jurnalistik.co.id – Kabar duka datang dari dunia media Inggris. Kolumnis dan penyiar Rod Liddle meninggal dunia pada usia 66 tahun setelah menjalani sakit singkat.
Keluarga Liddle menyampaikan duka mendalam atas kepergiannya yang disebut terjadi secara mendadak. Dalam pernyataan yang dibacakan oleh ketiga anaknya, mereka menggambarkan sosok Rod sebagai teladan dalam menjalani hidup.
“We’re all very saddened and shocked at the sudden passing of our wonderful father.”
Mereka menambahkan bahwa Rod membesarkan mereka dengan cara yang “dalam konteks yang bisa dibayangkan sebagaimana mestinya”. Ia, kata mereka, membentuk kebiasaan untuk tetap ingin tahu, berani, dan selalu mampu menjaga suasana dengan humor.
“He raised us much as you might imagine, to be inquisitive, brave and always humorous.”
Menurut anak-anaknya, bahkan ketika berada di rumah sakit dalam beberapa minggu terakhir, Rod tetap hadir dengan karakter yang sama. Mereka menegaskan bahwa ia terus “memegang ruang” dan tidak membiarkan situasi sulit tersebut terlihat menguasai dirinya.
“Even in hospital in the last few weeks, he consistently held the room and never let the awful situation show.”
Dalam penutup, mereka menekankan bahwa Rod meninggalkan warisan yang sangat mereka banggakan. Rod disebut akan terus menjadi “panduan” dalam cara mereka menjalani hidup.
“He has left a legacy that we are all incredibly proud of, he will always be our guide on how to live an extraordinary life.”
Direktur eksekutif News UK, Rebekah Brooks, turut memberikan penghormatan melalui pernyataan resminya. Brooks menyebut Liddle sebagai sosok yang tak tergantikan dalam jurnalisme, serta menggarisbawahi pengaruhnya terhadap cara pandang publik.
Brooks menyatakan: “an inimitable journalistic force.” Ia menambahkan bahwa Rod “he challenged conventional thinking and left an indelible mark on British journalism.”
Berita Terkait
Brooks juga menegaskan betapa besar keterkejutan dan kesedihan seluruh pihak di News UK. Ia menggambarkan Liddle sebagai figur yang selama puluhan tahun menghiasi halaman dan gelombang siaran dengan ketajaman serta suara yang tak mudah dikompromikan.
“Everyone at News UK is deeply shocked and saddened to learn of the sudden death of Rod Liddle,”
“brilliant, provocative and immensely talented, whose sharp wit and uncompromising voice graced our pages and airwaves for decades.”
Dalam pernyataannya, Brooks menekankan bahwa Rod akan sangat dirindukan oleh kolega, teman, serta banyak pembaca, pendengar, dan penonton. Ia menyampaikan belasungkawa atas keluarga serta orang-orang terdekat yang ditinggalkan.
“Rod will be greatly missed by all his friends and colleagues at News, as well as by his many readers, listeners and viewers.”
“Our thoughts and sincerest condolences are with his family and loved ones.”
Rod Liddle dikenal sebagai kolumnis tetap untuk surat kabar The Sun dan The Sunday Times. Ia juga memiliki kolom mingguan di The Spectator, serta membawakan sebuah acara di Times Radio.
Menjelang akhir hayatnya, kabar terakhir menyebut ia wafat di The James Cook University Hospital, Middlesbrough, pada Minggu malam. Lokasi tersebut menjadi tempat kepergiannya setelah proses perawatan terkait kondisi yang ia alami.
Dalam rilis yang sama, nama ketiga anaknya disebutkan: Wilder, Tyler, dan Emmy. Lewat pernyataan mereka, ketiganya menegaskan betapa besarnya keterkejutan yang mereka rasakan sekaligus rasa bangga terhadap warisan yang ditinggalkan Rod Liddle.
Kabar meninggalnya Rod Liddle segera menjadi perhatian luas, mengingat peran panjangnya dalam jurnalisme opini dan siaran. Dengan berbagai karya yang menembus format cetak dan radio, ia dikenal menyampaikan pandangan dengan gaya yang tajam serta karakter yang konsisten.
Berita duka ini diperlakukan sebagai breaking news dan disebut akan terus diperbarui dengan rincian tambahan dalam waktu dekat. Namun, informasi utama yang sudah tertulis menegaskan satu hal: Rod Liddle meninggal pada usia 66 tahun setelah sakit singkat, dengan penghormatan yang datang dari keluarga dan pimpinan News UK.












