jurnalistik.co.id – GP Spanyol di sirkuit Madring menyisakan banyak pertanyaan, terutama soal kenapa adu salip terasa nyaris mustahil dan bagaimana kinerja virtual safety car (VSC) bisa mengubah nasib lomba. Di sesi tanya jawab terbaru, Andrew Benson dari BBC Sport mengupas dua isu besar itu, sekaligus melihat peluang munculnya wajah rookie menjelang 2027.
Di Madring, pembalap Mercedes Kimi Antonelli merebut kemenangan di balapan pertama yang digelar di sirkuit tersebut. Max Verstappen finis kedua, sementara Lando Norris melengkapi posisi tiga besar. Norris sebenarnya memimpin, tetapi kemudian kehilangan peluang menang setelah melewati area pit tepat sebelum VSC dipanggil.
Madring dan problem overtaking
Menurut Benson, desain Madring membuat tantangan overtaking sudah terlihat sejak jauh hari. Sejumlah pembalap bahkan memprediksi balapan akan terasa sulit untuk ditonton karena minimnya kesempatan menyalip, dan prediksi itu terbukti selama akhir pekan lomba.
Layout Madring pada dasarnya seperti membangun sirkuit dari awal: sebagian merupakan trek baru dan sebagian memanfaatkan jalan yang sudah ada di sekitar kawasan Ifema, dekat Bandara Barajas di Madrid. Dalam kondisi seperti itu, Benson menilai sulit dipahami mengapa masalah-masalah yang bisa diperkirakan tidak ditangani lebih serius dari awal.
Lando Norris merangkum kekecewaannya dengan pandangan yang sangat tajam. Ia menyebut, “I don’t know how someone looks at this design and goes: ‘Mint.’” Pernyataan itu lahir dari kenyataan bahwa sirkuit lebih banyak memberi tekanan pada pembalap saat kualifikasi dibandingkan saat balapan berlangsung.
Pemicunya, pertama, tidak ada lintasan lurus panjang yang mengarah ke zona pengereman besar. Tanpa kombinasi itu, pembalap sulit membangun momentum untuk masuk ke tikungan berikutnya dengan jarak tempel yang memadai bagi manuver salip.
Kedua, Norris dan para pembalap lain menyoroti karakter banyak tikungan yang memaksa pengemudi menggabungkan pengereman sekaligus manuver belok pada momen yang sama. Kondisi itu memperkecil ruang untuk menyalip, sementara keberadaan tembok yang “kembali” mengarah ke lintasan pada saat keluar tikungan ikut menambah batasan gerak.
Faktor lain yang turut menekan strategi adalah pit lane yang sangat panjang. Pit lane Madring disebut sebagai yang terpanjang di kalender, sehingga selisih waktu akibat pit stop menjadi semakin besar. Akibatnya, peluang lomba yang benar-benar berjalan lebih dari satu kali pit stop menjadi lebih kecil.
Apabila degradasi ban juga tinggi, pembalap akan terdorong melakukan lebih banyak manajemen ban dan menjaga laju lebih dekat ke batas yang aman. Benson menambahkan, skenario seperti ini cenderung mengurangi peluang terjadinya insiden besar, sehingga safety car—termasuk bentuk pengamanan balapan lain—lebih sulit muncul.
Perubahan yang disarankan
Meski begitu, Benson menyatakan sisi baiknya adalah perbaikannya terlihat jelas. Norris menilai ada “banyak peluang” agar sirkuit bisa dirombak menjadi tempat balap yang lebih menarik, serta menyatakan ia bersemangat untuk kembali tahun depan bila perubahan benar-benar dilakukan.
Norris menuturkan, “There’s a lot of opportunity. They can make it into a track that’s good for racing, and I’m excited to come back here next year if they can make these changes because I think it’s a track that is good fun to drive and it can be a great race track.” Ia kemudian menegaskan penilaiannya, “To me, it’s not a great race track. It’s great in qualifying.”
Dalam detail rekomendasi, Norris menyarankan menghapus tikungan 18 dan 19, lalu membuat jalur lurus dari tikungan 17 ke 20. Ia juga menginginkan lebar pendekatan yang lebih besar, “like Austin Turn One or Turn 10 in Austin… big hairpin,” karena menurutnya perubahan itu akan membuka peluang yang lebih baik bagi semua orang untuk berebut posisi.
Norris juga mengusulkan “some trickier changes”, termasuk mengubah chicane di Tikungan Five serta bagian dari sana hingga Tikungan Seven. Terakhir, Benson menekankan perlunya mengevaluasi lokasi dan tata letak pit serta area paddock, karena pembagian ruang yang terlalu terpecah membuat kerja personel F1 menjadi lebih sulit.
Ia menyinggung bahwa banyak hall pameran besar berdiri di area yang menurutnya tidak terlalu ideal untuk menjadi lokasi balapan. Benson menggambarkannya seperti “holding a grand prix at the NEC in Birmingham,” lalu menambahkan bahwa menemukan posisi pit lane yang tidak dipotong oleh sebuah bangunan dan menyatukan pit bersama paddock di luar area yang “terpecah” akan menjadi langkah yang tepat.
Virtual Safety Car dan efek ke balapan
Berita Terkait
Soal VSC, Benson menjelaskan bahwa ia memang menghadirkan ketegangan, tetapi tidak menjalankan fungsi yang identik dengan safety car sungguhan. VSC membekukan jalannya balapan, bukan “mengulang” keadaan seperti yang dirasakan pada safety car, sehingga bedanya terasa dari ritme dan suasana balapan.
