Bisnis & Ekonomi

Berhenti dari kerja bergaji £80.000 untuk merintis es krim mochi: pelajaran dari pendiri Little Moons

×

Berhenti dari kerja bergaji £80.000 untuk merintis es krim mochi: pelajaran dari pendiri Little Moons

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I quit my £80,000 job to make ice cream - here's how

jurnalistik.co.id – Vivien Wong, co-founder Little Moons, memilih keluar dari pekerjaan bergaji £80.000 per tahun pada usia 28 tahun untuk merintis bisnis es krim mochi bersama sang kakak, Howard. Keputusan itu berawal dari mimpinya menjalankan usaha sendiri, dipercepat oleh diagnosis kanker ayahnya.

Vivien tumbuh di lingkungan toko roti keluarganya. Sejak lama ia menargetkan satu hari dapat memimpin bisnisnya sendiri, dan ketika momen yang tak terduga datang, ia mengambil langkah untuk mewujudkannya lewat Little Moons.

Ia lalu memulai proses itu dengan cara yang jauh dari gambaran “langsung jadi”. Produk mochi berisi es krim memang kemudian meledak di TikTok, tetapi Vivien menegaskan bahwa kesuksesan yang terlihat seperti “semalam” sesungguhnya dibangun lebih dari satu dekade.

Jangan menunggu produk sempurna

Salah satu kesalahan besar yang ia lihat pada calon pendiri bisnis adalah kebiasaan menunggu semuanya benar-benar ideal. Vivien menyarankan prinsip “80-20 rule”: jangan menunda peluncuran hanya demi kesempurnaan, karena bagian “20” tambahan bisa memakan waktu terlalu lama dan membuat bisnis ketinggalan momentum pasar.

Menurutnya, lebih baik menyiapkan produk sekitar “80% matang”, merilisnya, lalu memperbaiki dari umpan balik. Pola ini juga ia terapkan saat Little Moons mulai berjalan, sampai akhirnya berkembang sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam lima tahun pertama, ia menjual mochi ke restoran dan bioskop. Setelah itu, Vivien menabung sampai cukup untuk berinvestasi pada branding dan kemudian bergerak masuk ke supermarket.

Siap mengubah seluruh rutinitas

Keputusan Vivien untuk berhenti dari pekerjaan bergaji tinggi tidak sekadar soal keberanian, tetapi juga soal pengorbanan yang menyentuh detail kehidupan sehari-hari. Ia meninggalkan kenyamanan lingkungan kerja yang “rapi” di Kota London dan tinggal bersama sang kakak agar bisa menghemat pengeluaran.

Ia menempatkan penghematan sebagai bahan bakar bisnis: uang yang tersisa diarahkan untuk tabungan sekaligus reinvestasi ke perusahaan. Dalam kondisi itu, Vivien mengingat bahwa ia harus mengerjakan hampir semuanya sendiri.

Ia juga menggambarkan perubahan peran yang sangat menyeluruh. Saat menjalankan bisnis sendiri, “All roads lead to you”, sehingga meski ia tidak terlalu kuat di bidang teknologi, ia tetap menjadi kepala urusan IT.

Selain teknologi, ia mempelajari mesin, pengembangan produk, cara membuat es krim, hingga persoalan upah. Ia bahkan mengurus pembukuan perusahaan pada hari Minggu, memilih tidak memakai jasa bookkeeper karena pada saat itu menghemat biaya lebih penting daripada “mencuri kembali” waktu istirahat.

Pahami merek, lalu berani berkata “tidak”

Vivien menekankan pentingnya mengenali identitas merek dan nilai yang ingin dibawa. Baginya, pemahaman nilai merek membuat seseorang bisa menimbang apakah sebuah tren layak diikuti atau justru harus ditinggalkan.

