jurnalistik.co.id – Telur burung beo yang sempat disita di Afrika Selatan akhirnya menetas setelah seorang pria asal Thailand ditangkap di Bandara OR Tambo, Johannesburg.
Departemen Kehutanan, Perikanan, dan Lingkungan Hidup Afrika Selatan (DFFE) menyebut sekitar 50 butir telur yang diduga berasal dari burung beo yang terancam punah telah menunjukkan perkembangan setelah proses penyelamatan dilakukan.
Pihak berwenang menyatakan, penemuan dan penangkapan terjadi pada Kamis pekan lalu, ketika upaya penyelundupan terdeteksi sebelum telur-telur itu dibawa lebih jauh.
Menurut DFFE, tersangka adalah warga Thailand berusia 50 tahun yang diduga mencoba menyelundupkan telur-telur tersebut menggunakan āhomemade incubator bagā yang ia bawa sebagai bagasi kabin.
Telur-telur yang diselamatkan kemudian ditangani oleh petugas, dan sebagian di antaranya kini sudah menetas menjadi anak burung.
Perawatan yang diberikan disebut bersifat āintensiveā dengan tujuan āmaximise their chances of survivalā, demikian penjelasan DFFE.
Langkah itu dilakukan sambil memastikan anak burung memperoleh penanganan khusus yang dibutuhkan pada fase awal setelah menetas.
Ancaman pidana dan denda
DFFE menyampaikan bahwa bila tersangka dinyatakan bersalah, ancaman hukumannya dapat berupa denda hingga 10m rand ($626,000, £461,000) atau pidana penjara hingga 10 tahun, atau keduanya.
Pernyataan itu merujuk pada pelanggaran terkait perdagangan satwa liar yang dilindungi.
Hasil penyelidikan awal juga menunjukkan telur-telur tersebut berasal dari spesies burung beo yang dilindungi di bawah Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (Cites).
Dengan demikian, penangkapan tidak hanya berkaitan dengan penyelundupan fisik barang, tetapi juga pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan spesies.
Operasi yang berujung pada penahanan dilakukan melalui kerja sama DFFE, Green Scorpionsāunit penegakan khusus untuk lingkunganāserta berbagai divisi kepolisian.
DFFE menuturkan, operasi itu berhasil menyita telur-telur yang dicurigai, sebelum kemudian diberikan penanganan untuk tahap inkubasi dan perawatan setelah menetas.
Berita Terkait
- Keluarga Stacy Hunter melihat tanda kekerasan domestik, tetapi tak tahu cara melindunginya sebelum Jim Mair membunuh
- John Sweeney, pembunuh yang memutilasi korban di kanal, meninggal saat menjalani vonis seumur hidup
- Telur burung paruh di Afrika Selatan menetas setelah tersangka Thailand diduga penyelundup ditangkap di Bandara OR Tambo
Pujian untuk kerja lintas lembaga
Menteri Lingkungan Hidup David Maynier menyampaikan selamat kepada semua lembaga yang terlibat dalam proses tersebut.
Dalam pernyataannya, ia mengatakan, āillegal wildlife trafficking can only be challenged by a co-ordinated defence of our natural heritageā.
Maynier juga menekankan peran staf di National Zoological Garden di ibu kota Pretoria, āwho have been working tirelessly to incubate the seized eggs and provide specialised care to the hatchlingsā.
Penangkapan pekan lalu disebut mengikuti rangkaian kasus serupa yang juga menjerat warga Thailand.
Pada bulan Juli, seorang warga Thailand berusia 23 tahun pernah ditangkap di OR Tambo International Airport karena diduga mencoba menyelundupkan 418 telur burung beo.
Berdasarkan DFFE, kedua penangkapan tersebut menunjukkan jaringan penyelundupan satwa lintas negara yang semakin canggih.
Penegasan DFFE menyebut perlunya upaya terkoordinasi berbasis intelijen, sebagaimana tertulis āthe importance of co-ordinated, intelligence-led law enforcement effortsā.
DFFE menilai pengambilan dan perdagangan ilegal telur burung beo menimbulkan risiko serius bagi populasi burung liar sekaligus berdampak pada kesejahteraan hewan.
Pejabat menjelaskan bahwa telur jenis ini kerap diselundupkan menggunakan inkubator improvisasi, dan kondisi selama proses tersebut dapat membahayakan perkembangan embrio yang masih berkembang serta kesejahteraan anak burung ketika menetas.
Di Afrika Selatan, perdagangan satwa liar ilegal masih menjadi ancaman besar di tengah tingginya keanekaragaman hayati.
DFFE menyebut jaringan kriminal kerap menargetkan hewan seperti gajah dan trenggiling untuk kemudian dijual di pasar gelap internasional.
Untuk menanggulangi ancaman itu, Afrika Selatan mengadopsi strategi baru enam tahun lalu guna memperkuat kerja sama lintas pihak.
Strategi tersebut ditujukan untuk membongkar jaringan kriminal yang terlibat dalam perdagangan satwa liar ilegal melalui kolaborasi antara institusi pemerintah, lembaga penegak hukum, otoritas konservasi, pejabat bea cukai, jaksa, serta mitra internasional.