Meski begitu, VSC punya keuntungan dalam meminimalkan gangguan ketika bahaya di lintasan dapat dibersihkan relatif cepat. Di sisi lain, Benson menilai VSC sering memberi kesempatan kepada tim tertentu karena pit stop saat VSC berlangsung memakan waktu jauh lebih sedikit dibandingkan pit stop saat balapan berjalan normal.
Dalam banyak kasus, keuntungan itu dianggap wajar bila strategi tim memang mengarah pada momen VSC atau safety car—misalnya menyiapkan keputusan pit dengan tujuan menunggu pengamanan balapan. Benson menegaskan, pola itu sudah lama menjadi bagian dari “jigsaw” kompetitif F1.
Namun, kasus Lando Norris dinilai unik. Ia kehilangan kemenangan karena posisi lintasannya saat VSC dipanggil membuat ia sendirilah yang tidak bisa masuk pit pada saat itu. Benson menyebut bahwa percakapan di briefing tim tidak sepenuhnya diketahui media, dan Norris memang sensitif terhadap kebocoran informasi, tetapi setelah balapan isu itu kemudian muncul ke permukaan.
Norris merangkum keributan tersebut dengan kalimat, “has been spoken about many, many times.” Hingga kini, masih belum jelas apakah kejadian ini akan mendorong perubahan aturan, misalnya memastikan VSC minimal berlangsung satu putaran penuh agar setiap pembalap merasakan kondisi lintasan yang serupa.
Kapan VSC seharusnya diberi durasi
Andrea Stella dari McLaren menyampaikan pandangan pribadi yang menunjukkan kebingungan soal standar yang “tepat”. Ia menyatakan, “Offering a personal opinion, I’m puzzled myself as to what’s right.” Lalu Stella menambahkan dua opsi yang ia pertimbangkan: “Is it correct to give enough duration such that everyone will have been subject to the same track conditions? So, for instance, the virtual safety car lasts at least one full lap.” atau “Or you just keep it in the hands of the Gods, and sometimes you are lucky, sometimes you are not. I’m not sure.”
Benson menjelaskan bahwa diskusi seperti ini memang punya jalur proses. Masuk ke sporting advisory committee untuk dianalisis, lalu dikaji kembali oleh F1 Commission yang melibatkan tim, pemegang hak komersial F1, serta FIA. Ia juga menegaskan perubahan tidak akan terjadi cepat, kecuali F1 dan FIA memutuskan bahwa hasil seperti itu layak diwujudkan, sementara momentum ke arah tersebut saat ini belum terlihat kuat.
Peluang rookie 2027
Untuk prospek rekrutmen rookie musim depan, Benson menilai tempat paling mungkin adalah Haas. Alasannya, posisi Esteban Ocon terlihat tidak terlalu aman. Dua nama yang menjadi kandidat utama di Haas berasal dari jalur berbeda namun sama-sama sudah menguji kemampuan mereka.
Leonardo Fornaroli, juara Formula 2 musim berjalan dan pembalap Italia yang juga bagian dari program pengembangan McLaren, disebut sebagai salah satu kandidat. Yang lain adalah Rafael Camara dari Brasil, yang saat ini berada di urutan kedua klasemen F2 serta merupakan bagian dari akademi Ferrari.
Keduanya disebut telah melakukan tes untuk Haas dan dinilai berhasil membuat tim terkesan. Benson menambahkan bahwa Haas cenderung menginginkan pembalap yang cepat sekaligus membawa kebutuhan finansial, sehingga belum jelas siapa yang dianggap favorit.
Nama lain yang masuk radar adalah Ryo Hirakawa, cadangan Haas sekaligus “protege” lama dari Toyota, mitra teknis mereka. Meski begitu, ia dianggap kemungkinan lebih kecil dibanding kandidat utama tadi.
Benson juga menyebut ada pembicaraan bahwa Red Bull mempertimbangkan Nikola Tsolov, pemimpin klasemen F2 asal Bulgaria, untuk masuk ke tim Racing Bulls. Tetapi skenarionya akan menuntut keputusan sulit untuk menyingkirkan salah satu pembalap lain: Liam Lawson atau Arvid Lindblad. Benson menilai akan sulit menjatuhkan Lindblad setelah kampanye rookie yang mengesankan, meskipun Lawson juga tengah tampil baik, sehingga belum ada kepastian.
Di Cadillac, Benson menyebut Colton Herta sebagai cadangan, pembalap yang sebelumnya menjuarai IndyCar. Tim disebut sudah menyiapkan rencana agar Herta bisa masuk F1 dalam waktu dekat, dan gagasan mengikuti langkah Eropa lewat Formula 2 adalah agar ia mempelajari “cara main” di wilayah tersebut sebelum naik ke F1.
Namun, Benson menilai musim Formula 2 Herta tahun ini berjalan sangat sulit. Hasil terbaiknya hanya posisi kelima, dan ia berada di urutan ke-19 klasemen, sehingga loncatan langsung ke F1 pada 2027 akan menjadi risiko besar.
Terakhir, Benson menyebut Ugo Ugochukwu yang memenangkan gelar Formula 3 di Madrid pada hari Minggu. Ia disebut menarik perhatian Cadillac, pernah menjadi bagian program pengembangan McLaren selama beberapa tahun hingga mereka berpisah pada akhir musim lalu. Bahkan bila hubungan dengan Cadillac menjadi lebih formal, Benson menilai tahun depan mungkin terlalu cepat untuk membuatnya naik ke F1, ditambah faktor fisik karena ia sangat tinggi, dan “getting him into an F1 car would not be easy.”
Di luar itu, Benson menyatakan sebagian besar tim sebenarnya sudah lebih terkunci. Ia menutup dengan catatan bahwa masih ada satu pertanyaan terbuka: apakah Fernando Alonso akan terus bertahan di F1 pada tahun berikutnya.












