Olahraga

Liam Delap Teken Kontrak di Nottingham Forest setelah Masa di Chelsea—Bisakah Ia Bangkit seperti Penerus Harry Kane?

×

Liam Delap Teken Kontrak di Nottingham Forest setelah Masa di Chelsea—Bisakah Ia Bangkit seperti Penerus Harry Kane?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Liam Delap signs for Nottingham Forest: From Harry Kane's successor to Chelsea outcast – can he thrive at new club?

jurnalistik.co.id – Liam Delap akhirnya resmi menandatangani kontrak bersama Nottingham Forest setelah masa yang tidak berjalan mulus di Chelsea. Striker berusia 23 tahun itu terikat kontrak lima tahun di City Ground, dalam kesepakatan yang bernilai £50 juta dari mantan klubnya.

Di tengah musim panas dengan angka transfer yang melonjak, rekrutmen Delap menonjol karena menjadi rekor pengeluaran klub untuk pemain tengah yang berposisi sebagai penyerang, sekaligus memicu sorotan dari cara Chelsea “membayar” harga tinggi itu. Kendati begitu, langkah Delap juga dibaca sebagai upaya untuk memulai bab baru—dengan harapan kariernya bisa kembali menanjak di lingkungan yang berbeda.

Catatan Delap di Premier League sebenarnya sudah pernah menunjukkan daya ledak yang menjanjikan. Pada musim pertamanya mendapat waktu bermain reguler di level tertinggi, ia mencetak 12 gol di Premier League 2024-25—sepanjang musim itu hanya Cole Palmer yang mencetak lebih banyak pada pemain usia di bawah 23 tahun dari kubu lain. Debutnya bersama Ipswich pada awal musim 2024-25 juga menjadi fondasi penting, setelah Ipswich menebusnya dari Manchester City dengan biaya awal £15 juta pada Juli 2024.

Keberhasilan Delap di Portman Road, menurut narasi yang dibahas dalam artikel BBC Sport, tidak lepas dari strategi Kieran McKenna yang memaksimalkan kekuatan Delap: fisik, kemampuan membawa bola dengan tempo, dan variasi pergerakan yang membuatnya bisa mengisi ruang. McKenna, saat itu, membentuk pola main yang memberi ruang bagi Delap untuk mengalirkan serangan dengan cepat. Delap bahkan mencatatkan 26 shot-ending carries pada musim tersebut—tertinggi untuk pemain striker di Premier League—serta menorehkan rentetan awal yang langsung mengundang perhatian luas, lewat enam gol dan satu assist dalam 12 pertandingan pertama kampanye.

Kepercayaan terhadap potensi Delap juga datang dari komentar para mantan pemain. Danny Murphy, misalnya, menyebut Delap sebagai penerus jangka panjang yang “jelas” untuk Harry Kane. Murphy berkata: “Saya mungkin akan sejauh itu untuk menyebut dia sebagai penerus jangka panjang Harry Kane yang paling jelas. Saya pikir dia adalah striker Inggris muda terbaik yang ada. Saya tidak melihat ada kelemahan padanya. Dia sudah mencetak cukup banyak gol untuk tim yang sedang kesulitan, tetapi jika dia mendapat banyak peluang, dia akan mencetak lebih banyak. Dia punya keseimbangan yang bagus antara fisik dan kemampuan teknis, dan jarang sekali Anda menemukan keduanya. Dia benar-benar talenta besar.”

Narasi berubah ketika Delap pindah ke Chelsea. Meski bergabung sebagai talenta yang masih mentah, ia menghadapi musim yang dianggap “berantakan” oleh banyak pengamat. Salah satu momen awal yang turut membentuk jalan cerita adalah keputusan Delap untuk mengeluarkan dirinya dari Kejuaraan Eropa U-21 musim panas lalu—turnamen yang pada akhirnya dimenangi Inggris—agar fokus tersedia untuk kampanye Piala Dunia Antarklub Chelsea. Dari sana, Delap hanya mencetak tiga gol dalam total 47 penampilan bersama Chelsea.

