jurnalistik.co.id – Hari pertama Tes Inggris melawan Pakistan di Headingley menghadirkan momen yang jarang terlihat di kriket. Tidak hanya karena dua pemukul Inggris memberikan efek awal yang kuat, tetapi juga karena sepasang bowler cepat mencatat pencapaian istimewa secara bersamaan.
Josh Tongue dan Ollie Robinson sama-sama menyelesaikan lima wicket pada babak pembuka, sehingga perjalanan hari itu ikut “dibelah” menjadi dua bagian yang sama-sama bisa dikenang. Setelah permainan usai, mereka memutuskan untuk membagi bola perayaan mereka menjadi dua.
“Robbo said we can split the ball in half,” ujar Tongue dalam keterangan kepada Test Match Special. Tongue melanjutkan, “The groundstaff have kindly done that.” Ia menambahkan rasa kagumnya, “It’s the first time I’ve seen that happen. I’m sure I’ll be putting that up somewhere.”
Bagi Robinson, idenya hadir dari percakapan singkat saat mereka berjalan meninggalkan lapangan. Ia menjelaskan bahwa Tongue menyebut gagasan itu, lalu keduanya sepakat untuk mewujudkannya karena terasa “quite cool” dan sekaligus menjadi hal yang sulit ditemukan dalam karier bowler.
Robinson menggambarkan momen tersebut saat konferensi media: “We were walking off the field. Josh said it and I said: ‘We actually should do that, it would be quite cool.’” Ia menekankan bahwa kesempatan memiliki “halves” bola kriket tidak banyak, sehingga rencana itu diyakini akan menjadi memori yang tak terlupakan.
Di akhir hari, upaya duet pace bowling itu menjadi bagian penting dari awal yang rapi bagi kapten baru-kembali, Joe Root, pada penugasan keduanya sebagai Test captain Inggris. Tongue mencatat angka 5-46, sedangkan Robinson menyelesaikan 5-51, untuk menyingkirkan Pakistan hanya sampai 171.
Inggris berangkat lebih dulu setelah memenangkan undian, dan serangan bola cepat tersebut membuat Pakistan tidak menemukan ritme yang stabil. Setelah inning Pakistan berakhir, tuan rumah bergerak ke 112-2 ketika waktu permainan ditutup di Leeds.
Pencapaian Tongue dan Robinson juga menempatkan mereka dalam daftar yang sangat terbatas. Mereka menjadi pasangan pertama bowler Inggris yang meraih lima wicket dalam Test innings yang sama sejak Steve Harmison dan Monty Panesar saat melawan Pakistan di Old Trafford pada 2006.
Menariknya, dua pencapaian itu tidak berhenti pada angka statistik saja. Di Headingley, mereka mengeksekusi ide untuk menjadikan satu bola menjadi dua bagian, sejalan dengan rencana yang sempat dibahas setelah inning berakhir.
Robinson menceritakan bahwa Wayne Bentley, manajer tim, yang kemudian mengurus permintaan itu kepada kru lapangan. “Wayne Bentley, the team manager, took it down to the groundstaff,” kata Robinson. Ia menambahkan respons awal dari Bentley: “I said: ‘Do you reckon they will be able to do it?’ Within five minutes he brought it back up and it was done. It’s really nice.”
Berita Terkait
Menurut Robinson, dalam waktu singkat, bola tersebut berhasil diproses menjadi dua bagian. Hal tersebut kemudian mereka bawa keluar lapangan dan dijadikan bagian dari perayaan yang berbeda dari kebiasaan mengambil bola biasa.
Keberhasilan di Tes kali ini juga datang beberapa hari setelah peristiwa pribadi yang besar. Robinson baru saja menyambut kelahiran anak pertama bersama istrinya, Mia. Bayi perempuan mereka, Eva, lahir pada dini hari Kamis pekan lalu, menjelang rangkaian pertandingan berikutnya.
Robinson mengakui bahwa ia harus mengejar tidur begitu tiba di hotel di Leeds. “I’ve been catching up on my sleep since I got to the hotel in Leeds,” katanya. Ia menggambarkan pekan itu sebagai momen yang sangat istimewa: “It’s a really special week having another baby.”
Ia menilai penampilannya pada hari itu terasa semakin manis karena ia harus “ditinggalkan” setelah kelahiran dan kemudian tetap menjalankan tugas di lapangan. “It almost makes today even sweeter,” ujarnya, sebelum menegaskan arti performanya bagi dirinya. Ia menambahkan, meski mereka tidak berada di tempat, “I was thinking of them the whole time.”
Secara catatan permainan, spell Robinson pada hari pembuka ini menjadi lima-for kelimanya di Test cricket. Ia juga melihat kesuksesan di lapangan sebagai kelanjutan dari kembalinya dirinya ke tim Inggris pada awal musim panas setelah sebelumnya tidak masuk skuad karena kekhawatiran terhadap kebugaran.
Robinson memulai kembali karier Test-nya setelah lebih dari dua tahun absen, dengan menghadapi Selandia Baru di Lord’s. Di pertandingan itu, ia mencatat tujuh wicket, termasuk satu lima-for, yang turut menjadi dasar pemulihannya di tim.
Kini, dengan lima-for di Headingley, Robinson telah mengumpulkan total 88 wicket di Test, dengan rata-rata 21.25. Catatan lain yang ikut menguatkan pencapaiannya adalah bahwa tidak ada seam-er Inggris sejak 1914 yang memiliki jumlah wicket sebanyak itu dengan rata-rata yang lebih baik.
Robinson juga menyinggung sisi refleksi pribadi setelah kembali. “I probably learned a lot about myself when I was out of the team,” katanya. Ia menyatakan bahwa pada kondisi tertentu ia merasa sama baiknya seperti kapan pun, meski ia juga mengakui adanya hal yang masih ingin diperbaiki dalam ritme bermain.
Ia menjelaskan bahwa ia belum sepenuhnya berada dalam “rhythm” yang ideal, meskipun pencapaian di hari itu sudah menunjukkan dampak besar. “At the moment I probably feel as good as I’ve ever felt,” ujarnya, sebelum menambahkan, “I’m probably not in as a good rhythm… but I’m probably not in as good a rhythm as I would like.”
Di ujung komentarnya, Robinson kembali menekankan satu tujuan praktis: bertahan di lapangan dalam kondisi fit dan menjaga ritme yang membuatnya konsisten. “As long as I can stay on the park and stay fit, hopefully I can get that rhythm and stay good,” tutupnya.












