jurnalistik.co.id – Venus Williams kembali menjadi sorotan menjelang US Open 2026. Pemain berusia 46 tahun itu belum pernah menang di nomor tunggal sejak Juli 2025, tetapi justru masih mendapat kepercayaan lewat banyak wildcard.
Musim ini, Williams sudah mengantongi 11 wildcard, dan United States Tennis Association (USTA) menyiapkan wildcard ke-12 agar ia bisa tampil di US Open. Di ronde pertama, ia akan menghadapi sesama juara Grand Slam, Sofia Kenin.
Catatan pertandingan tunggal Williams menunjukkan keterbatasan dari sisi hasil. Dalam 14 laga tunggal terakhir, ia selalu kalah. Dengan peringkat dunia 611, ia sangat bergantung pada wildcard untuk bisa bersaing di turnamen tingkat besar.
Kondisi tersebut memunculkan perdebatan. Ada pandangan bahwa tanpa kemenangan, jumlah wildcard yang diterima terasa terlalu banyak, terlepas dari jejak karier Williams yang panjang dan beragam.
Namun, tidak ada aturan pembatasan khusus bagi juara Grand Slam terkait jatah wildcard. Karl Hale, direktur turnamen yang memberi Williams wildcard untuk WTA 1000 di Toronto bulan ini, menilai pemberian tersebut punya nilai tersendiri untuk turnamen.
Hale menyatakan, “I think it’s good for tennis to have these generational icons,” dan menambahkan, “That they are still allocating wildcards for them says something to their intrinsic value to the tournaments.” Menurutnya, fakta bahwa Williams masih dialokasikan ke wildcard menunjukkan nilai intrinsik yang melekat pada pemain tersebut.
Hale juga menjelaskan alasan pemilihan Williams dari sisi dampak dan popularitas. Ia mengatakan bahwa “legacy is phenomenal,” lalu menekankan bahwa Williams sangat dikenal di Toronto serta pasar-pasar tertentu, sehingga pihaknya merasa tepat untuk mengumumkannya lebih awal.
Baginya, wildcard tidak sekadar soal kuota pertandingan. Hale menyebut perhatian media terhadap Williams cukup besar, yang kemudian menurutnya ikut mendorong penjualan tiket. Ia juga menyoroti jadwal wildcard yang umumnya bermain di babak pertama, sehingga dengan ukuran undian yang lebih besar, turnamen mendapat nama dan bintang yang lebih menonjol sejak awal.
“Venus played opening day. She kicked off our tournament, so it added a lot of value,” kata Hale. Ia menempatkan peran Williams sebagai pemantik turnamen, baik dari sisi sorotan maupun nilai komersial.
Wildcard dan konteks hasil Williams
Williams sendiri memang tidak lagi lolos ke Grand Slam lewat peringkat sejak Wimbledon 2021. Pada periode itu, ia juga mencatat kemenangan tunggal terakhirnya di ajang mayor, tepat di Wimbledon.
Di dua penampilan tunggal Grand Slam terakhir, Williams masih mampu menunjukkan daya saing. Ia menantang Karolina Muchova yang bertandang sebagai unggulan ke-11 hingga tiga set di New York tahun lalu. Di Australian Open Januari ini, ia juga kalah tipis dalam tiga set dari Olga Danilovic.
Di US Open tahun lalu, Williams mencapai perempat final nomor ganda. Namun, di kompetisi tunggal musim ini situasinya lebih sulit, termasuk kekalahannya oleh kualifikan Emiliana Arango di Cincinnati pada bulan ini. Itu menjadi kekalahan ke-18 dari 19 pertandingan tunggalnya.
Satu-satunya momen yang bisa disebut terang bagi Williams pada rentang waktu ini datang dari kemenangan atas Peyton Stearns di Washington pada Juli lalu.
