jurnalistik.co.id – Nick Kyrgios kini menghadapi situasi serius setelah tes kokain positif, dengan kemungkinan kariernya harus berakhir lebih cepat dari rencana yang pernah ia sampaikan.
Penjaga unggahan sekaligus petenis kontroversial asal Australia itu dites positif untuk metabolit kokain saat menjalani upaya comeback, tepatnya saat mengikuti Mallorca Open pada bulan Juni.
Kyrgios sebelumnya pernah menyatakan ada “zero chance” ia akan bermain tenis hingga memasuki usia 30-an. Namun kini, pada usia 31, hasil tes tersebut berpotensi mengubah arah perjalanan kariernya.
Melalui unggahan di media sosial, Kyrgios mengaku kejadian ini adalah “a huge mistake” dan menyatakan ia bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi.
Ia juga menyoroti kondisi fisiknya belakangan ini. Menurutnya, cedera-cedera yang ia alami kembali berdampak besar, hingga ia hanya bermain di delapan turnamen dan hanya memenangkan dua pertandingan sejak awal 2023.
Akibat proses hukum antidoping, Kyrgios tidak bisa berlaga selama kasusnya belum selesai karena ada penangguhan sementara yang bersifat wajib (mandatory provisional suspension).
Walau Kyrgios menghadapi kemungkinan sanksi hingga empat tahun, durasi larangan bisa dipangkas menjadi maksimal tiga bulan apabila ia mampu membuktikan bahwa zat tersebut dikonsumsi di luar waktu kompetisi (out of competition).
Titik balik: dari cedera ke perhitungan disiplin
Kyrgios dikenal sebagai salah satu petenis yang pernah mencapai level tinggi di ATP Tour. Ia telah meraih tujuh gelar tunggal ATP, dan pada usia 19 tahun di 2014, ia membuat kejutan besar dengan menumbangkan petenis peringkat dunia saat itu, Rafael Nadal, di debutnya di Centre Court.
Delapan tahun berselang, ia menjadi runner-up di Wimbledon. Di era puncaknya, Kyrgios sering tampil sebagai shot-maker yang flamboyan dan atletis, dengan sentuhan serta permainan yang meledak-ledak.
Namun di sisi lain, ia juga kerap menunjukkan perilaku yang sulit diprediksi. Ia pernah destruktif di lapangan dan kerap melakukan tindakan verbal yang menyerang, sehingga konsistensi profesionalitas serta sikap disiplin untuk tetap bertahan di papan atas menjadi tantangan tersendiri baginya.
Catatan kontroversinya juga panjang. Pada 2015, Kyrgios menerima hukuman skorsing 28 hari yang ditangguhkan (suspended 28-day ban) setelah melakukan komentar cabul tentang pacar Stan Wawrinka selama pertandingan di Montreal.
Setahun kemudian, ia dihukum delapan minggu karena perilaku yang dinilai bermasalah—termasuk “lack of best effort”—di Shanghai Masters. Hukuman itu kemudian dipangkas menjadi tiga minggu setelah ia setuju untuk berkonsultasi dengan psikolog olahraga.
Jalan yang makin berliku terjadi pada 2019. Kyrgios didiskualifikasi (defaulted) dari sebuah pertandingan di Italian Open karena melempar kursi ke lapangan. Setelah itu, ia juga dikenai denda $113,000 karena melakukan pelecehan verbal terhadap wasit Fergus Murphy saat bertanding di Cincinnati.
ATP kemudian memberikan skorsing 16 minggu yang ditangguhkan (suspended 16-week ban) terkait “pattern of behaviour” yang berhubungan dengan pelecehan verbal terhadap pejabat pertandingan dan/atau penonton selama 12 bulan sebelumnya.
Berita Terkait
Dalam wawancara untuk serial Netflix Break Point, Kyrgios menyebut 2019 sebagai “I lowest point of my career”. Ia mengatakan, “I was drinking, abusing drugs. I lost my relationship with my family, pushed all my close friends away,” serta “Being bullied at a young age for being short and fat and brown scarred me for sure.”
Ia juga menjelaskan memakai pelindung kompresi untuk menutupi bekas sayatan melukai diri di lengannya, dan pernah menghabiskan waktu di rumah sakit jiwa di London untuk mencoba “figure out my problems”.
Di kesempatan lain, Kyrgios juga bercerita bahwa ia pernah dipaksa keluar dari sebuah pub di Wimbledon Village pada dini hari sebelum pertandingan—tindakan itu disebut dilakukan oleh agennya.
Pada 2024, Kyrgios mengatakan kepada Louis Theroux bahwa ia terkadang mengonsumsi “20 to 30 drinks” sebelum bermain pada keesokan harinya.
Ia juga mengaku terlalu sering bermain basket, termasuk bermain selama satu jam sebelum mengalahkan David Ferrer dalam semifinal Cincinnati Masters 2017. Kyrgios kerap menyampaikan bahwa ia belum mampu “dedicate” hidupnya untuk tenis.
Lebih jauh, ia pernah berkata, “I just enjoy doing whatever I’m doing,” “I don’t eat well. I don’t train just for tennis, I train just for a general happy living – I know it sounds ridiculous, but I play a bit of tennis on the side.”
Proses hukum dan sikapnya terhadap antidoping
Selain urusan olahraga, Kyrgios juga pernah menjalani proses hukum di luar lapangan. Pada 2023, ia mengakui melakukan penyerangan terhadap mantan pacarnya, Chiara Passari, dengan mendorongnya ke trotoar saat pertengkaran di Canberra.
Dalam sidang, pihak magistrate menyebut kejadian itu “a single act of stupidity or frustration” dan memutuskan sparing—yakni menghindarkan Kyrgios dari catatan pidana.
Dalam dua tahun terakhir, ia juga mengambil jarak secara publik dari influencer kontroversial Andrew Tate. Saat ini Tate tengah menghadapi proses ekstradisi ke Inggris dengan tuduhan termasuk pemerkosaan serta pelanggaran terkait sex trafficking.
Kyrgios mengatakan kepada BBC bahwa ia “deleted posts, unfollowed him and gone to all lengths to distance” dirinya dari Tate.
Saat ini, Kyrgios berada di peringkat dunia nomor 919. Ia berencana menjauh dari kehidupan publik selama 28 hari ke depan untuk menjalani “do the work and come back better”.
Proses hukum dan evaluasi antidoping bisa memakan waktu berbulan-bulan. Kyrgios juga dikenal tidak menyukai sistem antidoping tenis. Ia menyebut sistem tersebut “awful,” dan berkali-kali menyatakan pandangannya bahwa Jannik Sinner dan Iga Swiatek menerima hukuman yang terlalu ringan setelah kasus doping berprofil tinggi.
Setelah Sinner menerima skorsing tiga bulan karena tes positif clostebol, Kyrgios menulis, “Sad day for tennis. Fairness in tennis does not exist,”.
Meski begitu, bila Kyrgios memutuskan untuk tetap melanjutkan kariernya hingga usia 30-an, besar kemungkinan hasil akhirnya akan sangat ditentukan oleh proses yang sedang berjalan—proses yang selama ini ia kritik dengan keras.












