jurnalistik.co.id – Michele Kang menegaskan fasilitas latihan baru London City Lionesses akan menjadi tolok ukur baru bagi sepak bola putri. Ia menyebut pusat latihan tersebut dirancang khusus untuk atlet perempuan dan ditargetkan dibuka dalam waktu kurang dari setahun.
Menurut Kang, gagasan dasarnya adalah menghadirkan ruang yang dibuat untuk kebutuhan pemain putri, bukan sekadar mengikuti fasilitas yang ada. Ia juga menyatakan arsitek yang terlibat pernah membangun beberapa training centre klub-klub Premier League.
Dalam penjelasannya, Kang mengatakan bahwa ketika fasilitas London City sudah beroperasi, kualitasnya akan lebih baik dibandingkan fasilitas yang dipakai sebagian besar tim pria Premier League. Ia menggambarkan proyek itu sebagai pusat latihan berstandar tinggi yang “dibangun dan didesain untuk” para atlet perempuan.
“Kami sedang membangun pusat latihan berteknologi mutakhir untuk para atlet perempuan kami, didedikasikan kepada mereka, dibuat dan dirancang khusus untuk mereka, dan akan dibuka dalam waktu kurang dari setahun,” kata Kang. Ia menambahkan bahwa arsitek tersebut menilai fasilitas yang dibangun London City bakal melampaui kebanyakan training centre milik klub-klub Premier League putra.
Baginya, investasi pada infrastruktur bukan agenda yang berdiri sendiri. Kang memandang langkah ini bagian dari upaya agar atlet perempuan tidak lagi diperlakukan secara berbeda dari rekan-rekan mereka di sepak bola pria. Ia mempertanyakan kelaziman yang selama ini dianggap wajar dalam olahraga yang sama.
“Bagaimana mungkin kita bisa menerima gagasan bahwa anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan, diperlakukan sebagai warga kelas dua, sementara dalam olahraga yang sama, anak laki-laki bisa bermain seolah itu hak bawaan mereka?” ujarnya. Kang menilai, terlalu lama perempuan diperlakukan seperti “pria kecil,” padahal kebutuhan dan konteksnya tidak sama.
“Kita harus memastikan pemain perempuan dirawat dengan lebih baik agar mereka bisa berlatih, tampil, dan berkembang sebagai atlet perempuan—bukan sebagai ‘pria kecil’,” tegasnya. Ia mencontohkan ketimpangan yang masih terjadi: “Kamu mengantar anak laki-laki ke pusat latihan yang berstandar mutakhir, lalu jika beruntung ada fasilitas di dekatnya, kamu mengantar anak perempuan ke tempat lain. Kenapa kamu harus menerima itu?”
Bicara soal identitas klub, Kang juga merupakan pendukung kuat klub-klub perempuan yang independen. Ia menyebut salah satu alasan ia tertarik pada London City Lionesses adalah karena model semacam itu sudah lebih akrab baginya sejak awal karier di sepak bola putri.
“Masuk pertama saya ke sepak bola putri adalah Washington Spirit, di Amerika Serikat, di mana dua pertiga tim putri bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan tim pria,” kata Kang. Ia melihat situasi tersebut sebagai sesuatu yang lebih “normal” dibanding pola yang mengharuskan tim putri melebur dalam sistem klub pria.
Kang menilai tidak seharusnya hanya ada satu model bahwa tim perempuan harus menjadi bagian dari tim pria. Ia menyebut pada periode tertentu, London City dan Durham merupakan dua tim perempuan yang bergerak sebagai tim khusus perempuan, sehingga ia ingin membangun contoh yang memperlihatkan apa yang mungkin dicapai ketika fokus, perhatian, serta sumber daya diarahkan penuh untuk tim perempuan.
Ia menegaskan niat itu sebagai cara untuk menunjukkan bahwa ketika semua perhatian dan energi dicurahkan kepada tim perempuan, hasil yang ditargetkan bisa sangat besar. “Saya ingin membangun tim yang hanya berisi perempuan untuk menunjukkan bahwa jika Anda benar-benar memberi seluruh perhatian, sumber daya, dan energi pada tim perempuan, apa yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Kang juga mengaitkan keyakinannya dengan latar belakang keluarga. Ia mengatakan banyak pandangannya soal perempuan berawal dari pengalaman dan pengajaran dari ayahnya sejak ia masih kecil.
