Olahraga

Kolom Danny Murphy: ‘Their intelligence and resilience was key’—Cara Man City meraih ‘statement win’ di Old Trafford

×

Kolom Danny Murphy: ‘Their intelligence and resilience was key’—Cara Man City meraih ‘statement win’ di Old Trafford

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Danny Murphy column: 'Their intelligence and resilience was key' - how Man City earned 'statement win'

jurnalistik.co.id – Kemenangan 1-0 di Old Trafford pada laga derby tidak hanya soal angka, tetapi juga pesan tentang karakter tim. Danny Murphy menilai, jika sebuah tim bisa “pergi” ke kondisi sulit sejak awal—hingga harus bermain dengan 10 orang—lalu tetap pulang membawa kemenangan, maka hal itu menunjukkan banyak hal tentang mental dan kedisiplinan para pemain.

Menurut Murphy, hasil Minggu itu bisa dibaca sebagai “statement win” bagi manajer baru Manchester City, Enzo Maresca. Di pandangannya, pendekatan taktis Maresca memang tepat, tetapi performa tim juga memperlihatkan identitas yang ingin dibangun: cara berpikir, disiplin, organisasi, serta energi yang dibutuhkan ketika pertandingan berjalan tidak sesuai rencana.

Berangkat dari skenario ketika Phil Foden mendapat kartu merah sejak dini, Murphy menekankan bahwa yang menentukan bukan hanya strategi di papan taktik. Yang lebih krusial adalah mentalitas untuk tetap tenang, menjaga kerapian permainan, dan menerapkan disiplin ketika keadaan berubah cepat dalam waktu yang singkat.

Dia juga menilai City terlalu sering dikaitkan hanya dengan dominasi penguasaan bola. Namun, ketika kesempatan itu tidak selalu tersedia, The City tetap mampu menjalani laga melawan Manchester United dengan cara yang solid dan terukur. Bagi Murphy, kemampuan beradaptasi ini muncul dari kepemimpinan serta komunikasi yang berjalan bukan hanya dari manajer, melainkan juga dari pemain di lapangan.

Murphy menyebut City “smart” dalam menghadapi momen krisis itu. Pengalaman dan kemampuan untuk tidak panik di situasi seperti yang dialami setelah kartu merah Foden, menurutnya, membawa perbedaan besar dalam sepak bola—terutama dalam pertandingan yang intens seperti derby.

Sebelum pertandingan memasuki fase ketika United punya lebih banyak pemain, Murphy menilai saat masih 11 lawan 11, United justru terlihat lebih baik. Dia menggambarkan United mampu menekan City dan tampil terang di depan, dengan Marcus Rashford yang khususnya dinilai memberikan dorongan positif. Dari sana, Murphy merasa tim asuhan Michael Carrick sempat berada di atas angin.

Namun, pengusiran Foden—yang menurut Murphy merupakan keputusan yang tepat—mengubah momentum United. Bagi Murphy, kartu merah itu pada dasarnya “memberi tahu” City bagaimana pertandingan harus dijalani: City harus bertahan lebih lama, sementara United mencoba memaksimalkan keunggulan jumlah.

Meski itu bukan kondisi yang paling sering mereka lakukan, Murphy menilai City tidak tampak terganggu. Ia menilai ada komposisi pemain yang berpengalaman di level internasional, yang mampu tetap nyaman dan mempertahankan ketenangan, sehingga perubahan peran tidak membuat permainan mereka kehilangan arah.

Dalam dua bagian pertama babak awal, United tidak benar-benar menciptakan terlalu banyak peluang yang jelas. Murphy hanya menyoroti satu momen penting ketika tembakan Rashford dari tendangan bebas mengenai tiang, sehingga kerapatan peluang United tetap tidak benar-benar menjadi “ledakan” yang permanen.

Di tengah ekspektasi bahwa United akan melakukan penyesuaian besar saat jeda, Murphy merasa hal itu tidak terjadi. Tim tidak datang dengan strategi yang terlihat jelas untuk benar-benar mengejar City secara agresif setelah jeda.

Memasuki paruh kedua, Murphy menambahkan bahwa United kembali menyentuh momen dekat ketika mereka mengenai tiang lagi. Salah satu contohnya adalah tembakan jarak jauh Kobbie Mainoo, meski hasilnya belum juga berubah menjadi peluang bersih. Ia kemudian menegaskan bahwa baru di bagian akhir pertandingan United memiliki kesempatan yang lebih nyata, ketika Gianluigi Donnarumma melakukan penyelamatan penting dari Bryan Mbeumo.

