jurnalistik.co.id – Kontroversi keputusan VAR pada derby Manchester yang berujung gol penentu kembali memicu perdebatan mengenai cara kerja tim video assistant referee. Dalam insiden yang membuat Manchester City menang 1-0 atas Manchester United, fokus kini bukan hanya pada hasil, tetapi juga bagaimana proses peninjauan itu dijalankan.
Menurut laporan BBC Sport, Matt Donohue, yang bertindak sebagai VAR pada laga tersebut, terdengar berulang kali mendorong ritme pemeriksaan yang sangat cepat. Ucapannya bahkan seperti “Quick, quick, quick, quick! Go, go, go, go, go!” saat ia melaju melalui review untuk mengesahkan gol Erling Haaland.
Gol itu kemudian menjadi salah satu kesalahan VAR paling serius di Premier League, karena tim video justru melewatkan detail posisi pemain. Donohue dan asisten VAR-nya, Blake Antrobus, “inexplicably failed to notice that Enzo Fernandez was three yards offside before he tried to head the ball.”
Hasilnya, gol diberikan dan Manchester City unggul. Dengan keputusan yang mengesahkan tembakan Haaland, tim asuhan Pep City meraih kemenangan 1-0 di derby tersebut, sementara Manchester United harus menerima kenyataan pahit dari kesalahan peninjauan.
Tekanan agar VAR cepat
Perdebatan mengenai kecepatan VAR memang sudah lama mengemuka sejak teknologi ini diperkenalkan. Premier League bahkan menetapkan salah satu prinsip musim ini sebagai “more efficient application of VAR to reduce delays” untuk menekan jeda.
Di lapangan, dorongan tersebut menjadi semakin terasa karena respons publik terhadap keterlambatan. Dalam survei pemangku kepentingan Premier League—yang melibatkan manajer, pelatih, dan pendukung—tema utama untuk perbaikan VAR adalah kecepatan keputusan.
Namun, keinginan mempercepat review tetap diposisikan sebagai “balancing act” yang harus menjaga akurasi. Howard Webb disebut telah menimbang kebutuhan review yang lebih cepat, tetapi kasus derby Manchester menunjukkan bahwa tekanan proses tidak boleh mengorbankan langkah mendasar.
Di sisi lain, Enzo Maresca selaku pelatih City berusaha memberi konteks, meski ia jelas diuntungkan oleh kesalahan tersebut. Maresca mengatakan, “To make a decision in 10, 20 seconds is not easy for them,” dan menambahkan, “Sometimes they make mistakes. I make mistakes, players make mistakes. It’s part of our job.”
Dalam kerangka statistik, ada dampak positif dari tuntutan tempo. VAR delays—termasuk saat wasit mengumumkan keputusan kepada penonton—turun dari rata-rata 46 detik per pertandingan menjadi 36 detik pada musim berjalan dibanding musim sebelumnya.
Meski begitu, laporan juga menekankan bahwa satu-satunya kesalahan VAR lain yang signifikan pada periode itu adalah kegagalan memberikan penalti untuk Arsenal saat laga melawan Aston Villa. Insiden tersebut juga dinilai berkaitan dengan proses yang “cleared too quickly,” sehingga memperlebar irisan antara kecepatan dan ketelitian.
Kegagalan paling krusial terjadi sebelum langkah dipercepat
Menurut analisis proses, mempercepat review bukan berarti melewati tahapan. BBC menegaskan, “Completing a VAR review in the shortest possible time is not about skipping steps,” dan kesalahan serius justru muncul sebelum Donohue mencoba mengatur tempo di fase serangan.
Situasi bermula saat Donohue meminta operator replay menghentikan tayangan pada momen pertama. Donohue melakukannya ketika Josko Gvardiol menyentuh bola untuk mengirim umpan silang ke dalam kotak.
Setelah itu, ia langsung masuk ke teknologi semi-otomatis untuk offside. Laporan menyebut langkah ini seharusnya tidak terjadi, karena tim VAR seharusnya memeriksa rangkaian penuh: mulai dari saat umpan dilepaskan sampai kepala Haaland yang menjadi penyelesaian akhir.
Jika rangkaian lengkap itu dinilai, posisi dan dampak Enzo Fernandez bisa terbaca sebagai bagian dari konteks offside. Tetapi, menurut laporan, perhatian baru bergeser pada fase berikutnya—ketika kejadian di dalam kotak dinilai setelah tahap serangan dilihat lebih dulu.
