Pendidikan

Dokter memperingatkan: RCPCH sebut vaping berisiko bagi anak dan remaja

×

Dokter memperingatkan: RCPCH sebut vaping berisiko bagi anak dan remaja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Vaping could lead to health harm in children and young people, doctors warn

jurnalistik.co.id – Dokter dari organisasi pediatri Inggris memperingatkan bahwa kebiasaan vaping berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang merugikan pada anak dan remaja. Mereka meminta pembuat kebijakan bertindak lebih tegas agar produk ini tidak makin mudah diakses dan menarik bagi kelompok usia muda.

Dalam kajian yang ditinjau melalui proses sistematis, Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH) menelaah sekitar 81 studi terkait vaping. Hasilnya menunjukkan adanya keterkaitan dengan peningkatan masalah pernapasan serta bukti adanya dampak pada bayi ketika ibu menggunakan vape saat masa kehamilan.

RCPCH menegaskan, vaping tidak boleh dipandang sebagai bagian “wajar” dari proses tumbuh kembang. Menurut tinjauan tersebut, anggapan bahwa vaping tidak berbahaya sepenuhnya tidak sejalan dengan data yang tersedia.

Pengkajian ini juga mendorong Pemerintah Inggris untuk melangkah lebih jauh dari rencana pembatasan yang sedang disusun terkait penjualan vape. RCPCH bahkan menyarankan pembatasan jumlah varian rasa yang tersedia, dengan tujuan mengurangi daya tarik produk bagi anak dan remaja.

Kajian RCPCH dipublikasikan di jurnal Archives of Disease in Childhood. Tim di dalamnya memeriksa studi-studi yang membahas luaran kesehatan maupun sosial pada anak dan remaja terkait vaping.

RCPCH menyebut terdapat hubungan yang dikaitkan dengan beragam persoalan, termasuk mengi dan batuk, kondisi kesehatan mulut dan gigi yang lebih buruk, gangguan tidur, masalah kesehatan mental, serta gejala yang memengaruhi area mata. Temuan-temuan ini menjadi dasar kekhawatiran bahwa vaping dapat berdampak lintas aspek kesehatan.

Koautor tinjauan sistematis, Prof Will Carroll, menyatakan bukti yang ada menunjukkan keterkaitan yang “jelas” dengan gejala pernapasan, ketergantungan nikotin, serta kebiasaan merokok setelahnya. Ia juga menegaskan perlunya tindakan: “Kita harus mengambil langkah agar vaping menjadi lebih tidak menarik dan tidak mudah diakses oleh anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden untuk kebijakan RCPCH, Dr Mike McKean, menambahkan bahwa vaping masih merupakan produk yang relatif baru. Ia menekankan bahwa meski dampak jangka panjang terhadap anak dan remaja belum sepenuhnya diketahui, gambaran yang muncul saat ini justru cukup mengkhawatirkan.

Ia menambahkan bahwa upaya pengamanan perlu berjalan seiring perubahan cepat di pasar produk. “Kita perlu menjaga langkah dengan pasar yang berkembang cepat dan terus mengambil tindakan untuk melindungi anak dari produk yang mengandung nikotin,” kata Dr McKean.

Pada bulan Juli, pemerintah meluncurkan konsultasi selama 12 minggu yang menyoroti tampilan, kemasan, dan cara penempatan vape. Tujuannya adalah mengurangi daya tarik produk terhadap anak-anak. Sebagai bagian dari usulan baru, RCPCH menilai arah pembatasan yang ada dapat diperluas.

Menurut rancangan yang sedang dikonsultasikan, kemasan akan dibuat polos dengan pembatasan ketat terkait branding. Selain itu, deskripsi rasa yang diperbolehkan direncanakan hanya berupa keterangan sederhana seperti “apple” atau “cola”. Langkah lain yang dipertimbangkan adalah memindahkan vape agar tidak terlihat di gerai, dengan pendekatan yang mirip dengan bagaimana rokok dan produk tembakau dijual saat ini.

Konsultasi 100 hari tersebut mengikuti pengesahan Tobacco and Vapes Act, yang memuat rencana menuju generasi pertama yang bebas asap rokok. Di bawah aturan ini, anak usia 17 tahun atau lebih muda menghadapi larangan seumur hidup untuk membeli rokok, karena penjualan tembakau akan menjadi ilegal bagi siapa pun yang lahir setelah 1 Januari 2009.

Dr McKean menyebut pengesahan undang-undang itu sebagai langkah penting, tetapi menekankan perlunya tindak lanjut. “Undang-undang baru ini adalah langkah penting untuk melindungi anak dari ketergantungan nikotin, namun jangan dianggap sebagai solusi sekali jalan,” ucapnya.

Prof Carroll juga menilai pemerintah perlu melangkah lebih jauh dengan membatasi jenis-jenis rasa yang tersedia, bukan hanya membatasi cara deskripsinya. Pernyataan ini sejalan dengan kekhawatiran bahwa pilihan rasa dapat menjadi faktor pendorong daya tarik produk pada kelompok usia muda.

Perdebatan mengenai risiko vaping juga disorot oleh data penerimaan di kalangan remaja. Dalam sebuah jajak pendapat untuk lembaga amal Action on Smoking and Health (Ash), hampir satu dari lima remaja berusia 11 hingga 17 tahun di Inggris pernah mencoba vaping. Hazel Cheeseman, CEO Ash, menyatakan, “Bukti tetap jelas bahwa vaping lebih tidak berbahaya dibandingkan merokok, tetapi tidak bebas risiko.”

Hazel Cheeseman menambahkan bahwa kontrol kuat terhadap pemasaran dan promosi menjadi kunci pengurangan praktik vaping pada kalangan remaja. Ia menggarisbawahi bahwa pendekatan pengendalian diperlukan agar produk tidak semakin meluas melalui strategi promosi.

Andrew McCracken dari charity Asthma + Lung UK menekankan sisi peringatan yang sama. Ia menyatakan: “Vape dapat memainkan peran penting bagi perokok yang ingin berhenti, tetapi siapa pun yang tidak merokok, tidak seharusnya menggunakan vape, dan hal ini terutama benar bagi anak-anak.”

Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial Inggris juga menyampaikan pesan tegas. Mereka menyatakan bahwa anak-anak seharusnya tidak pernah vaping, dan bukti yang dikumpulkan menunjukkan sebagian dari risiko yang terkait dengan kebiasaan tersebut.

Dalam keterangannya, juru bicara departemen tersebut menegaskan: “Kami sudah melarang vape sekali pakai dan juga telah menetapkan aturan untuk melarang iklan serta sponsor mulai tahun depan.” Ia menambahkan bahwa pemerintah juga sedang berkonsultasi mengenai usulan untuk menekan kemasan yang dinilai menarik bagi anak-anak.

Secara keseluruhan, RCPCH menempatkan vaping dalam sorotan kebijakan kesehatan anak sebagai isu yang memerlukan pengetatan, terutama dari sisi akses dan daya tarik. Rekomendasi mereka—mulai dari pembatasan rasa hingga pengendalian yang lebih jauh atas paparan—berangkat dari rangkaian bukti yang menunjukkan keterkaitan dengan gangguan kesehatan pada anak dan remaja.