Pendidikan

“Saya ingin hidup normal, tapi menjadi perawat muda berarti pengorbanan” (17 tahun)

×

“Saya ingin hidup normal, tapi menjadi perawat muda berarti pengorbanan” (17 tahun)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'I'd love a normal life, but being a young carer means sacrifices'

jurnalistik.co.id – Bagi Ava-Grace Britton, hidup yang “normal” bukan sesuatu yang jauh. Namun sejak menjadi young carer, ia harus menerima serangkaian pengorbanan yang memengaruhi rutinitas, pendidikan, dan cara ia memikirkan masa depan.

Remaja 17 tahun itu sedang menempuh studi akting di perguruan tinggi di London utara. Ia mengaku menyukai kegiatan keluar rumah, bertemu teman, dan berharap bisa kuliah tahun depan.

Di luar harapan-harapan umum remaja seusianya, Ava-Grace juga memiliki tanggung jawab besar: merawat ayahnya, Paul, yang menghadapi gangguan mobilitas dan memori setelah rangkaian stroke yang terjadi delapan tahun lalu.

“I worry about him all the time,” kata Ava-Grace kepada BBC. Sebelum ia berangkat kuliah, ia membantu ayahnya, dan pada sebagian besar hari ia harus segera pulang untuk memastikan perawatan tetap berjalan.

Peran itu dijalankan bersama ibunya, Karen. Bersama-sama, mereka memantau kadar glukosa darah Paul, memberikan obat, serta ikut membantu urusan makan malam dan pekerjaan rumah yang perlu ditangani.

Ava-Grace bukan satu-satunya. Data sensus secara resmi memperkirakan ada sekitar 130.000 carers yang berusia di bawah 18 tahun di Inggris dan Wales. Namun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak young carer yang tidak terlihat.

Carers Trust memperkirakan jumlahnya bisa mencapai 1 juta young carer di bawah 18 tahun, dengan tambahan sekitar 500.000 orang berusia 18 hingga 25 tahun. Pada beberapa kasus, tanggung jawab perawatan bahkan setara lebih dari 50 jam per minggu.

Konsekuensinya tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Banyak young carer mengalami dampak pada kesempatan sosial dan peluang akademik.

Gangguan kesehatan yang menuntut perawatan harian

Cerita Paul berkaitan dengan awal mula masalah kesehatan yang membawa keluarga itu pada perubahan besar. Stroke yang dialami Paul terjadi setelah infeksi sepsis yang ia dapatkan setelah memotong jempolnya saat bekerja.

Kondisinya kemudian makin rumit oleh diabetes yang membutuhkan pemantauan ketat. Perburukan kesehatannya membuat Paul harus berhenti bekerja sebagai insinyur bor (borehole engineer).

Kini, Ava-Grace dan Karen merawat Paul secara penuh waktu. Karen, yang juga menjalankan amalnya sendiri, menyelenggarakan lunch clubs untuk lansia dan kelompok rentan.

“It turned our life upside down,” ujar Karen. Ia menyebut Paul menghabiskan tiga bulan di rumah sakit dan masa rehabilitasi, dan ia tidak tahu bagaimana keluarga mereka bisa bertahan tanpa Ava-Grace.

Dalam prosesnya, Ava-Grace mengatakan bahwa peran merawat menuntut pertukaran yang tidak sedikit. “You have to make sacrifices. I can’t do all the things my friends do,” katanya.

Ia menceritakan bahwa pernah ada waktu ketika ia benar-benar menikmati menari dan sempat membayangkan bisa mulai ikut bertanding. Tetapi ia menilai komitmen waktunya akan sangat besar, sehingga hal itu tidak mungkin dilakukan.

Di sisi lain, ia juga harus beradaptasi di lingkungan sekolah. Saat berkuliah, ia berkali-kali harus pindah sekolah karena perundungan dan kesulitan kehadiran yang dipengaruhi tanggung jawab perawatan serta epilepsi yang harus ia kelola.

Ava-Grace menyampaikan kekhawatirannya tentang masa depan. “I worry about the future,” katanya. Ia ingin melanjutkan kuliah, tetapi tidak membayangkan untuk tinggal jauh dari rumah.

Baginya, keputusan itu bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ia menegaskan bahwa ayahnya membutuhkan dirinya. “I really want to go to university, but can’t imagine going anywhere too far from home. I know my dad needs me,” tambahnya.