Dari sisi penyelesaian serangan, Murphy menilai keputusan di sepertiga akhir lapangan kurang bagus. Menurutnya, United sering mengambil pilihan tembakan dari sudut yang “tidak masuk akal”, dan ketika mereka mendapatkan ruang di sisi sayap serta sudah membawa bola ke area berbahaya, jumlah pemain yang masuk ke kotak justru kurang.

Murphy juga menilai pergantian pemain United bisa dilakukan dengan timing yang berbeda. Ia menyebut Benjamin Sesko seharusnya dibawa lebih cepat, sementara ia merasa Rashford semestinya tetap berada di lapangan karena dinilai lebih menjadi ancaman. Meski demikian, dia tetap menekankan bahwa apa pun upaya yang dilakukan United, City mengelola pertandingan dengan sangat baik.

Walau gol kemenangan pada akhirnya menjadi pembeda, Murphy mengungkap keraguan dari segi situasi offside. Bahkan pada saat peristiwa itu terjadi, ia merasa gol seharusnya tidak disahkan karena Enzo Fernandez memberi dampak pada permainan dan semestinya terjebak offside. Terlepas dari itu, ia menilai sisi defensif City benar-benar tampil luar biasa—bukan hanya karena barisan belakang dan gelandang tengah, tetapi juga dari keseluruhan struktur.

Di momen pergantian pemain, Murphy mencatat bahwa Maresca hanya melakukan satu perubahan dalam waktu sampai menit ke-80. Ia menyebut Cherki digantikan oleh Iliman Ndiaye tepat saat jeda, sebagai langkah yang sekaligus menunjukkan keyakinan Maresca pada rencana yang ia pilih.

Murphy menilai keputusan tersebut cerdas sekaligus berani. Dia mengakui Ndiaye membawa dimensi berbeda dibanding Cherki, terutama dari sisi pertahanan. Tetapi yang menurutnya sama penting adalah Ndiaye juga seorang pembawa bola yang pergerakannya efektif ketika harus mengalirkan serangan, sehingga City tidak hanya bertahan pasif ketika menghadapi tekanan.

Menurut Murphy, Ndiaye memberi outlet dan turut menghidupkan serangan lewat lari-lari yang berdampak. Ia juga menegaskan Ndiaye terlibat dalam gol, sehingga kontribusinya bukan sekadar bertahan, melainkan juga menyusun arah permainan saat City memiliki momen menyerang.

Murphy mengingat bahwa Maresca pernah membuat pergantian yang bernuansa negatif setahun sebelumnya saat Chelsea-nya juga terpaksa bermain dengan 10 orang lebih awal di Old Trafford. Saat itu, mereka akhirnya kalah dan Maresca mendapat kritik. Namun kali ini, Murphy menyebut Maresca memilih Ndiaye, dan pilihan itu bekerja “seperti yang diinginkan”.

Ketika pertandingan berjalan, Murphy melihat pola lain yang sama penting: United justru tampak semakin lelah meski sudah unggul jumlah pemain dalam waktu lama. Ia memperkirakan hal itu mungkin dipengaruhi jadwal, dengan United bermain pada Kamis malam dan City berada pada konteks pertandingan Liga Champions Selasa. Tetapi baginya, bukan sekadar energi yang kurang—United juga tidak memiliki “know-how” atau cara yang cukup untuk benar-benar membuat City bermasalah.

Di titik ini, Murphy kembali ke inti penilaiannya. Ia menilai Maresca pantas mendapat banyak apresiasi atas keputusan yang ia ambil, tetapi ada satu alasan lain yang sama menentukan: kumpulan pemain yang ia miliki. Dan bagi Murphy, faktor itu yang membuat City bisa menjalankan rencana ketika berada dalam tekanan, karena “their intelligence and resilience was key”—kecerdasan dan ketangguhan menjadi kunci dari kemenangan berbentuk “statement win”.

Murphy juga menambahkan bahwa ketika tim menghadapi tantangan seperti ini, mereka terlihat nyaman menjalani pola pertandingan yang tidak biasa. City, menurutnya, bisa membaca jalannya laga, mengatur ritme, dan bertahan dengan terstruktur hingga peluang terakhir United pun tidak cukup untuk mengubah hasil.

Murphy menyampaikan pandangannya dalam kolom untuk BBC Sport, berbincang dengan Chris Bevan, dan ia menilai kemenangan derby tersebut menjadi bukti langsung bahwa City tetap kompetitif sepanjang musim, bukan sekadar berdasarkan dominasi penguasaan bola.