Ia menegaskan prinsipnya dengan cara yang tegas: “Pick and choose what you say yes to and don’t try and do everything. Stay focused, know exactly what you stand for.” Dengan kata lain, pilih prioritas yang selaras dengan tujuan, jangan menyebar karena semua peluang terlihat menarik.

Ia juga memberi peringatan tentang cara menerima nasihat. Vivien mengingat bahwa ia tidak boleh menelan mentah-mentah saran dari para ahli, karena nasihat yang benar untuk bisnis lain belum tentu tepat untuk kondisi yang spesifik.

Dalam praktiknya, ia dan Howard mendiskusikan saran-saran yang mereka terima. Kadang mereka mengambilnya, kadang menolaknya, dan dari proses itulah Vivien merasa keyakinannya tumbuh karena keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan sendiri.

Bekerja dengan keluarga butuh batas

Bagi Vivien, berbisnis dengan saudara kandung adalah kekuatan, tetapi juga tempat munculnya banyak perdebatan. Ia dan Howard harus membangun pola kerja yang menempatkan mereka sebagai rekan kerja, bukan sekadar kakak-beradik.

Ia mengaku bahwa mereka belajar menempatkan satu sama lain seperti kolega di kantor. Tantangannya semakin terasa ketika perusahaan mempertimbangkan perluasan fasilitas dari pabrik seluas 5.000 sq ft ke lokasi 30.000 sq ft.

Perubahan ukuran itu juga membawa lonjakan biaya sewa. Vivien menyebut, sewa tahunan yang sebelumnya sekitar £40.000 bisa naik hingga £500.000, sehingga keputusan bukan hanya soal tempat produksi, melainkan juga soal risiko.

Di titik itu, Vivien lebih bersedia mengambil risiko, sedangkan Howard secara alami lebih berhati-hati. Perbedaan sudut pandang tersebut justru membantu mereka membuat keputusan yang lebih seimbang.

Nasihat Vivien untuk siapa pun yang bekerja dengan keluarga adalah membuat batas yang jelas dalam berinteraksi di tempat kerja. Ia mengingatkan agar tetap menghormati kakak sebagai rekan kerja, sehingga hubungan tetap terkendali dan tidak melebur menjadi dinamika pribadi.

Ia juga menjelaskan bahwa ketika Little Moons sudah memiliki chief executive dan tim kepemimpinan yang lebih luas, mereka berdua menjadi lebih jarang terlibat dalam urusan harian. Situasi itu memberi ruang agar Vivien dan Howard bisa kembali menjadi saudara kandung, bukan selalu berada dalam mode “rekan kerja” sepanjang waktu.

Kesuksesan yang tampak cepat biasanya butuh waktu panjang

Little Moons menjadi fenomena di TikTok selama pandemi, tetapi Vivien menegaskan bahwa banyak orang tidak menyadari perusahaan sudah berjalan sekitar satu dekade sebelum viral. Ia bahkan menyebut narasi yang sering muncul: “Everyone says we’re like an overnight success 12 years in the making.”

Namun sebelum popularitas meledak, perusahaan sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari produksi skala besar, melatih staf, mengekspor produk, dan memasok peritel besar. Persiapan ini, menurut Vivien, menjadi hal yang menentukan ketika permintaan tiba-tiba membengkak.

Ia berpendapat bisnis mungkin tidak akan bertahan pada momen viral itu jika tim dan infrastruktur yang mendukung belum siap. Dengan kata lain, viralitas hanyalah kilatan yang memperlihatkan hasil, tetapi kelangsungan ditentukan oleh kerja yang tidak terlihat.

Vivien merangkum cara pandang itu lewat kalimat yang mengingatkan realitas proses: bisnis adalah gabungan dari banyak hal yang membosankan, serta langkah-langkah kecil yang tampak sederhana. Bagi siapa pun yang melihat pendiri “meledak” di media sosial dalam waktu singkat, ia ingin mereka mengingat bahwa momen yang viral sering kali hanya bagian yang paling terlihat, bukan awal cerita.