Berita Terkait
Ketika ditanya mengapa ia begitu bersemangat memperjuangkan perempuan, Kang menyatakan: “Saya pikir itu kemungkinan besar awalnya datang dari ayah saya. Sejak sangat awal, ayah saya—yang hanya memiliki tiga anak perempuan. Mungkin itu kebutuhan.” Ia menambahkan bahwa ia tumbuh di Korea Selatan pada masa yang masih sangat tradisional, ketika perempuan memiliki peran-peran tertentu.
Ia menceritakan pesan sang ayah yang bertahan sampai sekarang: “Dalam zaman ini, tidak masalah apakah kamu perempuan atau laki-laki. Apa pun yang kamu inginkan, kamu harus memberikan 100% dari kemampuanmu, dan kamu bisa mengejarnya. Dan kalau kamu tidak mencapainya, satu-satunya kesalahan ada pada dirimu sendiri.”
Kang menyebut pelajaran tersebut tetap melekat di sepanjang perjalanan kariernya. Ia mengatakan rasa syukurnya karena berhasil mewujudkan “American dream,” lalu menempatkan upaya memberi kembali sebagai alasan ia ingin mencegah anak-anak perempuan muda mengalami hal yang sama seperti yang ia jalani.
“Saya bersyukur bahwa saya meraih impian Amerika saya. Dan ini adalah cara saya memberi kembali: saya tidak ingin—secara jujur—banyak gadis muda yang tumbuh besar harus melewati apa yang saya alami,” katanya. Ia ingin mereka bisa memusatkan fokus pada apa yang diperlukan untuk menjadi pemain sepak bola terbaik, tanpa harus terbebani urusan yang seharusnya bukan bagian dari persiapan olahraga.
Ia menyebut contoh kebutuhan praktis seperti tidak perlu mengubah pakaian di tengah taman publik atau menghadapi peralatan yang rusak. “Saya ingin mereka bisa fokus pada tugas mereka untuk menjadi yang terbaik dalam sepak bola, tanpa harus khawatir tentang mengganti pakaian di tengah taman publik, atau peralatan yang rusak—hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Di luar fasilitas latihan, pusat latihan London City juga diproyeksikan mendukung riset mengenai kesehatan atlet perempuan. Kang menilai area ini selama puluhan tahun cenderung terabaikan, terutama ketika perhatian penelitian medis dan sains lebih banyak diarahkan ke kebutuhan pria.
Kang mengaitkan pandangannya dengan angka cedera. Ia menyatakan ada lebih banyak cedera ACL pada pemain perempuan, dengan perbandingan dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding pemain pria. Ia juga menyinggung basis riset medis: “Sekitar 94% dari seluruh penelitian ilmiah dan medis ditujukan untuk pria.”
“Jadi, secara mendasar, pengetahuan tentang tubuh perempuan masih sangat sedikit,” katanya. Baginya, pusat latihan yang lengkap tidak hanya memberi ruang berlatih, tetapi juga menjadi tempat untuk mendukung pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan dan kesehatan atlet perempuan.
Ambisi Kang meluas melampaui London. Melalui model kepemilikan multi-klub yang sudah mencakup Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, ia ingin standar yang dibangun di London City bisa direplikasi secara lebih luas di berbagai negara.
Ia mengatakan ingin membeli tim di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. “Saya ingin membeli tim di Asia. Saya ingin membeli tim di Afrika. Saya ingin membeli tim di Amerika Selatan, karena saya ingin semua gadis di negara-negara itu tumbuh dengan cara berpikir bahwa fasilitas terbaik, praktik terbaik, dan infrastruktur—yang sangat, sangat hebat—bukan sesuatu yang hanya bisa mereka lihat di televisi karena mereka hanya berada di Inggris, Prancis, Amerika, tetapi itu ada di halaman rumah mereka sendiri,” ujarnya.
Kang menekankan bahwa generasi pemain perempuan berikutnya seharusnya menikmati peluang yang setara dengan anak laki-laki, terlepas dari tempat mereka tumbuh. Ia menyebut kesenjangan perjalanan—antara yang dialami gadis dan yang dialami anak laki-laki—tidak bisa dibenarkan.
Ia menilai situasi itu “tidak dapat diterima,” lalu berharap kesenjangan tersebut menghilang. “Kenyataan bahwa ada kesenjangan antara perjalanan anak perempuan dan anak laki-laki tidak dapat dibela, dan saya ingin itu lenyap,” katanya.
Ketika ditanya pesan singkatnya untuk kompetisi Women’s Super League, Kang menjawab langsung. “Invest,” tuturnya.












