dari Gaza.

Namun, rencana tersebut belum memperoleh tanggapan publik dari Israel. Di sisi lain, pemerintah AS menegaskan rencana perdamaian yang diumumkan pada Oktober itu disusun dengan prinsip tanpa kepercayaan dan verifikasi ketat, sehingga para pihak tidak boleh melangkah ke tahap berikutnya sebelum memenuhi kewajiban masing-masing.

Menurut informasi yang disampaikan ke media, Presiden Trump disebut akan sangat kecewa jika Israel memutuskan tidak menarik diri dari Gaza. Pernyataan itu disampaikan oleh seorang pejabat AS kepada wartawan, dengan konteks bahwa penarikan tersebut merupakan syarat dalam kesepakatan yang mengikat Israel dan Hamas dalam rencana perdamaian versi Trump.

Pengumuman di Gaza, menurut koresponden BBC di lokasi, tidak disambut antusias oleh masyarakat. Rushdi Abualouf melaporkan dari Cairo, dan menyebut bahwa setelah bertahun-tahun gencatan senjata yang gagal serta kesepakatan yang runtuh, banyak warga Palestina menjadi sangat skeptis terhadap inisiatif politik baru.

Abualouf juga menuliskan bahwa “Bagi banyak orang, kepercayaan terhadap Hamas dan Israel tetap rendah, karena kesepakatan-kesepakatan sebelumnya berulang kali gagal sebelum memberikan perbaikan yang berarti di lapangan.” Kalimat itu menggambarkan jarak antara janji politik dan pengalaman langsung yang selama ini membentuk keraguan publik.

Bagaimana proses pelucutan senjata dirancang

Lewat unggahan di Truth Social, Trump menjelaskan bahwa perjanjian akan dieksekusi secara bertahap. Pemerintah AS menekankan bahwa model pelaksanaannya bertumpu pada verifikasi yang ketat, dengan prosedur yang tidak memberi ruang pada lompatan tahapan.

Tahap awal akan dimulai dari kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil. Setelah tahap tersebut berjalan, barulah Hamas masuk ke proses pembongkaran infrastruktur militer berskala besar yang mereka miliki.

Dalam fase berikutnya, pembongkaran yang disebut meliputi jaringan terowongan, gudang senjata, hingga fasilitas produksi. Hamas mengakui bahwa proses ini memerlukan waktu yang jauh lebih lama dibanding tahapan awal, mengingat cakupan infrastruktur yang disebutkan.

Peran otoritas Palestina setelah tahap besar selesai

Setelah tahapan pembongkaran infrastruktur militer berskala besar selesai, otoritas Palestina yang baru disebut akan memegang kendali penuh atas persenjataan di Gaza. Kendali tersebut mencakup juga persenjataan milik kepolisian Hamas di Gaza, sebagaimana disebut dalam penjelasan rencana yang disampaikan.

Artinya, proses tidak berhenti pada pengumpulan atau pembongkaran peralatan, tetapi diarahkan pada pengaturan ulang wewenang atas persenjataan yang ada di wilayah tersebut. Dengan demikian, kontrol atas aset senjata akan bergeser sesuai urutan tahapan yang dirancang.

Penonaktifan senjata berat dan isu teknis di lapangan

Setelah kontrol dialihkan, akan ada proses penonaktifan senjata berat. Proses ini mencakup penutupan terowongan serta pemberhentian sementara para petempur yang mengoperasikan fasilitas-fasilitas yang terkait dengan infrastruktur tersebut.

Rencana itu juga disebut akan menjadi proses yang sangat teknis, karena melibatkan langkah-langkah operasional yang harus dijalankan secara terukur. Salah satu pertanyaan kuncinya adalah bagaimana menyimpan senjata yang telah dikumpulkan dengan aman, sebuah persoalan yang secara langsung menentukan keberhasilan tahap berikutnya.

Di bagian ini, detail teknis menjadi faktor penting karena pelucutan senjata dalam skala besar memerlukan tata cara penyimpanan dan penanganan yang tidak boleh menimbulkan risiko baru. Tanpa mekanisme yang jelas, proses penonaktifan dan pengaturan persenjataan berpotensi menghadapi kendala implementasi.

Keraguan publik dan tantangan menuju verifikasi

Di Gaza, kesenjangan antara pengumuman politik dan ekspektasi warga tampak menonjol. Abualouf melaporkan bahwa skeptisisme itu muncul karena sejarah kesepakatan sebelumnya yang berulang kali gagal menghasilkan perbaikan nyata di lapangan.

Dengan verifikasi ketat sebagai prinsip yang ditekankan pemerintah AS, tahapan pelaksanaan diproyeksikan tidak bergantung pada kepercayaan antar pihak semata. Akan tetapi, bagi banyak warga Palestina, penilaian tetap akan tertuju pada apakah proses tersebut betul-betul mengubah kondisi sehari-hari.

Dalam konteks itu, Israel yang belum memberikan tanggapan publik atas rencana dewan juga menambah tanda tanya tentang bagaimana tahapan awal akan berjalan. Meski dewan menyatakan pelucutan senjata akan menjadi terobosan, kelanjutan rencana penarikan Israel dari Gaza masih belum tampak dalam respons yang dipublikasikan secara resmi.

Keseluruhan rangkaian—mulai dari pelucutan oleh kelompok lebih kecil, pembongkaran infrastruktur besar termasuk terowongan dan fasilitas produksi, pengalihan kendali persenjataan kepada otoritas Palestina, hingga penonaktifan senjata berat—pada akhirnya akan diuji oleh konsistensi verifikasi. Pada saat yang sama, penerimaan masyarakat Gaza akan terus dipengaruhi oleh ingatan atas gencatan senjata dan kesepakatan terdahulu yang tidak menghasilkan perubahan berarti.