Olahraga

Razaullah ‘Razball’ membawa Pakistan bergelora saat menghadapi Inggris di hari ketiga Edgbaston

×

Razaullah ‘Razball’ membawa Pakistan bergelora saat menghadapi Inggris di hari ketiga Edgbaston

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Razaullah: 'Razball' reigns as Pakistan thrive in chaos against England on day three at Edgbaston

jurnalistik.co.id – Pakistan melangkah ke hari keempat Edgbaston dengan napas yang jauh lebih hidup setelah debitannya, Razaullah, menyuguhkan perlawanan penuh daya ledak melawan Inggris pada hari ketiga.

Rangkaian rencana rombongan yang sedianya bergerak dari satu tempat wisata ke tempat lain harus dibatalkan, di tengah situasi yang mendadak berubah: pertandingan yang semula terlihat makin berat bagi Pakistan justru berbalik oleh satu nama yang baru muncul di panggung level tertinggi.

Di tengah pembaruan skuad yang dilakukan Pakistan menuju laga terakhir, Razaullah—raw 21 tahun dengan delapan pertandingan kelas pertama di belakangnya—masuk dan langsung mengubah ritme batting Inggris yang selama ini mereka kendalikan.

Pada fase yang menuntut ketenangan, ia justru bermain dengan keberanian yang mengesankan. Datang di nomor sembilan, Razaullah mengukir 81 dari 63 bola, sebuah innings yang menempatkan Pakistan kembali dalam perhitungan, sekaligus membangkitkan keyakinan pendukung yang datang ke stadion.

Angka-angka itu menjadi bagian paling mencolok dari ceritanya. Razaullah mencetak sembilan six, yang menjadi rekor bersama untuk jumlah six terbanyak dalam satu innings Tes yang terjadi di Inggris—samanya seperti yang pernah ditorehkan Ben Stokes saat mencetak 155 melawan Australia pada Ashes 2023.

Gerak pukulnya juga membuat penempatan lapangan tampak kurang efektif. Pada satu momen, Joe Root terlihat seperti pemain catur yang menunggu giliran tepat: ia mengerahkan delapan fielders di sisi boundary, namun Razaullah tetap melaju dengan gaya yang nyaris tak terganggu.

Secara keseluruhan, pertarungan itu memperlihatkan tabrakan dua karakter: ketangguhan batin Pakistan yang enggan menyerah, dan keberanian seorang debutan yang memaksa tempo berganti. Di papan skor, suasana yang sebelumnya “terlalu liar” untuk dibaca lawan berubah menjadi titik balik—membuat Bazball seolah kehilangan sebagian daya prediksinya, setidaknya untuk malam itu.

Shan Masood menyumbang 95 dengan pendekatan yang rapi dan penuh disiplin, sedangkan kapten Babar Azam mencatat 76. Namun magnet terbesar perhatian tetap pada Razaullah, karena ia bukan sekadar mengisi kekosongan, melainkan menyulut perubahan psikologis: keberanian yang memecah kebuntuan serta memberi ruang bagi Pakistan untuk kembali bersuara.

Ramiz Raja—mantan kapten Pakistan—menilai karakter yang ditunjukkan Razaullah sebagai sesuatu yang dibutuhkan tim. Ia menyampaikan, “It’s the first time he’s been out there for Pakistan ever, and absolutely lights up the show. This is the attitude that was needed,” dan menambahkan, “Someone with a strong body language and who believes in himself. They’ll want him playing all formats because he’s a natural in mind, body language and attitude. It was a tremendous fightback.”

Kalangan pengamat juga menangkap bagaimana innings itu memperlihatkan unsur flamboyan yang mengingatkan pada sosok-sosok terdahulu. Sebagian cara bermainnya bahkan disebut memiliki nuansa Shahid Afridi dan Saeed Anwar, terutama ketika pukulan-pukulan kerasnya melesat ke berbagai sisi lapangan.

Menariknya, kebebasan itu tidak muncul dari situasi yang “nyaman”. Pakistan datang dengan jarak yang lebar, berada dalam tekanan untuk menyerah, dan faktanya pertandingan sempat terlihat mengarah ke satu arah setelah Inggris menorehkan 453. Namun, justru karena tertinggal jauh dan dianggap bakal tumbang, Pakistan—dengan Razaullah sebagai pemicu—mendapat momentum emosional yang jarang terlihat sepanjang seri ini.

Upaya perlawanan Pakistan mencapai bentuk paling nyata setelah mereka melesat 133 tepat setelah makan siang pada Rabu. Dari hari pertama yang berujung pada “surrender” yang tampak ringkih, hari ketiga berubah menjadi kisah kebangkitan: kini Pakistan berada dalam posisi lebih gelap-terang dibanding sebelumnya.

Di momen penutup hari ketiga, angka kebutuhan pun berubah menjadi pembuka peluang. Teks pertandingan menyebut Inggris membutuhkan 130 untuk memastikan hasil akhir, sementara Pakistan harus mempertahankan 129. Dengan sisa permainan, peluang itu tidak hilang—bahkan menghidupkan harapan untuk kemenangan yang paling tidak terduga.

Michael Vaughan, mantan kapten Inggris, merangkum perubahan tersebut dengan nada yang menegaskan keberanian Pakistan. Ia berkata, “England are going to win this Test match, I’m sure,” lalu menambahkan, “But, Razaullah has given Pakistan cricket some hope. They’ve unearthed a gem and he will be a superstar for many years.”

Kisah ini juga lengkap dengan detail dramatik pada saat Razaullah akhirnya keluar. Ia sempat mendapat “reprieved lbw” dari Dan Lawrence, lalu ketika bola berikutnya datang, ia bergerak menari ke arah pitch dan akhirnya tersingkir melalui stumped. Kerumunan merespons kepergiannya dengan sorak hangat—seolah teater itu tidak berakhir pada sekadar ketertelanjangan, melainkan pada pengakuan atas dampak yang sudah ia buat.

Dalam bayangan pertandingan yang terus berputar, memori tentang jalur kariernya sempat tersinggung. Jika ia tidak dipanggil, ia mungkin tengah bermain untuk Cleethorpes di liga kriket Southern Premier, bahkan dengan kontrak untuk musim 2026, sebelum kemudian panggilan negara mengubah arah. Kini, panggilan itu dibayar dengan innings yang menulis ulang cara orang melihat Pakistan di Edgbaston.

Vaughan juga menilai Inggris akan meninjau ulang taktik mereka setelah kejadian ini. “There wouldn’t be any person in the world that would’ve thought we’d go to day four,” ujarnya, sambil menekankan bahwa atmosfer pergolakan adalah ciri yang selalu dibawa Pakistan: “That is what Pakistan cricket is. They have had a difficult few weeks. The team has been in turmoil. That is why I love Pakistan cricket.”

Ia menutup dengan penilaian teknis yang memperlihatkan bagaimana momen-momen pendek bisa jadi salah arah: “England will look back at a lot of the tactics and realise they got it wrong. The short stuff, one over of spin, the second new-ball with the spinner. That day today will make the England team realise there is a long way to go to be world class.”