Olahraga

Afrika Selatan 33-26 Selandia Baru: Springboks Samakan Seri ‘Rugby’s Greatest Rivalry’ 1-1

×

Afrika Selatan 33-26 Selandia Baru: Springboks Samakan Seri ‘Rugby’s Greatest Rivalry’ 1-1

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: South Africa 33-26 New Zealand: Springboks level 'Rugby's Greatest Rivalry' series

jurnalistik.co.id – Afrika Selatan menundukkan Selandia Baru 33-26 pada Test kedua di Cape Town dan sekaligus menyamakan kedudukan seri bertajuk “Rugby’s Greatest Rivalry” menjadi 1-1, dengan dua laga tersisa.

Juara dunia itu tampil dengan ritme yang rapi pada babak pertama, membangun keunggulan melalui serangan yang lebih efektif meski Selandia Baru tetap mencatat jumlah try lebih banyak: empat berbalas tiga.

Kolb e menjadi figur sentral karena mengambil alih urusan tendangan dari Sacha Feinberg-Mngomezulu. Dalam pertandingan ini, ia mencetak total 18 poin—hasil tiga konversi dan empat penalti—yang membuat Afrika Selatan mampu menjaga jarak sampai fase penutupan.

South Africa memimpin lewat tries dari Jesse Kriel, Damian de Allende, dan Siya Kolisi. Sementara itu, Selandia Baru mencetak empat try lewat Caleb Roigard, Damian McKenzie, Leroy Carter, dan Ardie Savea.

Babak pertama yang “tajam” membawa keunggulan

All Blacks datang ke Cape Town dengan target meraih kemenangan untuk menorehkan catatan sejarah: menjadi tim Selandia Baru pertama yang bisa menang dua kali beruntun di Afrika Selatan sejak “Incomparables” tahun 1996. Namun, pasukan Afrika Selatan langsung mendikte tempo dengan kerja dasar yang lebih solid.

Duel berjalan dengan intensitas tinggi sejak awal. Deon Fourie, hooker berusia hampir 40 tahun—yang tercatat sebagai yang tertua dalam sejarah Springbok—menemukan sasaran pada line-out, sementara maul mereka mendorong bola masuk ke area 22 meter dan membuka ruang bagi Kriel untuk menerobos lebih dulu.

Kolbe menambah poin lewat tendangan tambahan setelah rangkaian tersebut menjadi start impian bagi tuan rumah. Meski begitu, Selandia Baru tidak hilang dari laga. Wasit Angus Gardner memimpin pertandingan dengan kelancaran, setelah sebelumnya menjadi panggilan akhir menggantikan Nika Amashukeli.

Di sisi lain, permainan cepat Selandia Baru sempat menekan pertahanan tuan rumah. Damian McKenzie membuat terobosan bersih yang hampir membuka jalan bagi Will Jordan, namun Afrika Selatan berhasil mematikan momentum setelah ruck berkembang. Etzebeth turut mengganggu dalam situasi set-piece, terutama saat Selandia Baru mencoba membangun serangan dari lima meter.

Seiring laga memanas, pertukaran serangan berlangsung dengan kualitas tinggi. Umpan yang lebih teratur membuat Jordan bisa lepas ke sisi kanan dan menghubungkan bola dengan Cam Roigard. Dari situ, Ruben Love menyamakan skor untuk Selandia Baru.

Namun, keunggulan kembali jatuh ke pihak Afrika Selatan. Kolbe menendang penalti, lalu de Allende menyusul dengan try setelah maul lain memaksa pertahanan Selandia Baru terseret. Penonton Cape Town merasakan “darah” ketika jarak melebar menjadi 17-7, menandai bahwa tuan rumah jauh lebih efektif dibanding pekan sebelumnya.

Menjelang turun minum, Springbok memastikan napasnya

Memasuki akhir paruh pertama, pertandingan kembali masuk fase yang menentukan. Kolbe memaksa scrum lima meter, lalu Erasmus membawa dua scrummager paling kuat, Malcolm Marx dan Ox Nche, yang segera memenangkan penalti. Dari rangkaian berikutnya—scrum ulang yang diikuti advantage—Siya Kolisi akhirnya menambah try ketiga bagi Afrika Selatan.

Hasilnya, setelah 40 menit yang penuh tensi, Afrika Selatan menutup paruh pertama dengan keunggulan 10 poin dan fondasi yang terasa kuat untuk mengatur sisa laga.

Kebangkitan All Blacks tetap harus menunggu

Di awal babak kedua, Selandia Baru membutuhkan gol terlebih dulu, tetapi ritme mereka tidak langsung menghasilkan. Mereka justru kehilangan bola di wilayah Afrika Selatan dan memberikan penalti lunak yang kembali diletakkan oleh Kolbe melalui tendangan. Tekanan bertambah ketika Marx memenangkan penalti pada fase breakdown, membuat keunggulan Afrika Selatan membesar sampai 16 poin dengan sekitar setengah jam tersisa.

Walau babak kedua tidak menampilkan ledakan sebanyak yang terjadi pada paruh pertama, lini belakang Selandia Baru—dipimpin Roigard—terus berusaha mengundang respons. Carter akhirnya menemukan ruang di kiri pojok setelah rangkaian permainan bola yang rapi, menyelesaikan serangan dengan sentuhan yang menentukan.

Terobosan lain dari McKenzie juga menghidupkan harapan, dan bola yang didaur ulang mengarah ke Savea. Captain Savea kemudian menambah try untuk memangkas jarak menjadi tujuh poin, hanya menyisakan dua menit lagi.

Namun, Springbok tetap menahan laju. Lood de Jager sempat dikirim ke sin-bin karena tekel tinggi, tetapi pada akhirnya pertandingan “ditutup” oleh penalti pada fase breakdown. Peran penting datang dari pengambil alih bola: Cameron Hanekom memenangkan turnover krusial di area yang selama ini didominasi Afrika Selatan.

Kemenangan ini juga menyesuaikan dinamika peringkat dunia. Setelah kemenangan di Test pertama membuat Selandia Baru sementara berada di atas Afrika Selatan, Erasmus mendorong timnya untuk memperbaiki keadaan. Afrika Selatan melakukannya dengan laga yang lebih terkontrol, sementara Selandia Baru tetap percaya bahwa mereka masih bisa menyusul jejak “legenda 1996” meski seri kini kembali sama kuat.

Dengan demikian, fokus dunia rugby beralih ke Soweto: Test ketiga akan berlangsung di Johannesburg pada hari Sabtu pekan depan, dengan karakter pertandingan di ketinggian yang diyakini bakal memberi tantangan berbeda bagi kedua tim.