jurnalistik.co.id – Michael Vaughan menyatakan kekhawatiran besar terhadap kondisi Pakistan setelah kekalahan telak mereka di Tes pertama melawan Inggris di Headingley. Menurutnya, ia “really fears” untuk Pakistan, seraya mengaku merasa “quite sad” menyaksikan cara tim itu tumbang pekan ini.
Dalam laga pembuka seri tersebut, Pakistan dihantam oleh Inggris dengan margin kemenangan satu inning dan 103 run. Tim asuhan mereka harus menghadapi 85,4 overs selama dua babak gabungan, tetapi mereka tak mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Vaughan menilai benturan di lapangan terlihat jelas dari berbagai aspek permainan. Ia menyebut mereka “been absolutely blown away” dan “they’ve been hammered”, bahkan mengatakan ia belum pernah melihat Pakistan tampak “so timid” seperti pada pertandingan itu.
Baginya, masalah tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir, melainkan juga menyangkut eksekusi taktik. Vaughan mengatakan “The tactical side wasn’t there”, sementara level keterampilan serta kelas antara kedua tim memperlihatkan jarak yang jauh.
“I hope they can find something over the next couple of days,” ujar Vaughan, berharap Pakistan bisa menemukan respons dalam beberapa hari ke depan menjelang pertandingan berikutnya. Ia juga percaya kritik yang akan datang “rightly so” dapat memaksa tim untuk segera berubah dan menemukan cara bermain yang lebih sesuai tuntutan Tes.
Kekalahan ini menambah rangkaian kesulitan Pakistan dalam periode yang panjang. Tim yang selama ini dikenal mampu melahirkan bowling-bowling paling menakutkan dalam kriket justru kali ini terlihat rapuh saat bertahan, tampil buruk di lapangan, dan kehilangan ketajaman.
Vaughan kemudian menambahkan bahwa ia terbiasa menyaksikan berbagai sisi Pakistan sepanjang kariernya, namun tim yang ia lihat pekan ini terasa kehilangan semangat dan dorongan untuk bertarung seperti yang biasanya ia kenal. “This side just seem to be lacking all that spirit and fight we’ve come accustomed to seeing,” katanya.
Keadaan di luar lapangan juga menjadi bagian dari konteks kesulitan Pakistan. Tekanan dan kegaduhan yang selama ini melekat pada tim tersebut, menurut laporan yang sama, digambarkan sejalan dengan suasana setelah pertandingan.
Dalam konferensi pers setelah laga, Salman Agha—yang menjadi kapten pengganti—melontarkan respons yang mengindikasikan bahwa fokus tim saat ini bukan mencari kambing hitam. Ia tertawa dan mengatakan ia “more than happy” menyerahkan kembali posisi kapten kepada Babar Azam untuk Tes kedua.
Tes kedua dijadwalkan dimulai di Lord’s pada hari Kamis. Dengan demikian, diskusi mengenai perbaikan tim harus segera dilakukan dalam waktu yang singkat sebelum tantangan baru dimulai.
Menilik perjalanan tim, Pakistan pernah berada di puncak peringkat Tes lebih dari satu dekade lalu. Tim-tim ikonik pada akhir 1980-an hingga 1990-an—dengan sosok seperti Imran Khan, Wasim Akram, dan Waqar Younis—meraih tiga kemenangan seri Tes secara beruntun di Inggris.
Namun, gambaran terbaru memperlihatkan kondisi yang berbeda tajam. Kini Pakistan berada di posisi terbawah World Test Championship, sekaligus menelan kekalahan pada lima dari enam Tes terakhir mereka. Mereka juga mencatat 14 kekalahan dari 19 Tes sejak Desember 2023.
Ramiz Raja, mantan kapten yang berbicara dalam program Test Match Special, menyampaikan kekhawatiran yang senada. Ia mengatakan “fears the worst”, dengan alasan bahwa salah satu pilar utama sudah runtuh.
Raja menjelaskan bahwa “The first pillar has fallen, and that’s the fans,” menilai suporter sudah tidak lagi sepenuhnya yakin untuk mendukung tim. Ia mengatakan para penggemar “aren’t going to back this team”, dan mempertanyakan siapa yang mau bertahan ketika catatan kekalahan terlalu berat.
Menurut Raja, bila sebuah tim kalah dalam 17 pertandingan Tes dalam rentang 20 laga yang dimainkan, maka dukungan publik tidak akan datang dengan mudah. Ia menegaskan, jika situasinya seperti itu, orang-orang “who would?” untuk terus menguatkan tim.
