Olahraga

Bukayo Saka Beri Isyarat Kembali ke Level Terbaik di Arsenal

×

Bukayo Saka Beri Isyarat Kembali ke Level Terbaik di Arsenal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Is Bukayo Saka getting back to his best at Arsenal?

jurnalistik.co.id – Arsenal memulai pertahanan gelar Liga Inggris dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Coventry, dan penampilan Bukayo Saka langsung menjadi salah satu sorotan utama. Pada laga pembuka musim ini, winger berusia 24 tahun itu tampil tajam sejak awal dan ikut mengunci keunggulan timnya.

Di sektor kanan, Saka bergerak dengan kecepatan yang membuat pertahanan lawan harus bekerja lebih ekstra. Ia memberi tekanan berkelanjutan, termasuk saat menciptakan peluang yang berujung gol kedua Arsenal. Kontribusi tersebut terasa penting karena Coventry sempat dibuat kesulitan membaca ritme serangan yang terus dibangun oleh Saka.

Proses kembali ke performa terbaik

Karier Saka pada periode sebelumnya memang sempat tidak berjalan mulus. Ia mengalami cedera Achilles pada bulan Maret, yang membuatnya melewatkan jeda pertandingan internasional dan tujuh laga bersama Arsenal. Meski demikian, Saka kembali dan berperan saat Arsenal akhirnya meraih gelar Liga Inggris pertamanya dalam 22 tahun.

Namun, perjalanan setelah itu tidak langsung stabil. Saka sempat ditarik keluar saat final Liga Champions, ketika Arsenal kalah dari Paris-St Germain di Budapest, dan penampilannya mendapat kritik. Pada Piala Dunia, Thomas Tuchel juga membatasi menit bermainnya, sehingga Saka menghadapi pertanyaan mengenai kondisinya ketika belum sepenuhnya fit.

Di momen itu, Saka menyatakan bahwa kondisi yang ia alami adalah “gamble” yang ia bersedia ambil. Ia kemudian mendapat waktu pemulihan setelah turnamen selesai, dan jeda itulah yang tampaknya menjadi pemicu utama ia tampil pada level terbaiknya sejak awal musim.

Catatan Piala Dunia dan rasa lapar setelahnya

Apakah pengalaman Piala Dunia ikut menentukan ketajaman Saka musim ini? Di turnamen tersebut, ia hanya memulai tiga dari delapan pertandingan Inggris. Saka mencetak hat-trick pada kemenangan 6-4 Inggris atas Prancis di partai perebutan tempat ketiga, yang sekaligus menjadi hasil terbaik Inggris di Piala Dunia untuk laga di luar tanah mereka.

Meski demikian, ia tidak diturunkan saat Inggris kalah di semifinal oleh Argentina. Pada dua pertandingan lain, Saka memulai laga babak 16 besar melawan Meksiko dan perempat final melawan Norwegia. Setelah kemenangan atas Meksiko, ia sempat mengakui bahwa ia berharap bisa masuk turnamen dengan kebugaran 100%, tetapi ia menerima bahwa kenyataannya tidak demikian.

Secara menit bermain, Saka hanya mengumpulkan 357 menit, atau sekitar 48% dari total menit yang dimainkan Inggris sepanjang delapan laga di turnamen itu. Di sisi lain, ia tetap menunjukkan dampak yang nyata: ia menyumbang tiga assist—bersama Anthony Gordon sebagai yang terbanyak untuk pemain Inggris—serta menambah tiga gol. Dengan kontribusi tersebut, ia mencatat keterlibatan gol rata-rata setiap 60 menit selama Inggris tampil di Piala Dunia.

Setelah turnamen, Saka menegaskan bahwa motivasinya justru bertambah. Ia mengatakan bahwa Piala Dunia tidak berjalan sepenuhnya seperti yang ia harapkan, baik untuk dirinya maupun tim. Setelah musim berakhir, ia merasa “really hungry” dan menantikan awal musim baru.

Latihan, jeda, dan respons terhadap waktu bermain

Menjelang kompetisi, Saka kembali dengan fokus yang jelas. Ia menuturkan bahwa ia berlatih banyak agar siap untuk start musim dan bisa membantu tim dengan cara yang ia pahami. Menurut pengakuannya, ia mengatur jeda dengan menahan agar tidak terlalu panjang, mengambil tujuh hari libur sebelum mulai berlatih lagi.

Ia juga menyebut bahwa ia sudah bekerja keras sejak saat itu dan merasa baik, dengan tujuan datang dalam kondisi prima—“on top of my body”. Ujung dari pendekatan tersebut terlihat ketika ia tampil dalam Community Shield, usai kembali dari Piala Dunia dan kembali bergabung dengan skuad Arsenal. Di laga tersebut, Arsenal sudah memimpin 3-0 atas Manchester City saat ia masuk sebagai pemain pengganti.

Kemudian, setelah tampil menonjol melawan Coventry pada pertandingan perdana Liga Inggris, Saka memberi sinyal bahwa rasa percaya diri itu hadir karena waktu bermain yang lebih minim selama Piala Dunia serta jeda musim panas yang ia manfaatkan untuk memulihkan bentuk tubuh.

Peran kolektif: Havertz, Odegaard, White

Selain faktor kebugaran, ada pula alasan taktis yang membuat Saka cepat menemukan ritme. Kai Havertz, Martin Odegaard, dan Ben White kembali dalam kondisi penuh, dan kombinasi mereka ikut mendorong aliran serangan Arsenal. Kemitraan White dan Saka di sisi kanan, terutama lewat overlap yang dilakukan defender, dinilai menjadi kunci yang mampu membuka performa terbaik Saka.

Menurut catatan laga, kemenangan atas Coventry juga menandai pertemuan kembali trio itu dalam pertandingan Liga Inggris untuk kali kedua sejak Desember 2024. Sebelumnya, injury menjadi penghambat yang membuat kombinasi tersebut sulit diulang secara konsisten.

Arsenal sendiri sempat menghadapi pertanyaan soal ketergantungan terhadap Saka. Tetapi menjelang musim ini, ia sudah memainkan 153 pertandingan dalam tiga musim terakhir, dengan 61 di antaranya dimainkan penuh hingga menit ke-90. Kini, setelah cedera yang memaksa istirahat dan kemudian menit bermain lebih rendah di Piala Dunia, Saka berpeluang kembali menghadirkan penampilan reguler yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Dengan momentum seperti ini, Arsenal terlihat punya alasan untuk percaya bahwa Saka tidak sekadar kembali tampil—ia kembali dalam kondisi yang siap memengaruhi pertandingan sejak menit awal, seperti yang terlihat ketika mereka menghentikan perlawanan Coventry dengan skor 3-0.