Olahraga

Enzo Maresca: Cara pelatih Manchester City menghadapi tugas tersulit di sepak bola

×

Enzo Maresca: Cara pelatih Manchester City menghadapi tugas tersulit di sepak bola

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Enzo Maresca: How Man City manager is tackling the toughest job in football

jurnalistik.co.id – Enzo Maresca datang ke Manchester City dengan beban besar: menggantikan Pep Guardiola di musim panas, setelah sosok yang sulit ditandingi. Di awal masa kepemimpinannya, tantangan yang semula terasa mustahil justru mulai terlihat lebih “terkelola”, setidaknya lewat rangkaian hasil awal.

Man City meraih empat kemenangan dari empat pertandingan, membuat mereka duduk di posisi puncak Premier League secara berbagi dengan Arsenal. Petanda awal itu mengarah pada kemungkinan dua tim ini kembali bersaing ketat memperebutkan gelar.

Kemenangan paling berarti Maresca sejak resmi menangani tim datang saat menghadapi Manchester United. Di Old Trafford, City menang 1-0 pada hari Minggu, meski harus bermain dengan 10 pemain setelah Phil Foden mendapatkan kartu merah.

Yang menonjol dari periode awal ini bukan hanya angka, melainkan cara tim menghadapinya. Para pemain terlihat mampu menjaga ketenangan ketika situasi berubah, dan hal itu menjadi gambaran paling jelas tentang “komposur” yang sedang dibangun.

Menariknya, Maresca juga mengaitkan momen itu dengan pengalaman tahun sebelumnya. Ia menoleh ke September lalu saat penjaga gawang Robert Sanchez diusir setelah hanya lima menit saat membela Chelsea, di venue yang sama, kekalahan tersebut lalu disebutnya kembali setelah laga kontra United.

Dari cerita yang dia sampaikan, malam itu Maresca—saat menjadi manajer lawan—terpaksa melakukan penyesuaian cepat. Ia melakukan dua pergantian pemain dalam tujuh menit pertama, mengubah struktur menjadi back five, namun tetap tidak mampu mengendalikan jalannya pertandingan sampai selesai.

Setahun berselang, pendekatan Maresca tampak berbeda. Ia memilih menilai situasi lebih dulu sebelum melakukan perubahan besar, sehingga keputusan taktisnya bisa tepat sasaran: Rayan Cherki dipindahkan ke sisi kanan, lalu digantikan pada jeda dengan Iliman Ndiaye.

Selain perubahan di lapangan, Maresca juga menonjolkan nuansa personal dalam kepemimpinannya. Setelah laga, ia mengatakan, “How do you say in English? Happy wife, happy life. For us, happy Erling, happy life,” sebagai respons atas gol yang menentukan dari Erling Haaland serta kontribusinya musim ini.

Dalam konferensi pers, cara Maresca menyampaikan hal-hal itu terdengar jauh lebih ceria dibandingkan citra Guardiola. Guardiola kerap terlihat seperti lebih ingin berada di tempat lain dari kursi technical area, sementara Maresca cenderung berdiri tanpa banyak bergerak dengan tangan terlipat.

Pada bulan Mei, ketika Guardiola berbicara soal saran untuk manajer berikutnya, ia menjawab, “Be themselves”. Kini Maresca dinilai mulai melangkah keluar dari bayang-bayang pendahulunya, menampilkan gaya yang tidak sekadar meniru.

Perubahan lain yang paling mudah terlihat justru muncul dalam sesi latihan. Maresca memperkenalkan musik house yang cukup keras, sesuatu yang ia gambarkan sebagai pendekatan “boom, boom, boom”, dengan tujuan membuat pemain merasa “more happy” agar “work better”.

Kapten baru Ruben Dias juga menyinggung bahwa ada gagasan-gagasan yang datang dari Maresca, meski fondasinya tetap berhubungan dengan cara klub bermain. Dias menyebut: “There’s obviously many things from training sessions to some details about the way we press, details about the way we defend that make all of these Enzo’s idea.”

Meski begitu, Dias menegaskan adanya keseimbangan antara perubahan dan kesinambungan: “It’s still a change, of course. Many things have changed, but in some ways continuity in terms of the way we are playing, and there are details that make it different. But still, all very similar to the way we have always behaved at the club.”

Di sisi lain, kedatangan Maresca juga langsung memunculkan perbandingan yang hampir tidak terhindarkan. Cerita itu mengarah pada momen saat David Moyes menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United pada 2013, dan Maresca sendiri mengingatkan konteks tersebut dengan menyebut Ferguson serta Arsene Wenger saat konferensi pengenalannya.

Dalam kesempatan itu, Maresca menyinggung bahwa klub “struggled a little bit” setelah kepergian manajer yang lama memimpin. Ia juga mengakui betapa mudahnya melupakan awal musim City yang justru dimulai dengan kekalahan 3-0 dari Arsenal di Community Shield, sebelum tim memantul dengan lima kemenangan beruntun, termasuk kemenangan Liga Champions di Porto.

Perjalanan Moyes di Old Trafford hanya bertahan 10 bulan sebelum dipecat, dan itu sempat menimbulkan pertanyaan apakah tugas berat pengganti Guardiola bisa diatasi. Namun, Maresca justru terlihat merangkul “challenge” dan “privilege” untuk melanjutkan tongkat estafet tersebut.

Saat pramusim, ia menyadari Guardiola akan terus menjadi bahan rujukan. Ia mematahkan narasi itu dengan mengatakan, “it doesn’t put pressure on me”. Baginya, langkah awal di Etihad harus cepat agar tidak menimbulkan keraguan soal apakah ia orang yang tepat, terutama karena City menargetkan dirinya sebagai satu-satunya opsi penerus.

City sendiri melakukan perubahan besar pada skuad selama musim panas, dan versi tim yang baru itu akan memulai pertahanan Carabao Cup dengan menjamu Norwich di Etihad pada Kamis (19:30 BST). Tiga hari setelahnya, City dijadwalkan bertanding di Premier League dengan bermain menjamu Sunderland.

Kemenangan atas United di kandang mereka menjadi langkah awal yang kuat. Jika City mampu meraih kemenangan pada dua pertandingan berikutnya, maka Maresca bisa menutup bulan-bulan awal dengan start yang nyaris sempurna di salah satu pekerjaan paling sulit dalam sepak bola.