Internasional

Kehilangan “Paru-paru Brisbane” menyayat bagi mahasiswa Indonesia

×

Kehilangan “Paru-paru Brisbane” menyayat bagi mahasiswa Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sedihnya Mahasiswa Indonesia Kehilangan "Paru-paru Brisbane"...

jurnalistik.co.id – Penutupan Victoria Park untuk pembangunan stadion Olimpiade baru di Brisbane membuat sejumlah mahasiswa internasional merasa khawatir kesepian dan isolasi yang sudah mereka rasakan akan semakin bertambah. Bagi banyak mahasiswa yang berasal dari luar Australia, taman itu bukan sekadar ruang terbuka, melainkan tempat untuk memulihkan diri dan membangun kembali rasa nyaman saat jauh dari kampung halaman.

Mahasiswa asal Indonesia menyebut Victoria Park memiliki arti khusus, terutama ketika mereka sedang rindu. Di sana, mereka dapat bertemu komunitas Indonesia dan berbagi pengalaman sebagai perantau, sekaligus menemukan ruang aman untuk menenangkan pikiran.

Yesika Maya Ocktarani, mahasiswa PhD asal Indonesia, mengatakan, “Tidak ada bandingannya.” Ia menuturkan, selama tinggal di Brisbane, taman tersebut menjadi titik tumpu ketika suasana hati terasa berat.

Menurut Yesika, “Menurut saya, tempat itu adalah tempat yang baik bagi kami untuk benar-benar memulihkan diri.” Ia memandang Victoria Park sebagai ruang yang membuatnya lebih mudah menghadapi tekanan kehidupan studi tingkat doktoral.

Yesika merupakan mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) dan tinggal tidak jauh dari taman. Rutinitasnya mencakup kunjungan ke Victoria Park, baik untuk relaksasi pribadi maupun untuk kegiatan komunitas.

Ia mengaku awalnya merasa terisolasi setelah tiba di Brisbane pada Februari 2023. Namun, ia menemukan dukungan melalui kelompok mahasiswa Indonesia yang sering berkumpul di taman tersebut.

“Untuk mengisi kekosongan dan rasa kesepian saat menjadi mahasiswa PhD,” kata Yesika. Ia menggambarkan bahwa pertemuan dengan mahasiswa Indonesia lainnya membawa efek yang nyata bagi kondisi mental, karena mereka bisa saling memahami tantangan yang sama.

“Ketika kami bertemu mahasiswa Indonesia lainnya, lalu membicarakan tantangan hidup sebagai mahasiswa PhD, rasanya (…) baik untuk kesehatan mental kami.” Bagi Yesika, momen-momen seperti itu membantu meredakan beban yang sering tidak terlihat dari luar.

Dalam pemberitaan tersebut, akses publik ke sebagian besar area Victoria Park yang berada di sisi utara pusat kota Brisbane (CBD) disebut sudah ditutup sejak Mei. Penutupan ini terjadi ketika pembangunan stadion Olimpiade dimulai.

Stadion yang akan dibangun menelan biaya 3,6 miliar dollar Australia atau sekitar Rp 44 triliun. Kapasitasnya disebut mencapai 63.000 kursi, dan stadion itu direncanakan menjadi tuan rumah Olimpiade Brisbane 2032.

Namun, kebijakan pembangunan memicu perbedaan pendapat di kalangan warga Brisbane mengenai lokasi stadion tersebut. Sebagian pihak menyoroti aspek manfaat infrastruktur, sementara yang lain menekankan pentingnya ruang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan komunitas.

Kelompok masyarakat adat Aborigin menyampaikan bahwa lokasi tersebut memiliki makna budaya yang mendalam. Mereka memandang nilai tempat bukan hanya pada fungsi fisik, tetapi juga pada cerita dan identitas yang melekat di dalamnya.

Di sisi lain, Yesika menempatkan Victoria Park sebagai ruang healing. Ia menilai hilangnya akses ke taman akan mengurangi kesempatan mahasiswa untuk mendapatkan titik temu dan ketenangan yang selama ini mereka dapatkan.

Ia menilai memindahkan aktivitas komunitas bukan sekadar soal mencari lokasi baru. Karena itu, perubahan akses berpotensi mempengaruhi cara mereka menjaga keseimbangan emosi selama masa studi.

Sementara itu, dosen perencanaan kota dari QUT, Dr Mark Limb, mengingatkan bahwa kota-kota perlu berinvestasi pada ruang hijau dan taman berkualitas tinggi. Ia menekankan bahwa keberadaan ruang seperti Victoria Park bukan hanya urusan estetika, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang mendukung banyak pihak.

Yesika juga menyebut Victoria Park punya banyak area yang memungkinkan orang untuk berkumpul. Ia menuturkan, taman tersebut menyediakan tempat untuk bertemu dan beraktivitas dengan karakter yang berbeda-beda, sehingga tidak semua kebutuhan sosial bisa digantikan dengan lokasi alternatif.

Menurutnya, pemindahan kegiatan ke taman lain di sekitar lokasi bukanlah pilihan. Alasannya, taman-taman lainnya disebut terlalu kecil dan tidak memiliki fasilitas yang sama, seperti area barbekyu dan taman bermain.

Selain Yesika, seorang mahasiswa master QUT asal Vietnam, Micky Mai, juga menyampaikan pandangannya. Ia mengatakan bahwa sebelumnya Victoria Park membantu mahasiswa internasional membangun pertemanan serta merasa terhubung dengan komunitas.

“Bagi saya, Victoria Park lebih dari sekadar taman umum,” ujar Micky. Ia menilai tempat itu melambangkan persahabatan, rasa memiliki, dan menghadirkan kembali beberapa kenangan paling bahagia selama menjadi mahasiswa internasional.

Micky menuturkan, salah satu kenangan favoritnya adalah menghadiri Festival Pertengahan Musim Gugur bersama teman-temannya di taman tersebut. Saat itu, komunitasnya membuat lentera tradisional Vietnam dan berbagi tradisi budaya, sehingga ia merasa lebih dekat dengan rumah.

Baginya, interaksi yang terbangun lewat kegiatan budaya di Victoria Park memberi makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas rekreasi. Kegiatan tersebut menjadi jembatan sosial yang menolong mahasiswa untuk tidak merasa sendiri di tengah rutinitas studi.

Dengan penutupan sebagian area sejak Mei, kekhawatiran kini bergeser pada kelangsungan ruang-ruang pertemuan informal yang sebelumnya membantu mahasiswa menghadapi kesepian. Ketika taman yang selama ini menjadi titik pulang sementara berkurang aksesnya, mahasiswa internasional seperti Yesika dan Micky harus mencari cara lain untuk menjaga kesehatan mental dan keberlanjutan hubungan sosial mereka.

Di tengah dorongan pembangunan menuju Olimpiade Brisbane 2032, diskusi tentang nilai Victoria Park menjadi semakin nyata. Stadion dengan kapasitas 63.000 kursi dan investasi 3,6 miliar dollar Australia memang menjadi target besar proyek, tetapi bagi banyak mahasiswa, perubahan akses ruang hijau berarti hilangnya sarana yang selama ini mereka andalkan untuk bertahan dan pulih.

Dalam konteks itu, perhatian pada kualitas taman dan ruang hijau yang memfasilitasi pertemuan komunitas kembali menjadi sorotan. Bagi mahasiswa internasional, Victoria Park telah berperan sebagai tempat aman yang mempertemukan orang-orang yang sedang merantau, sekaligus mengubah kerinduan kampung halaman menjadi sesuatu yang dapat mereka jalani bersama.