Berita Terkait
Meski begitu, turnamen-turnamen di berbagai negara tetap menginginkan kehadirannya. Dalam kalender tahun ini saja, direktur turnamen di Selandia Baru, Australia, Spanyol, Jerman, dan Kanada—selain Amerika Serikat—tercatat meminta Williams hadir di ajang mereka.
Dari sisi format undian, Grand Slam memberikan ruang bagi wildcard. Sebanyak delapan dari 128 tempat di undian tunggal Grand Slam dialokasikan untuk wildcard, sedangkan di ATP dan WTA biasanya terdapat sekitar empat hingga delapan wildcard, tergantung ukuran lapangan.
“Trade,” nilai komersial, dan batas kompetitif
Hale menambahkan bahwa turnamen umumnya memprioritaskan pemain nasionalnya saat mengisi wildcard. Tetapi wildcard juga diberikan kepada nama yang diyakini mampu menambah nilai komersial bagi acara tersebut.
Ia menyebut adanya “trade” dengan federasi atau agensi nasional lain, termasuk IMG yang pernah mengelola sekaligus memiliki Miami Open dan Madrid Open. Hale memberi contoh paling jelas lewat kesepakatan wildcard timbal balik antara USTA, Tennis Australia, dan Federasi Tenis Prancis.
Kesepakatan itu, menurut Hale, membuat masing-masing negara menawarkan wildcard untuk nomor putra dan putri kepada pihak lain. Dua pemain dari pihak tuan rumah tersebut kemudian diharapkan bisa memberi keuntungan ketika gilirannya mereka menyelenggarakan turnamen.
Ia juga menyinggung olahraga lain yang mengurangi kesempatan para juara lama untuk kembali. Dalam Open Golf Championship, misalnya, setiap pemenang pada awalnya bisa kembali kapan pun, tetapi kemudian aturan berubah: pemenang hanya mendapat kesempatan kembali hingga usia 55. Hale melihat tennis berbeda karena tidak memiliki batas semacam itu.
Contoh yang ia sebut adalah Martina Navratilova yang menerima wildcard untuk French Open 2004 dan Wimbledon. Navratilova kemudian menang di lapangan rumput ketika ia kembali pada usia 47 tahun.
Ketika ditanya soal batas pemberian wildcard bagi pemain yang hasilnya tidak meyakinkan, Hale menegaskan prinsip kehati-hatian. Ia mengatakan, “You never want to put a player out there that you are unsure about.”
Hale tetap meyakini Williams masih mampu memenangi pertandingan. Ia merujuk pada kekalahan Williams dari Kamilla Rakhimova dengan skor 6-4, 6-1, serta menilai bahwa “the first set was really competitive.” Dengan kata lain, Williams dinilainya masih kompetitif, tetapi belum mampu mengubah pertandingan menjadi kemenangan dalam laga-laga tersebut.
Menjawab pertanyaan apakah seharusnya ada batas, Hale menjelaskan, “When the time comes that Venus is not competitive in sets, then I think she will make that call.” Ia menambahkan bahwa Venus dan Serena telah memberi banyak bagi tenis putri, sehingga mereka seharusnya bisa terus bermain selama yang mereka inginkan.
“I’m very happy they are continuing and they make their decision when they are ready, or each tournament makes their decision when they are ready,” tutup Hale.
Pandangan serupa juga disampaikan Katie Boulter, yang bekerja sama dengan Williams dalam nomor ganda di Madrid pada April. Boulter menyatakan, “Venus has given so much to our sport that she deserves to get what she needs back,” dan menambahkan, “We have to be grateful that she is still out there, doing the best she can.”
Dengan wildcard yang terus mengantar Williams ke turnamen besar, fokus kini beralih pada babak pertama US Open 2026. Di situ, Williams akan berhadapan dengan Sofia Kenin—sebuah laga yang sekaligus menjadi ujian untuk menegaskan apakah daya saing yang terus terlihat bisa berujung pada kemenangan tunggal yang sudah lama tak datang.