Kondisi tersebut berhubungan dengan beberapa faktor yang disebut saling berkaitan: ada tiga perubahan manajerial di Chelsea, Delap juga berhadapan dengan cedera hamstring dan bahu, serta harus beradaptasi pada rencana permainan yang berbeda. Jika Ipswich memanfaatkan kecepatan Delap dengan serangan balik ke ruang di belakang garis pertahanan yang tinggi, Chelsea justru lebih sering membangun permainan melalui penguasaan bola.

Perbedaan itu terlihat dalam angka gaya bermain yang dijabarkan: pada 2025-26, Chelsea mencatat 123 build-up attacks dan 613 rangkaian umpan dengan minimal 10 kali umpan, sedangkan Ipswich pada 2024-25 mencatat 57 build-up attacks dan 247 rangkaian umpan seperti itu. Dampaknya, kemampuan Delap untuk membawa bola dengan tempo ke ruang dan langsung mengakhiri peluang—yang bisa dibilang menjadi ciri khasnya—menurun. Delap hanya mencatat enam shot-ending carries di Premier League bersama Chelsea, berbanding 26 bersama Ipswich dan 38 pada musim sebelumnya ketika masih bermain di Championship bersama Hull.

Namun, bukan hanya soal menit bermain atau kepercayaan diri. Artikel tersebut juga menyoroti penyelesaian peluang Delap yang tidak sebanding dengan kualitas pergerakannya. Di Ipswich, tingkat konversi tembakan Delap mencapai rekor kariernya, 17,7%—menghasilkan 12 gol dari expected goals (xG) sebesar 9,3. Di Chelsea, angka konversinya turun drastis menjadi 2,8%, dan ia hanya mencetak satu gol liga dari xG 4,5.

Selain itu, ada pekerjaan rumah lain yang dibaca sebagai tantangan dalam memaksimalkan kekuatan Delap tanpa membuat gaya bermainnya justru merugikan. Cara Delap menjalani duel sering dinilai “mengunci” dirinya dalam duel-duel yang tidak selalu menguntungkan, bahkan ketika ia tampil dalam versi terbaiknya. Pada Premier League 2024-25, Delap melakukan 413 duel—menempatkannya di urutan ketiga untuk pemain di bawah 23 tahun—tetapi ia hanya menang 157 duel. Ia juga tercatat melakukan 72 pelanggaran, peringkat kedua terbanyak di antara pemain lain, dan berada di urutan bersama kedua untuk catatan kartu, dengan 12 gol berbanding 12 kartu kuning pada musim itu.

Glasner dan peluang kebangkitan di Nottingham Forest

Bagi pendukung Forest, biaya yang dikeluarkan memang tampak besar, tetapi ada konteks yang dijelaskan: Ipswich dilaporkan menerima 20% dari setiap profit yang didapat dari penjualan £30 juta mereka ke Chelsea musim panas lalu. Dengan demikian, rekrutan tersebut masih memiliki “jejak” investasi yang berlapis.

Yang menjadi titik harapan berikutnya adalah pelatih Oliver Glasner. Manajemen pemain dan susunan taktik Glasner dinilai kemungkinan cocok dengan karakter Delap. Glasner cenderung membangun tim yang bermain tanpa bola; dalam musim terakhir di Crystal Palace, rata-rata penguasaan bola timnya tercatat 46%. Pada saat menyerang, Glasner juga dikenal menyukai serangan langsung dengan tempo, sebuah gaya yang bisa sejalan dengan aset alami Delap.

Glasner juga punya rekam jejak dalam mengubah nasib penyerang tengah. Ia meningkatkan performa Jean-Philippe Mateta di Crystal Palace—mendorong peningkatan conversion rate tembakan dan memangkas separuh waktu yang dibutuhkan Mateta untuk mencetak gol. Perbaikan itu dilakukan dalam peran target-man yang memiliki kemiripan dengan peran yang diharapkan untuk Delap di Forest.

Di sisi lain, Delap tetap dipandang sebagai komoditas berharga: ia masuk dalam kelompok kecil penyerang Inggris berusia 23 tahun atau di bawah yang bermain reguler di lima liga top Eropa. Meski ambisi tim nasional mungkin harus menunggu, langkah Delap ke Nottingham Forest memberikan kesempatan nyata untuk membuktikan bahwa fase sulit di Chelsea bisa menjadi bagian dari proses panjang—bukan penutup dari potensi yang pernah membuatnya disebut sebagai “penerus” Harry Kane.