Hukum & Kriminal

Banding Ditolak: Kristofer Deichler, Jatinder Kamra, dan Sukhraj Singh Kalah dalam Kasus Ganggu Jurnalis BBC Catrin Nye

×

Banding Ditolak: Kristofer Deichler, Jatinder Kamra, dan Sukhraj Singh Kalah dalam Kasus Ganggu Jurnalis BBC Catrin Nye

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: A Very British Cult: Three men lose appeal for harrassing BBC journalist over documentary

jurnalistik.co.id – Pengadilan tinggi menolak upaya banding tiga pria yang divonis karena melecehkan jurnalis BBC, Catrin Nye, terkait podcast dan dokumenter yang ia bawakan, A Very British Cult. Putusan ini membuat vonis mereka tetap berlaku setelah sidang banding di pengadilan setempat.

Kristofer Deichler (47), Jatinder Kamra (46), dan Sukhraj Singh divonis bersalah atas tindakan pelecehan. Mereka sebelumnya mendatangi rumah Nye—yang saat itu ia tinggal bersama pasangan dan anak-anak—baik secara berkelompok pada Agustus 2024, maupun dengan keterlibatan ketiganya pada September 2024.

Di Snaresbrook Crown Court, hakim Pounder menyatakan bahwa pengadilan menerima kenyataan bahwa Nye merasa terintimidasi. “We accept she was terrified by the unexpected attendance” di rumahnya, kata Pounder, sambil menambahkan adanya “heightened concern” karena anak-anak Nye juga berada di lokasi.

Ketiga terdakwa merupakan anggota Lighthouse, organisasi yang sebelumnya diteliti dalam dokumenter serta podcast tahun 2023 yang dipimpin oleh Nye. Dalam banding, mereka berupaya membalikkan putusan yang dijatuhkan pada Februari, ketika masing-masing dinilai bersalah dan dijatuhi hukuman kerja sosial 200 jam serta restraining order selama 10 tahun.

Restraining order tersebut melarang mereka untuk menghubungi atau mendekati Nye maupun pasangannya selama satu dekade. Pengadilan juga menetapkan larangan bagi ketiganya untuk masuk ke wilayah London tempat pasangan tersebut tinggal selama 10 tahun.

Hakim Pounder menilai cara mereka bertindak telah melampaui batas yang dapat diterima. Ia mengatakan: “While there were elements of peaceful protest and freedom of expression, their conduct, as we have already identified, was not proportionate to the proper exercise of those rights and went beyond what was acceptable and indeed became criminal”.

Dalam perkara ini terungkap, setahun setelah siaran awal program BBC tentang Lighthouse, kelompok tersebut memulai rangkaian aksi protes di luar kantor-kantor BBC di London. Aksi dinilai melibatkan bentuk protes yang dinyatakan sebagai upaya damai dan legal, namun pengadilan menemukan perilaku mereka pada praktiknya berubah menjadi tindakan yang bersifat pidana.

Kamra memberi keterangan bahwa setelah berinteraksi dengan Nye pada Juli 2024, ia merasa tidak puas karena pertanyaan yang ia ajukan tak kunjung dijawab. Dari sana, kelompok memutuskan untuk mendatangi alamat rumah Nye, dan pengadilan mendengar bahwa alamat tersebut mereka peroleh dengan bantuan penyelidik privat. Mereka juga menyebut telah menelusuri pedoman BBC terkait “doorstepping”.

Hakim menegaskan bahwa para terdakwa memahami adanya garis yang tidak boleh mereka lewati. Pounder mengatakan: “The appellants therefore appreciated that there was a line which their conduct must not cross”. Ia menambahkan, “What happened descended into bullying and oppressive conduct”, dan menilai perilaku ketiganya tidak wajar.

Pada kunjungan pertama, yang terjadi pada 29 Agustus, kelompok mendistribusikan selebaran yang dicetak untuk dibagikan kepada tetangga di sekitar tempat Nye tinggal. Pounder menyebut isi selebaran itu tidak terbatas pada kritik terhadap jurnalisme. Menurut penilaian pengadilan, selebaran tersebut mengarah pada identifikasi Nye bagi warga di lingkungan terdekat serta mengaitkannya dengan tuduhan serius terkait rasisme, ketidakjujuran, dan dugaan penyembunyian pelecehan seksual terhadap anak oleh anggota keluarga. “That is materially different from distributing critical literature outside the headquarters of a public broadcaster,” kata hakim.

Pengadilan juga mendengar bahwa Kamra kemudian kembali ke properti tersebut untuk meninggalkan surat tulisan tangan yang berbunyi “we will be back”, yang dinilai oleh Pounder “materially reinforced” kekhawatiran Nye. Setelah itu, Deichler, Kamra, dan Singh kembali ke kediaman Nye pada 5 September, seminggu kemudian, sebelum akhirnya mereka ditangkap.

Di persidangan, ketiganya mempertahankan bahwa tindakan mereka merupakan bagian dari “citizen journalism”. Mereka menyatakan berada di rumah Nye untuk memperoleh wawancara “doorstep” sebagai bagian dari dokumenter mereka sendiri, serta menilai tindakan tersebut dilakukan demi kepentingan publik. Hakim menerima bahwa mereka memandang diri sebagai jurnalis warga, tetapi menekankan bahwa perilaku yang dilakukan tetap tidak rasional. Pounder menunjuk “deliberate acquisition of a private address, attendance of home, distribution of inflammatory literature, indication return visit and subsequent return” sebagai faktor penentu.

Saat memberi kesaksian untuk kedua kalinya dari balik tirai, Nye menyampaikan ketakutan ketika ketiga terdakwa mendatangi tempat tinggalnya. Ia mengatakan tindakannya “extremely” menyakitkan dan membuatnya sangat tertekan. Menurut keterangan di pengadilan, akibat tindakan itu, Nye memasang CCTV, memasang panic alarms, membuat jalur komunikasi langsung dengan polisi, serta membawa “rape alarms”.

Ketiganya juga sempat mengklaim kehadiran mereka di luar rumah Nye sebagai ekspresi keyakinan religius. Hakim Pounder menyatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa pandangan mereka diyakini secara tulus, tetapi ia menjelaskan bahwa doa yang mereka ucapkan di depan pintu rumah Nye hanya menjadi bagian insidental dari kehadiran mereka di alamat tersebut. Mengenai pemberian Alkitab, Pounder menilai barang itu seharusnya dapat dikirim lewat BBC.

Selain mempertahankan vonis awal, pengadilan juga memerintahkan agar masing-masing terdakwa membayar tambahan sebesar £1,000. Dengan demikian, banding mereka dinyatakan gagal, dan hukuman mereka tetap berlaku sebagaimana diputus pada Februari.