Tuntutan perawatan mengubah cara remaja beraktivitas

Lebih dari setengah young carer, termasuk Ava-Grace, memberikan dukungan kepada orang tua. Selebihnya, mayoritas merawat saudara kandung atau kakek-nenek.

Carers Trust juga mencatat adanya kenaikan besar pada young carer yang tidak merawat orang tua dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu pemicunya adalah krisis biaya hidup yang membuat orang tua harus memprioritaskan pekerjaan demi mencari penghasilan, sehingga anak-anak terpaksa merawat anggota keluarga lain.

Ketika perawatan menjadi rutinitas, bersosialisasi dan mengejar hobi menjadi sulit. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko perundungan, ketidakhadiran di sekolah, bahkan hingga skorsing.

Sejumlah dampak pendidikan juga disebut dalam laporan. Data dari Department for Education menyatakan bahwa young carer 25% lebih kecil kemungkinannya untuk meraih lima lulus GCSE termasuk Bahasa Inggris dan Matematika, dibandingkan remaja lain seusia.

Akibatnya, young carer dua kali lebih mungkin berada di luar pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan selama dua tahun atau lebih. Dengan kata lain, perubahan yang mereka hadapi sejak remaja dapat terus berlanjut dalam pilihan hidup setelahnya.

Dukungan tersedia, tetapi belum merata

Meski demikian, ada bentuk dukungan. Young carer berhak mendapatkan penilaian dari dewan setempat untuk melihat dampak pada kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

“When young carers get these it can make a real difference,” kata Andy McGowan, lead young carers di Carers Trust. Namun ia menekankan bahwa proses identifikasi sering kali berjalan lama.

“But it takes many years of caring before they are actually identified,” tambah McGowan. Setelah itu pun, ia menyebut dukungannya sering tidak konsisten. “And then the support in place to help is patchy, it really depends on where you live,” ujarnya.

McGowan juga pernah menjadi young carer untuk kedua orang tuanya. Ia mengatakan bahwa sekalipun bantuan diberikan melalui respite breaks, dukungan teman sebaya, dan konseling, akar masalah tetap sering tidak ditangani.

Masalah utamanya adalah tuntutan perawatan yang diletakkan pada anak-anak muda. Ia menilai ambang batas untuk mendapatkan adult social care dari dewan terlalu tinggi, sehingga banyak orang tidak menerima bantuan.

“The threshold to get adult social care from councils to relieve the caring burden is so high, many don’t get help. Until that is addressed, the inequalities young carers face will not be tackled,” kata McGowan.

Menurutnya, NHS juga bisa melakukan lebih banyak. Ia khususnya menyoroti perawatan pencegahan dan dukungan dini untuk persoalan seperti penyalahgunaan zat dan kesehatan mental, yang juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi pada beban tanggung jawab perawatan.

“Often young carers are left to fight their own battles for too long – and so school and their own health come second,” ucapnya.

Pada bulan Juli, pemerintah menerbitkan action plan untuk unpaid carers yang memuat langkah-langkah guna mendukung young carers. Di antaranya termasuk peningkatan bantuan di sekolah serta dukungan yang terintegrasi antara NHS, social care, dan pendidikan.

Bagian lain di Inggris juga memiliki kebijakan tersendiri. Di Skotlandia, misalnya, terdapat young carers’ grant khusus.

“Through our new national care service, this government is determined to build a system that recognises the extraordinary contribution of unpaid carers, supports them better and, in particular, helps young carers,” kata seorang juru bicara pemerintah kepada BBC.

Harapan keluarga: bantuan datang lebih cepat

Bagi keluarga Britton, kebutuhan akan bantuan tidak bisa datang terlalu cepat. Karen mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak perawatan pada Ava-Grace.

“I worry about the impact caring has on Ava-Grace,” katanya. Menurut Karen, anaknya harus cepat menjadi dewasa, namun ada sisi yang juga membuat Ava-Grace lebih tenang dan matang dibanding sebagian gadis lain seusianya.

Meski begitu, Ava-Grace dan young carer lain tetap membutuhkan bantuan serta pemahaman yang lebih besar. “But Ava-Grace and others like her need more help and understanding,” ujar Karen.

Di tengah keinginan untuk menjalani masa remaja secara utuh, ceritanya menunjukkan satu hal yang berulang: menjadi young carer bukan pilihan sederhana, melainkan komitmen yang menuntut pengorbanan nyata.