Berita Terkait
Pada titik itulah Donohue dan Antrobus seolah mengejar satu pertanyaan inti: apakah Fernandez menyentuh bola. Dari sudut pandang VAR, laporan menyatakan bahwa pendekatan seperti itu bisa menempatkan Haaland dalam posisi offside melalui “a new phase,” sesuatu yang semestinya sudah terlihat lebih awal jika rangkaian lengkap diperiksa.
Peran Antrobus dan suara “checks and balances”
Meski kritik banyak diarahkan kepada Donohue, laporan juga menyoroti kontribusi Antrobus dalam prosesnya. Peran asisten VAR seharusnya menjadi “checks and balances” agar tidak ada detail yang terlewat.
Laporan menyebut, kontribusi Antrobus dalam keseluruhan review berupa ucapan singkat “no, yeah” terkait kemungkinan sentuhan Fernandez. Ucapan itu disebut terjadi satu detik sebelum Donohue mengucapkan kalimat yang menandai keputusan akhir: “final decision is goal, check complete”.
Bagi BBC, urutan itu memberi gambaran bahwa elemen pemeriksaan tidak berjalan sesuai prinsip dasar. Kesimpulan yang berulang dalam laporan adalah bahwa peran Antrobus sebagai penyeimbang seharusnya memastikan tidak ada detail krusial yang luput, dan hal itu tidak terjadi pada derby tersebut.
Menariknya, musim ini hanya ada satu jeda VAR yang berlangsung lama. Laga Brentford melawan Sunderland menjadi contohnya, ketika gol Dan Ballard dianulir karena offside yang dinilai secara subjektif terhadap Kevin Danso.
Dalam duel itu, Antrobus juga bertugas sebagai AVAR. Ada kritik dari sebagian media terhadap jeda yang memakan lebih dari empat menit, sehingga muncul pertanyaan apakah pengalaman panjang tersebut ikut memengaruhi fokus Antrobus pada hari Minggu.
Laporan menegaskan, “We cannot know for sure.” Meski demikian, Antrobus tetap disebut berperan penting dalam mengarahkan Tim Wood—melalui mekanisme VAR—agar keputusan offside melawan Danso bisa keluar secara benar dalam momen yang justru berbeda.
Perdebatan solusi: spesialis VAR, pelatihan, dan batas investasi
Selain faktor individu, BBC menyoroti dorongan agar VAR memiliki spesialis. Namun masalahnya, kesalahan seperti derby Manchester tidak bisa sepenuhnya ditutup oleh investasi pelatihan dan sumber daya.
Pro Ref disebut telah menyiapkan skema pencalonan pejabat video. Tiga musim lalu, Pro Ref meminta kandidat yang tertarik menjadi pejabat video. Sekitar 15 kandidat kemudian lolos ke tahap akhir pelatihan, dan 10 di antaranya akhirnya memimpin pertandingan di Premier League.
Matt Donohue tercatat sudah memimpin sebagai pejabat video untuk “the 65th time” pada hari Minggu, dan perkembangan kariernya membuatnya masuk daftar internasional yang ditunjuk untuk pertandingan kualifikasi kompetisi klub UEFA pada musim panas tersebut.
BBC juga menegaskan bahwa Donohue memang telah berkembang, tetapi “Donohue has received much of the criticism,” sementara statistik menunjukkan dia termasuk jajaran yang relatif jarang melakukan kesalahan besar. Dua VAR dengan catatan paling bersih dalam dua musim terakhir disebut adalah Nick Hopton dan Neil Davies, keduanya lulusan program akselerasi yang sama.
Namun, mengubah kultur kerja wasit—dari lapangan ke ruang VAR—tidak mudah. Bahkan, ketika Lee Mason dan Mike Riley direkrut sebagai VAR full-time Premier League setelah pensiun, keduanya disebut diberhentikan oleh Webb hanya beberapa bulan kemudian karena rangkaian kesalahan.
BBC juga menempatkan contoh dari liga yang memiliki tim VAR penuh, seperti La Liga dan divisi kedua Spanyol, yang memiliki pejabat yang hanya bertugas sebagai VAR dan tidak turun ke lapangan. Meski demikian, kontoversi di sana tetap tidak berbeda dari yang terjadi di Inggris.
Di awal musim lalu, VAR disebut sempat sepenuhnya “missed” kasus pemain yang mencetak gol berada dalam posisi offside saat bola dimainkan. Dengan demikian, masalah serupa bisa muncul di berbagai sistem ketika kontrol proses tidak cukup menangkap detail kritis.
Terakhir, laporan menegaskan bahwa obses terhadap kecepatan berpotensi menggerus pekerjaan yang berlangsung di balik layar. Tetapi persoalan ini juga dipandang sebagai problem sepak bola secara lebih luas, bukan semata-mata kesalahan tindakan VAR.