Analisis kapasitas dan perubahan menuju Tes berikutnya
Berita Terkait
Vaughan turut menambahkan penilaiannya dari sisi kualitas permainan. Ia melihat Pakistan kehilangan sesuatu yang menjadi identitas tim mereka selama ini, bukan sekadar karena satu pertandingan berjalan buruk.
Selain faktor karakter, kondisi skuad juga disebut memperlihatkan tantangan yang nyata. Babar—yang melewatkan Tes ini karena cedera pada tangan—berada sebagai satu-satunya pemukul Pakistan yang masuk 25 besar peringkat batting Tes ICC.
Di sisi bowling, Pakistan harus menghadapi absennya nama-nama yang biasanya menjadi penopang. Serangan mereka tidak bisa memanfaatkan kehadiran Shaheen Afridi dan Naseem Shah, dua pemain yang pernah tampil mengesankan pada beberapa kesempatan, namun dalam beberapa momen sering lebih banyak dimanfaatkan pada format yang lebih pendek atau mengalami masalah performa dan kebugaran.
Raja mengaitkan kondisi ini dengan cara tim membangun kekuatan dari waktu ke waktu. Ia menyebut bahwa kemenangan Pakistan dalam periode yang disebut—khususnya sejak 2023—sering datang dari kandang, sementara tekanan pada level kualitas tidak selalu bisa ditranslasikan saat berada di luar lingkungan yang mendukung.
Ia menyinggung bahwa empat dari lima kemenangan Pakistan sejak 2023 datang di kandang. Di sana, lapangan yang mendukung permainan spin sering diprioritaskan untuk mengejar kemenangan.
Raja juga mengingat proses persiapan yang melibatkan fasilitas untuk memodulasi kondisi lapangan pada seri saat Pakistan mengalahkan Inggris pada 2024. Dalam persiapan tersebut, dilibatkan kipas industri, pemanas, dan penghalang angin untuk membantu pembentukan kondisi pitch.
Dengan pola itu, Raja menyimpulkan bahwa tim cenderung membangun strategi yang terlalu satu dimensi. Ia berkata bahwa “You try to produce a one-dimensional team that can only win on select surfaces,” sehingga saat kondisi tidak sepenuhnya sejalan, performa tim akan ikut tertekan.
Menurutnya, pemilihan arah strategi juga berdampak pada motivasi pemain dan jenis keterampilan yang dipertahankan. Raja mengatakan bahwa dengan mendepak bowling cepat, sementara banyak pemain ingin bermain kriket T20 sebagai jalur menuju sukses, Pakistan jadi “just not bothered about playing Test-match cricket”.
Raja menyebut masa itu sebagai “desperate times” bagi kriket Pakistan untuk bangkit lewat kecepatan. Ia menekankan bahwa bila DNA yang melengkapi identitas mereka dilemahkan, maka tujuan bermain Tes akan kehilangan makna.
Salman Agha kemudian menutup diskusi dengan sikap yang lebih menekankan proses. Ia merendahkan kekhawatiran soal masa depan dan menyatakan bahwa tim sedang menjalani “rebuild”.
Ia mengatakan, “We are rebuilding” dalam arti yang lebih luas, bukan sekadar menjadikan kekalahan sebagai alasan untuk panik. “It is not about worrying about the future. It is about making a future,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tim telah gagal mengeksekusi rencana mereka di Headingley.
Namun, ia menegaskan kegagalan eksekusi bukan berarti kemampuan untuk menjalankan rencana sama sekali hilang. “We didn’t execute our plans at Headingley, but that doesn’t mean we can’t do the same in the next matches,” katanya.
Salman menyatakan mereka akan duduk bersama untuk menilai performa. Ia juga meyakinkan bahwa tim akan kembali dan berusaha memperbaiki hal-hal yang meleset.
Untuk komposisi, Babar diperkirakan siap kembali di Lord’s. Di saat bersamaan, Ubaid Shah—adiknya dari Naseem—muncul sebagai kandidat masuk skuad, karena ia bisa memberikan kecepatan yang lebih besar dibanding Muhammad Abbas. Selain itu, nama Mohammad Ali dan Khurram Shazad juga disebut sebagai alternatif.
Raja menilai persoalan tidak berhenti di level skuad Tes. Ia menyoroti adanya masalah pada lapisan yang lebih muda, dengan mengatakan bahwa batting berada di bawah standar bahkan pada level Under-19 dan Under-17.
Ia juga menyebut bowling: memang ada “two or three quicks”, tetapi pemain belum terbuka sepenuhnya terhadap jenis kriket Tes. Di lapangan, kualitas terlihat “brittle”, yang mencerminkan bahwa konsistensi dan ketahanan dalam situasi sulit masih perlu dibangun.












